“Sihir” Tabebuya di Surabaya

SURABAYA- Bunga Tabebuya Chrysotricha tengah bermekaran. Dengan kemekaran 3  hingga 11 cm yang padat dan rata, sejumlah jalan protokol di Surabaya “tersihir”, menjelma bak kawasan negeri matahari terbit.

“Surabaya jadi (terlihat) romantis, “tutur Fikser akun di media sosial seperti dilansir dari tribunnews.com.

Apalagi bersama jatuhnya gerimis hujan. Pohon asal Brasil yang juga dipanggil Pink Trumpet Tree, Tabebuya impetiginosa atau pohon ungu trumpet, seperti mengundang aura romantis.

Basah air yang menimpa kelopak bunga berwarna putih, merah muda, kuning, lavender, ungu dan merah, terlihat semakin memikat. Tanpa menunggu lama, jeprat jepret telepon selular langsung mengantarkan Tabebuya viral di media sosial.

Selain indah, kulit bagian dalam tanaman ini dipercaya memiliki sifat obat sekaligus bisa menjadi minuman teh dengan nama Lapacho atau tahibo.

Kulit lapacho juga bisa digunakan untuk mengatasi flu dan musim dingin. Termasuk juga berkhasiat meredakan batuk para perokok. Di masyarakat Amerika Latin Lapacho berperan penting dalam pengobatan tradisional.

Pada tahun 1980 Lapacho disebut mampu meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dan AIDS.

Tabebuya yang berasal dari keluarga Bignoniaceae juga memiliki sifat antibiotik dan desinfektan. Dicontohkan di India. Sejumlah pria disana menggunakan teh Lapacho untuk mengobati penyakit akut. Juga dipakai melawan pneumonia pneumocystis penyakit AIDS.

Hanya saja, dalam kandungan aktif utamanya terdapat unsur apachol, yakni toksisitas yang pada takaran tertentu bisa mengakibatkan kematian, termasuk efek terapeutik bagi manusia.

Bunga Tabebuya yang berwarna merah muda memiliki karakter mirip Sakura, yakni mekar tepat di musim penghujan.

Gagasan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini lah yang membawa Tabebuya bisa  berderet di kawasan Marmoyo, yakni depan kebun binatang hingga jalan Diponegoro.

Tepatnya  sejak tahun 2010. Agar Surabaya terlihat lebih asri, Risma mengeluarkan semua pohon yang ada di Kebun Bibit yang sekarang bernama Taman Flora.

Begitu satu tahun hasilnya terlihat bagus, Risma langsung memperbanyak tanaman Tabebuya. Sengaja dipilih kawasan bebas gedung tinggi, yakni Tugu Pahlawan, Bundaran Pelangi, dan kawasan terbuka lain. Sebab pohon berbatang lunak yang mudah dirawat itu butuh cahaya banyak.

Jika kurang asupan cahaya, Tabebuya tidak akan mekar maksimal. “Rencananya akan ditambah pada titik pedestrian, “kata Risma.

Selain Tabebuya, Risma juga menanami ruang publik Surabaya dengan pohon Sakura dan Jakaranda. Saat mekar, bunga Jakaranda yang berwarna ungu tak kalah cantik dengan Sakura dan Tabebuya.

Jakaranda merupakan tanaman berbatang keras dengan potensi menjadi pohon yang tumbuh rindang. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.