READING

Setia Isi Toples Lebaran, Pesanan Emping Melinjo M...

Setia Isi Toples Lebaran, Pesanan Emping Melinjo Meningkat

KEDIRI – Menjelang lebaran, hal yang umum selain berbelanja pakaian adalah berbelanja berbagai jajanan untuk mengisi toples-toples yang ada di setiap ruang tamu. Salah satu jajanan favorit yang kerap ditemukan di rumah-rumah adalah keripik emping melinjo yang rasanya gurih dan nikmat ini. Keripik ini terbuat dari biji melinjo yang ditumbuk halus dan dikeringkan. Menjelang hari raya seperti ini, beberapa pabrik pembuatan keripik emping pun laris dan produksinya pun meningkat daripada hari-hari biasanya.

Salah satu pembuat keripik emping yang jelang lebaran ini laris pesanan adalah tempat produksi milik Aliyul di Desa Parelor, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Pemesan tidak datang hanya dari wilayah Kediri dan Jombang saja, namun sampai Surabaya hingga Malang. “Tidak sulit memasarkan emping ini ketika jelang lebaran, karena banyak tengkulak yang ambil untuk dipasarkan di luar kota,” ujar pria yang biasa disapa Ali ini.

Pemesan terbanyak luar kota berasal dari wilayah Jombang karena pabrik milik Ali ini berada di perbatasan Kediri-Jombang. Dengan banyaknya pesanan jelang lebaran ini, Ali menerangkan sekali produksi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi daripada hari-hari biasa. Pada jelang lebaran seperti saat ini, Ali dan para pegawainya bisa memproduksi lebih dari 0,5 ton melinjo untuk dijadikan keripik emping. “Biasanya setiap jelang lebaran atau satu bulan puasa kami bisa produksi hingga 30 ton,” ungkapnya.

Walaupun pesanan keripik emping cukup tinggi jelang lebaran, namun Ali mengaku tidak kesulitan dalam mencari bahan baku melinjo. Terlebih menurutnya Kecamatan Kunjang memang banyak ditemukan kebun melinjo yang siap menyetok bahan baku bijinya untuk perusahaannya tersebut. Selain itu di sepanjang jalan raya Kunjang pun di pinggir jalan juga mudah ditemukan pohon melinjo yang biasa menjadi bahan baku emping. “Karena memang bupati terdahulu punya program menanami pinggir jalan di Kunjang dengan banyak pohon melinjo. Ini membantu bahan baku kami,” ujar pria berumur 55 tahun ini.

Karena tingginya pesanan jelang lebaran, dia juga telah menyiapkan bahan baku stok dari luar Kota. Stok melinjo itu dia ambil dari sekitar Kota Banten dan Cirebon. Selain menyiapkan bahan baku cadangan yang diambil dari luar kota, karena saking kuwalahannya dalam memenuhi pesanan keripik emping, Ali mengaku bahwa kini beberapa pesanan dia alihkan pada temannya sesama pembuat keripik emping di wilayah Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. “Sampai tidak kuat kami jika produksi sendirian,” ungkapnya.

Selain jelang hari raya, Ali menerangkan bahwa produksi keripik emping ditempatnya mulai meningkat biasanya ketika musim nikahan dilakukan. Di musim nikahan itulah banyak keluarga yang datang ke tempat pembuatan keripiknya untuk memesan emping dalam kuantitas besar. “Alhamdulillah pesanan kami selama ini lancar,” terang Ali. Adapun dalam memasarkan emping melinjo ini. Ali mengaku mengemasnya dalam ukuran 4 kg. Per-kilonya biasa dia jual dengan harga Rp 40 ribu. Setelah dilakukan pengemasan, biasanya emping siap dipasarkan pada pelanggannya di pasar-pasar di wilayah Kediri, Jombang, Lamongan, Gresik, hingga Surabaya. Tak hanya itu beberapa kesempatan kala diundang pameran UMKM dia juga kerap ikut mewakili desa dan kecamatannya sebagai produk unggulan. “Cukup menguntungkan, terlebih kulit melinjonya juga masih laku dijual di pasar untuk  bahan sayuran,” tegasnya. (Moh. Fikri Zulfikar)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.