READING

Si Mata Merah di Belakang Kafe Yang Mengawasi Kami

Si Mata Merah di Belakang Kafe Yang Mengawasi Kami

ENAM orang dengan tiga diantaranya cewek itu sontak merapatkan badan saat Santi (nama panggilan) bergumam, dari belakang kafe muncul sosok putih bermata merah yang lagi mengawasi mereka.

Ardian (nama samaran) yang biasanya paling ngocol, seketika terdiam. Awalnya, mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Malang itu, masih berusaha melucu, menganggap semua itu hanya omongan awu awu.

Ia mencoba menegasikan semua ketegangan itu dengan candaan. Namun mukanya mendadak pucat pasi saat gelas kopi di depannya tiba tiba seperti ditampar. Gelas berisi cairan kafein panas itu oleng dengan sebagian isi menumpahi kaki.

“Juh !, “makinya disusul reflek berjingkat jingkat menahan pedih kepanasan. Yang merusak nalar sehat, gelas beling yang harusnya menggelinding jatuh itu kembali berdiri tegak seperti semula.

Seperti gerakan mengingatkan, Santi yang duduk anteng tiba tiba menuding nudingkan telunjuk ke arah muka Ardian. Cewek ceking berkulit cerah yang dikenal memiliki sixth sense itu tidak bersuara. Hanya telunjuknya saja yang melambai dua kali.  

Melihat itu Joni dan Tri langsung membekap mulut berusaha meredam geli. Namun begitu melirik Santi yang pandangannya dingin, datar sekaligus kosong, tawa keduanya batal meledak.    

Ardian sebenarnya bukan tipikal lelaki penakut. Setidaknya ia pernah memiliki pengalaman sendirian menunggui kakeknya saat sakaratul maut, karena kerabat orang tuanya masih dalam perjalanan.

Ardian menyaksikan dengan mata kepala bagaimana kaki kakeknya tiba tiba mengejang, dan nafas yang kembang kempis dari kerongkongan tipis itu berangsur angsur mengempis.

Dengan tenang ia tutupkan selembar kain jarik motif gajah mada sambil mengucap lirih inalillahi waina ilaihi rojiun, baru kemudian melangkah keluar memberi tahu orang tuanya yang tertidur kecapekan. Eyang sudah pergi.    

Bersama sejumlah orang yang berumur lebih tua, ia yang masih SMP juga pernah ikut mengemit (menjaga) kuburan tetangganya yang meninggal pada malam Jumat Kliwon sampai 40 hari.

Konon, kafan yang dipakai membungkus orang orang yang mati pada Jumat Kliwon rawan dicuri orang untuk niat jahat.

Yang paling tidak bisa Ardian lupakan adalah treatment memerangi rasa takut yang diberikan ayahnya. Setiap dirinya curhat soal bulu kuduk yang meremang, ayahnya selalu mengucapkan narasi yang sama.

“Lelaki itu pantang takut. Kalau rasa takut itu datang, pegangi bijimu. Maka rasa takutmu akan hilang.”. Petuah yang sebenarnya untuk mengingatkan bahwa lelaki dilarang takut itu menancap kuat di batok memorinya.

Malam itu Ardian ingin meraba bijinya yang lagi mengerut gara gara kaget kakinya tersiram kopi panas. Berhubung tempat duduk Santi, Fita, Fitri, dan Umi hanya berjarak sejengkal, ia memilih pura pura memasukkan tangan ke dalam saku celana.

“Dia datang kemari, “kata Santi dengan nada lirih. Tidak ada yang bersuara. Fita memilih membenamkan muka dibelakang punggung Umi. Sementara Umi sendiri menarik narik tangan Fitri mengajak pulang, namun Fitri menolak karena gerimis belum sepenuhnya berhenti.

Sejak maghrib hujan mengguyur bumi proklamator. Hujan yang ditunggu banyak orang, terutama kaum agraris untuk bercocok tanam memang sudah waktunya mengguyur.

Didahului kelebat kilat yang disusul gelegar yang memekakkan telinga, listrik padam. “Asem, peteng!, “umpat Joni spontan sembari menyodok pundak Tri agar tidak terlalu merapat.

Suasana malam otomatis semakin mencekam. Untungnya di tempat mereka menikmati kopi dan menyantap mie goreng telur itu, tidak ada genting yang bocor.

Tiga orang pengunjung kafe sebelumnya nekat pulang setelah air hujan merembes dari talang diatas tempat duduk mereka. Untungnya pelayan kafe membawakan dua batang lilin yang sudah menyala.

