READING

Simbol Ketahanan Pangan dalam Ritual Tumpeng Songo...

Simbol Ketahanan Pangan dalam Ritual Tumpeng Songo Masyarakat Osing

Beragam makanan berbahan tumbuhan lokal disajikan dalam tradisi Tumpeng Songo. Sebuah pengetahuan lokal yang tak tergantung pada sistem pertanian komersial sehingga menunjang ketahanan pangan.

BANYUWANGI- Selepas Subuh perapian di dapur Mbah Sumiah bergemeretak. Kayu sedang menyala. Si empu rumah dengan dibantu beberapa ibu tua sedang bersiap memasak hidangan ritual Tumpeng Songo. Sebuah tradisi selamatan kampung yang diselenggarakan setahun sekali oleh masyarakat adat Osing, Dusun Andong, Desa Tamansuruh, Kabupaten Banyuwangi. Tahun ini Tumpeng Songo jatuh pada hari Minggu, 28 Juli 2019.

Sesuai namanya, dalam ritual kolektif ini terdapat 9 buah tumpeng, tiga tumpeng sega liwet atau nasi gurih, lima tumpeng nasi putih, dan satu tumpeng pecel pitik. Tumpeng terakhir ini berupa bahan-bahan terpisah, seperti nasi putih dibentuk kerucut, satu ekor ayam kampung pethetheng (utuh), jrimpenan atau sambal pecel pitik dan satu  buah kelapa yang tidak begitu tua, tetapi juga bukan kelapa muda, yang sudah dibuang batoknya.

Kelengkapan dari 8 ancak tumpeng itu sama, yaitu ayam kampung lembarang, gimbal jagung, rempah ayam, gecok lucu-jagung, tumis buncis-jagung, kelapa muda yang digoreng bersama gula pasir, gorengan bagian-bagian sapi, gorengan ati ampela, gorengan daging sapi yang dijepit, sate sapi aseman, irisan mentimun, kletek, abon sapi, peyek teri, dadar telur, gecok teri, jangan banci (sayur), dan terakhir kerupuk bleng (kerupuk puli). 

Perempuan yang memasak mempersiapkan tumpeng. FOTO: JATIMPLUS.ID/Widie Nurmahmudy

Sembilan tumpeng dengan dua ancak berisi jajan sewu ditambah jodhang berisi empat ayam kampung pethetheng, batang tebu, pisang mas, dua wadah peras, sandingan berupa dua cangkir kopi pahit, keplikan gula merah, kembang, mentimun besar, dan kinangan  atau kapur sirih diarak melewati jalan desa ke Petahunan, lokasi ritual yang letaknya di atas dataran tertinggi di Dusun Andong.

Delapan dari 9 tumpeng akan menjadi rebutan warga selepas doa bersama di Petahunan. Sementara itu, satu tumpeng pecel pitik akan diberikan kepada Ketua Adat Dusun Andong sebagai pemimpin ritual.

Itulah prosesi  dari tradisi selamatan kampung di Dusun Andong, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan dan limpahan kesuburan tanaman yang ada di dusun Andong.

Tumpeng dan ragam hidangan.
FOTO: JATIMPLUS.ID/ Widie Nurmahmudy

Makanan Ritual dalam Arus Perubahan

Menurut pemangku adat Tumpeng Songo, Dusun Andong, Sumantri, tradisi ritual bersih desa sudah berlangsung turun temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka lahan. Dulu desa ini berupa hutan belantara, hingga munculnya Dusun Andong.

“Sejarahnya, sebelum ada masyarakat, dulu di sini alas curah Andong. Banyak tanaman dan bunga, maka disebutlah Dusun Andong,” katanya kepada Jatimplus.id. Sumantri mengaku sebagai generasi ke-9 dari leluhur Buyut Unem dan Buyut Minut. Kedua tokoh ini dikenal sebagai pembabat alas pertama kali.

Ada banyak hal yang menarik selama prosesi ritual. Salah satunya saat memasak tumpeng. Ada pembagian khusus untuk mengolah makanaan, membuat kue, menanak nasi, mengolah daging, rempah lauk, dan kelengkapan lainnya.

Menurut Sumantri, selama proses memasak berlangsung, para juru masak ini tidak boleh saling bicara dan mencicipi masakan. Semua harus diam dan menjaga kepercayaan bahwa hasil masakannya enak.

“Sebagai simbol  kita tidak boleh menghina orang, saling percaya, dan saling menghargai serta menghormati hasil usaha orang lain,” katanya.

Ragama makanan dalam ritual.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Widie Nurmahmudy

Sumantri menjelaskan, makanan adalah salah satu unsur penting dalam ritual selamatan kampung di desa-desa yang menjadi kantong kebudayaan Osing, termasuk Tumpeng Songo. Terdapat beberapa jenis makanan yang bahan dasarnya tidak banyak dikenal atau, bahkan, tidak dikenal sama sekali oleh masyarakat setempat kecuali yang terlibat langsung dalam penyiapan masakan ritual. Biasanya disiapkan oleh beberapa perempuan tua yang telah menopause. Dua bahan makanan yang terdapat dalam hidangan ritual Tumpeng Songo adalah daun gempol dan daun belimbing banci.

