READING

Sineas Muda Banyuwangi Unjuk Gigi Melalui Film Pen...

Sineas Muda Banyuwangi Unjuk Gigi Melalui Film Pendek

BANYUWANGI – Ghani, pemuda itu masuk ke dalam kamar tidurnya yang sempit, berdinding bambu, dan berlantai tanah. Di antara dipan dan lemari kayu, terdapat sebuah kaca yang tak terlalu besar. Di depan kaca itu, Ghani menatap lekat raut mukanya sendiri. Perlahan ia menyibakkan rambut ikalnya yang mulai memanjang. Saat itu ia pun buru-buru mengambil gincu dan pemerah pipi. Ia bersolek.

Penonton tercekat. Bagaimana tidak, babak demi babak film pendek berjudul Jaler membuat puluhan penonton bertanya-tanya adegan selanjutnya. Akting Ghani, aktor utama film yang memenangkan Festival Film Banyuwangi pada bulan Juli 2019 memikat penonton. Sinematografi menarik. Plot yang tak terduga membuat film ini mendapat tepuk tangan meriah di akhir babak.

Film pendek karya Lutfi Masduki tersebut diputar di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Sabtu (28/09/2019). Dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film Komunitas, Jaler ditampilkan dengan tiga film pendek karya sineas muda Banyuwangi lainnya, berjudul De Jaripah, Pusaka, dan Sari.

Keempat film pendek tersebut menyajikan seni dan budaya lokal Banyuwangi dengan dua genre besar, drama dan horor. Film drama kedua yang diputar setelah film Jaler berjudul Sari. Film yang menceritakan tentang kegigihan penari gandrung bernama Sari sebelum tampil di hadapan bupati untuk memenuhi keinginan mendiang bapaknya. Namun saat penampilan di hadapan bupati tinggal hitungan menit, Sari menyadari bahwa kaos kaki yang harus ia kenakan lengkap dengan kostum gandrung justru raib di telan bumi. Bisakah Sari meneruskan keinginan terbesar mendiang bapaknya?

Berbeda dengan dua film bergenre drama di atas, De Jaripah dan Pusaka yang bergenre horor sukses membuat penonton menjerit ketakutan. De Jaripah menceritakan tentang kehidupan seorang perawan berumur 23 tahun dari Suku Osing yang ingin menuntaskan laku tari untuk sebuah kesaktian. Namun, stigma perawan tua dari masyarakat membuatnya dilematis. Saat itulah, Jaripah menghadapi berbagai macam ujian sebagai seorang penari yang tulus dan suci.

Suasana horor semakin memuncak ketika film Pusaka diputar. Tak hanya cerita mengenai pusaka lama yang tak kasat mata. Film Pusaka menampilkan sisi mistis warisan leluhur dengan membangkitkan sebuah jiwa yang telah lama hilang. Saat menontonnya, tak hanya air ludah yang tertahan. Penonton pun dibuat kaget bukan kepalang.

Acara yang diinisiasi oleh Komisi Film Daerah (KFD) Kabupaten Banyuwangi dan komunitas Sanggar Cinema itu dihadiri puluhan sineas muda Banyuwangi serta penonton dari berbagai daerah, seperti Jember dan Situbondo. Dalam sambutannya, Sekertaris KFD Choliqul Ridho menyampaikan apresiasi terhadap karya sineas muda kota gandrung tersebut.

“Kalau tidak ada acara kayak gini kan nggak tahu ya ada potensi seperti ini. Ini pentingnya kita untuk kumpul, kan gini ini. Acara ini menjadi masukan, membuka wawasan dan gambaran bagi kami (KFD), bagaimana temen-temen sineas ini bisa berekspresi melalui film,” terang Ridho.

Seusai menonton film pendek berjudul De Jaripah dan Pusaka, Ridho juga memberikan beberapa masukan. Perlunya menambahkan unsur kearifan lokal Banyuwangi, seperti menghadirkan musik etnik dari irama angklung sebagai pembuka adegan, atau juga perlunya melengkapi suatu kesenian misalnya tari gandrung memakai kostum lengkap beserta para panjak atau penabuh gamelan.

“Kita (KFD Banyuwangi) bisa nanti memfasilitasi. Pak, aku butuh panjak, misalnya. Kita bisa memfasilitasi, tinggal ngomong sama sanggar tari dan mendatangkan panjak, eh ini lho ada syuting film”, tambah Ridho kepada para audiens.

Pintu yang terbuka lebar tersebut disambut antusias oleh para sineas muda Banyuwangi dan juga penonton yang mayoritas adalah anak-anak muda itu. Antusias serupa juga diungkapkan oleh para sineas dari Surabaya, LintaSinema. Dalam kesempatan kali itu, tim LintaSinema yakni Sutradara Abra Merdeka, Produser Aulia Mawardhika, dan Arifin Zaenal sebagai Co.Director saling menimpali mengenai acara Pemutaran Film dan Diskusi Film Komunitas yang baru diadakan pertama kali ini.

“Bagus banget. Jadi ini kan kayak meregenerasi temen-temen film maker juga sebenernya. Kalau aku lihat, Banyuwangi merespon baik sih bagaimana potensi yang ada di daerah. Karena belakangan ini Banyuwangi juga mulai dikunjungi sama PH besar, yang nggak cuma dari Jakarta. Bahkan dari luar negeri karena potensinya yang besar. Dan Banyuwangi sendiri karena melihat potensi besar itu akhirnya dia menciptakan SDM-nya sendiri, dan akhirnya terciptalah ruang-ruang seperti ini,” timpal ketiganya.

LintaSinema sekaligus berkesempatan menjadi tamu untuk pemutaran film pertama mereka berjudul How To Tell. Film yang lolos masuk kategori film pendek Indonesia di ajang Bali International Film Festival (Balinale) 2019 ini menjadi magnet sebelum penutupan acara.

Film How To Tell merupakan film bergenre psikologi drama berdasarkan kisah nyata kejadian bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo pada Mei 2018 silam. How To Tell menyibak perspektif lain justru dari kacamata pelaku bom bunuh diri.

Dalam cerita itu, salah satu pelaku bom bunuh diri bernama Irfan memiliki konflik batin dalam dirinya. Konflik batin itu menyerang dirinya seusai ia melihat suatu pertentangan atas paham radikalisme yang ia yakini selama ini. Keyakinannya terguncang. Namun secara bertubi-tubi ia mendapat tekanan untuk terus menjalankan misi yang kian menghantuinya.

How To tell mendapat respon dan antusias yang tinggi dari sineas dan penikmat film di Banyuwangi. Diskusi seusai acara pun berlangsung gayeng dan memunculkan letupan semangat dari tiap sineas. “Yang saya suka dari film karena orang-orangnya itu kebanyakan sangat welcome. Ayo, kolaborasi. Kayak Sanggar Sinema yang inisiatifnya keren, jadi mereka menampung berbagai film dari film maker, mengundang pemateri juga. Jadi tidak hanya sekedar menonton tapi juga temen-temen ada diskusi untuk belajar. Apalagi LintaSinema sangat welcome sama kita. Ya semoga makin maju lagi sinema di Banyuwangi”, tutur Adam Sulaiman, Sutradara dan Produser Film De Jaripah.

Reporter: Suci Rachmaningtyas
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.