READING

Siasat Petani Kacang Banyuwangi Hadapi Pandemi Cor...

Siasat Petani Kacang Banyuwangi Hadapi Pandemi Corona

BANYUWANGI – Pandemi Covid-19 tak menunda para petani kacang di Banyuwangi untuk memetik hasil. Selain dijual, panen mereka disimpan sebagai persediaan di tengah sergapan wabah corona.

Musim panen dialami petani kacang dan jagung di lahan Perhutani KPH Banyuwangi Utara. Setelah menunggu hingga empat bulan, panen mereka melimpah seperti yang diharapkan. “Musim tanam kacang ini sangat bagus, sehingga panennya juga bagus,” kata Sanawi, petani kacang di Kampung Papring, Kelurahan Kalipuro, Banyuwangi kepada Jatimplus.ID, Kamis 16 April 2020.

Di atas lahan seperempat hektar, Sawani menanam komoditas kacang bersama warga dan keluarganya. Hari itu, mereka memanen kacang dengan gembira. Dengan cekatan tangan mereka mencabut kacang dari dalam tanah, untuk kemudian dipisahkan dari biji dan batangnya. Menurut Sanawi, proses memanen ini akan berlangsung selama 2-3 hari.

Ada 15 orang yang bekerja membantu Sanawi mencabut kacang dengan upah menarik. Selain uang, setiap pemanen juga berhak atas kacang yang mereka cabut. “Untuk upah mereka, kami biasanya menggunakan takaran kaleng (18 liter) atau ember. Per kaleng upahnya Rp 5.000 – 7.000,” kata Sanawi.

Musim tanam kali ini termasuk bagus. Tekstur tanahnya gembur dengan curah hujan normal. Dari seperempat hektar lahan, bisa menghasilkan 10 kwintal kacang tanah siap jual. Saat ini harga jual kacang di pasaran berkisar Rp 7.000 – 12.000 per kilogram untuk kacang tanah kulit basah.

Namun ada yang berbeda dari musim tanam kali ini dengan musim tanam sebelumnya. Jika sebelumnya mereka menjual seluruhnya kacang tanah itu kepada tengkulak, kali ini sebagian disimpan sendri. “Sebagian kami simpan untuk bibit dan persediaan selama masa pandemic ini,” ungkap Sanawi.

Mereka menyimpan kacang tanah layaknya harta berharga. Apalagi kacang tanah termasuk komoditas pertanian yang paling diburu menjelang hari raya Idul Fitri. Berbagai makanan lebaran banyak menggunakan kacang tanah sebagai bahan baku. Sehingga harga jualnya bisa dipastikan naik setiap bulan ramadhan.

Meski dalam situasi pagebluk, para petani kacang ini masih menyimpan harapan yang lebih baik. Apalagi Sanawi juga menanam kacang di tempat lain yang dikerjakan secara “keroyokan”.

Keputusan untuk tak menjual kacang kepada tengkulak juga dilakukan Munali, petani kacang di Papring Kalipuro. Munali bahan tak melepas sebutir kacangpun kepada tengkulak. Selama ini ia memanfaatkan hasil tanamnya untuk kebutuhan sendiri dan dibagikan ke tetangga. “Dari dulu saya tidak pernah menjual hasil panen. Diberikan pada tetangga dan menyimpannya,” kata Munali.

Dalam kondisi wabah Corona seperti saat ini, Munali mengaku tak punya banyak pilihan untuk mencari penghasilan. Sebagai petani, ia hanya mengandalkan lahan untuk bercocok tanam. Apapun ia tanam sebagai bekal bertahan hidup bersama keluarga.

Penulis: Widie Nurmahmudy
Editor: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.