Menurut Sumantri, gempol (Nauclea orientalis L.) merupakan tanaman berkayu keras sudah tidak bisa ditemukan di Andong.  Ia mendapatkan gempol dari daerah asal  istrinya, Dusun Laos, Desa Grogol, Kecamatan Giri. Biasanya yang diambil sebagai bahan makanan gecok gempol ini adalah daun gempol yang masih muda.

“Gempol berkhasiat sebagai antimalaria, bahan kerajinan, racun ikan, obat gangguan pencernaan, penyembuh luka, antidiare, obat tumor dan bisul, serta sumber antioksidan,” ungkapnya.

Sumantri menambahkan, selain daun gempol, ada juga daun belimbing banci  atau dalam bahasa latin disebut Averrhoa carambola L  menjadi salah satu syarat dalam ritual ini sebagai bahan jangan Banci  yang diambil pucuk atau pupusnya. Daun belimbing banci  sendiri dikenal mengandung antikanker, menyehatkan kulit, membantu produksi ASI, menurunkan kolesterol, menjaga kadar gula darah, menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler, serta mengatasi maag.

Menurut Sumantri, gempol dan belimbing banci adalah dua bahan hidangan ritual di Andong yang layak untuk dibudidayakan sebagai bagian dari ketahanan pangan masyarakat adat Osing (Osing indigenous Food System). Jenis tanaman semacam ini dalam Ilmu Biologi disebut sebagai orphan plants. Apabila tidak dilakukan langkah penyelamatan, maka dikawatirkan pengetahuan leluhur tentang tanaman yang bermanfaat akan hilang yang bisa jadi diikuti dengan kepunahan tanaman yang bersangkutan.

Hadirnya daun gempol dan daun belimbing banci dalam hidangan ritual bila disosialisasikan kepada khalayak luas, terutama lebih dahulu di kalangan masyarakat adat Osing sebagai pemilik kebudayaan terkait, akan menjadi suatu langkah strategis untuk memopulerkan keduanya dan menambah referensi tentang keanekaragaman hayati masyarakat adat Osing.

Sumantri berharap, naiknya popularitas kedua bahan makanan ini bisa ditindaklanjuti oleh Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi dengan memperbanyak bibit tanaman gempol dan belimbing banci. Mengenal, menghargai, membudidayakan, serta memanfaatkan keduanya berarti ikut serta dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan masyarakat adat Osing.

Sajian makanan dalam ritual.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Widie Nurmahmudy

Preservasi Hidangan Ritual

Melihat banyaknya kearifan lokal yang masih dijaga dan dilestarikan, khususnya di bidang makanan ritual, menarik perhatian Akademisi Universitas PGRI Banyuwangi, Wiwin Indiarti dan Nunuk Nurchayati untuk menyusun materi buku resep dan cara mengolah makanan ritual Osing disertai pelatihan mengolah makanan ritual khusus untuk anak muda. Makanan ritual dalam Tumpeng Songo adalah sebagian dari beberapa makanan ritual Osing yang menjadi bahan buku dan pelatihan yang akan digelar pada bulan September/Oktober tahun ini. 

Menurut Wiwin, hidangan ritual merupakan salah satu kearifan lokal dalam tradisi masyarakat adat Osing yang merupakan bagian dari warisan budaya tak benda. Proses pewarisan dalam mengolah makanan ritual selama ini berlangsung turun-menurun secara lisan. Hal ini mengakibatkan proses pewarisan mengolah makanan ritual tidak tersebar secara luas. Sebagai sebuah warisan budaya, dikawatirkan seni mengolah makanan ritual ini pelan-pelan akan semakin hilang.

Makan bersama dalam acara ritual.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Widie Nurmahmudy

“Terkait dengan upaya preservasi hidangan ritual ini, kami bersama Tim dari Universitas PGRI Banyuwangi mengadakan Program Kemitraan bagi Masyarakat atau PKM tentang Preservasi Makanan Ritual di Banyuwangi yang didukung oleh Direktorat Riset dan Pengembangan Kementerian Riset dan Teknologi – DIKTI pada tahun 2019,” kata Wiwin.

Wiwin menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya sudah sejak tahun 2015 tertarik pada hidangan ritual Tumpeng Songo. Tahun itu Wiwin yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) PD Osing berkunjung ke Andong untuk ikut serta dalam solidaritas masyarakat adat Osing Andong dalam pelaksanaan ritual kolektifnya.

Saat itu, untuk pertama kalinya, ia mengenal daun gempol dan daun belimbing banci sebagai bahan hidangan ritual. Setiap tahunnya, Wiwin  mencatat bahwa kedua olahan bahan tersebut tidak ditemukan di tempat lain, bahkan yang sama-sama merupakan kantong kebudayaan Osing. Sehingga kekhasan tersebut menjadi unik dan sangat menarik untuk dikaji secara khusus sekaligus upaya preservasinya. Semoga upaya preservasi makanan ritual sekaligus keanekaragaman hayati lokal bisa sinergis antara masyarakat adat Osing dengan berbagai pihak untuk mewujudkn masyarakat adat yang berdaulat, mandiri dan bermartabat.

“Generasi muda perlu mengetahui jenis-jenis tanaman yang menjadi bagian dari ritual adat. Mengingat Banyuwangi masih kental adat tradisi yang masih terus dilestarikan,” ungkapnya.

Reporter: Widie Nurmahmudy
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.