Pendar cahaya lilin lumayan mengurangi suasana yang mencekam. “Seperti apa sosok itu?, “celetuk Ardian memberanikan diri memecah keheningan. Ia berusaha mengubah nyali marmutnya menjadi keberanian seekor singa.

Ardian percaya gaib itu ada. Jin, iblis, setan, arwah gentayangan dan semacamnya memang berdampingan dengan kehidupan manusia, begitu pelajaran keimanan yang pernah ia peroleh.

Namun bukan berarti entitas mereka bisa dengan seenaknya menakut nakuti manusia. Terkadang saat diskusi dengan enteng ia menyebut hal hal  yang menyangkut dunia astral sebagai wujud cara berfikir logika mistika.

Meskipun demikian dirinya tidak juga otomatis menyepakati premis, “Tanpa benda, tak ada energi. Dan energi atau kodrat semata mata tak bisa menimbulkan benda”.  

Setelah sepeminuman kopi terdiam, Santi kembali menyuara. “Sosoknya tinggi, tertutup kafan yang tidak putih lagi dengan bagian diatas kepala membentuk ikatan. Dari matanya yang kemerahan sepertinya lagi jengkel, “katanya dengan nada yang masih sama.

“Dan dia sudah disini. Dekat dengan kita, “sambungnya tanpa menjelaskan lebih dekat dengan posisi siapa. Semuanya semakin membisu. Dari cahaya lilin yang meliuk liuk digoyang angin, wajah Ardian terlihat tegang. Begitu juga dengan Joni, Tri, Fitri, Fita dan Umi.

Sebenarnya mereka tidak merasakan apa apa. Kecuali mie goreng dan harum kopi serta sisa puntung rokok di tumpukan asbak, mereka juga tidak mencium aroma yang mengarah pada kehadiran makhluk astral itu.

Hanya saja pikiran mereka telah hanyut ke dalam kata kata Santi, tentang sosok pocong bermata merah, buruk rupa dan sedang marah.

“Katakan, kita tidak berniat menganggu. Alam kita beda. Dan disini kita hanya ingin bersantai minum kopi, “seloroh Ardian kembali memberanikan diri.

Sebelumnya keenam remaja ini memang berniat iseng. Setelah bahan bercanda habis dipercakapkan, kelimanya yang diawali Ardian, meminta Santi membuktikan kemampuannya melihat dunia lain.

Dilingkungan teman temanya Santi dikenal memiliki indra keenam. Ia terlahir sebagai bocah indigo yang sejak kecil kerap menangis sendiri karena melihat hal hal diluar nalar.

Malam itu mereka  meminta Santi menerawang situasi di belakang kafe. Bahkan bila perlu mengundang tamu dunia lain itu mendekat. Meski berlokasi di pinggir jalan raya dan berhimpitan dengan permukiman, sisi belakang kafe merupakan lahan kosong yang bersebelahan dengan sungai kecil.

Kabar yang berkembang di masyarakat sekitar, kawasan itu wingit (angker). Banyak cerita bagaimana  orang orang yang pulang malam kerap lari terbirit birit karena berjumpa hantu pocong.

Konon seusai bermain di sekitar sungai, anak pemilik kafe pernah tiba tiba sakit diluar nalar dan baru sembuh setelah dibawa ke orang pintar. Ada versi yang mengatakan, pada tahun 65, di sungai itu banyak mengapung mayat yang diduga korban pembantaian.

Santi tiba tiba mengangguk angguk sendiri, lalu tubuhnya sedikit membungkuk layaknya gestur mempersilahkan orang yang berpamitan. Kali ini air mukanya kembali ceria seperti saat baru datang memesan kopi dan mie goreng telur mata sapi.

“Sudah. Sosok itu sudah pergi, “katanya singkat. Entah kebetulan atau memang ada kaitan, usai Santi mengatakan itu, listrik tiba tiba kembali menyala.

Jarum jam sudah menunjuk pukul 23.00 WIB. Namun diluar gerimis belum sepenuhnya habis. Umi kembali menjawil lengan Fitri, mengajak pulang dan kali ini semua mengiyakan.

Hampir saja menu yang sudah dinikmati malam itu lupa dibayar. Saat mobil hendak meninggalkan kafe, Ardian sempat menangkap perubahan air muka Santi yang tersenyum sendiri, sedikit menganggukkan kepala, serta melambaikan tangan keluar. Entah kepada siapa. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.