READING

Sitayana Karya Cok Sawitri, Satu Kisah dalam Serib...

Sitayana Karya Cok Sawitri, Satu Kisah dalam Seribu Panggung

Aku selalu ada, meski mereka mengatakan aku tiada. Cinta tak mengenal kata masih – Rawana dalam Sitayana karya Cok Sawitri, 2019.

DENPASAR- Sosok itu muncul dari kegelapan. Besar dan canggung. Kemudian dari dalam tubuh anyamannya, keluar cahaya. Ia melangkah lamban, sesekali terbang dalam kegelapan. Sosok itu awalnya menjadi tak bermakna sebelum bertemu Sita. Sita yang jelita, murni, rapuh, dan menjadi semesta mungil di hadapan sosok raksasa itu. Adegan senyap, tanpa kata, menusuk di bagian entah mana. Penonton diajak menyelami, betapa pedih cinta Rawana kepada Sita. Pada fragmen ini, perasaan sesak itu hadir di panggung pertunjukan Bentara Budaya Bali, 1 September 2019.

“Sitaya karya Bu Cok kan tidak menyalahkan Rama tapi mengisahkan jantra karma. Kisahnya berputar dan berulang,” kata Ida Ayu Arya Satyani (Dayu Ani), sutradara dari panggung pertunjukan Sitayana. Teater tari, demikian panggung ini dinamai, menampilkan petikan kisah dalam novel Sitayana.

Pertunjukan panggung Sitayana merupakan salah satu rangkaian dari acara peluncuran novel Sitayana karya Cok Sawitri bertepatan dengan ulang tahun Cok. Acara yang dikemas sebagai Tamasya yang Tak Biasa ini selain menampilkan panggung pertunjukan Sitayana, video klip Sitayana, juga film Rahim karya Adrian Tan. Film yang digarap 3 tahun lalu berdasarkan cerita pendek karya Cok Sawitri dengan judul yang sama.

Undangan yang hadir dalam acara peluncuran novel ini adalah kebanyakan teman Cok Sawitri dari seniman, aktivis lingkungan, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya. Antara lain Ayu Weda yang juga berulang tahun di hari yang sama, Ayu Laksmi, Umbu Landu Paranggi, Ni Luh Djelantik, Hira Jhamtani, dan lain-lain.

Bila dalam dunia pewayangan khususnya wayang Jawa sudah menasbihkan pasangan cinta abadi adalah Rama-Shinta (Sita) dan Rahwana adalah raksasa yang menculik Shinta, maka novel Sitayana menghadirkan sesuatu yang beda. Menelaah lebih lanjut, sebetulnya cinta sejati pada Sita itu milik Rama atau Rawana? Beberapa penulis sudah pernah menafsirkan cinta sejati Rawana pada Sita, Cok Sawitri memberi perspektif yang sama namun dengan referensi yang lebih mendalam. Cok adalah pembaca kitab-kitab Bali lama yang memperkaya novel ini.

Dayu Ani mempertebal rasa cinta Rawana kepada Sita dengan menghadirkan wayang sunar karya Gus Phank dalam pertunjukan tersebut. Menurut Dayu Ani, ia membutuhkan sosok besar yang memvisualisasikan Rawana. Kebetulan, Gus Phank memiliki tugas akhir wayang sunar ini. Wayang sunar merupakan bentuk pertunjukan boneka yang digerakkan oleh manusia. Adanya sunar (cahaya) mempertegas dari gerak  boneka yang terbuat dari anyaman bambu.

Gerak dalam senyap, tanpa musik, tanpa iringan tembang dan lebih banyak bermain efek cahaya dari badan wayang dan dari pantulan obor menjadikan kehadiran Rawana demikian magis.

“Pertunjukan ini menggunakan elemen-elemen yang ada di Bali,” kata Dayu Ani. Wayang merupakan salah satu seni pertunjukan yang mulai jarang dipentaskan di Bali. Unsur wayang Bali yang ditampilkan berupa tembang dan tandak (tari). Tembang yang yang dilagukan khas yaitu istilahnya ngore sebagai ciri khas wayang Bali yang sudah jarang ditembangkan. Sepanjang pertunjukan, penonton disuguhi magisnya tembang dan kalimat-kalimat yang diulang sebagaimana mantra.

Unsur api yang diwakili dalam obor dalam jumlah yang cukup untuk menerangi tanpa menyilaukan untuk mempertegas perputaran jatra karma. Dikisahkan bahwa Sita adalah titisan Wedowati, perempuan pertapa yang sangat dicintai oleh Rawana. Namun Wedowati lebih memilih menceburkan diri ke api suci daripada menerima cinta Rawana. Tindakan nekat yang memberi rasa sakit dan kekosongan seumur hidup di dada Rawana hingga Rawana bertemu Sita.

Bila dalam teater tari Sitayana, Rawana divisualkan sebagai sosok yang berbadan besar, sementara dalam video klip garapan Syafiudin Fivick justru menampilkan kebalikan. Rawana ditampilkan sebagai sosok yang sama besarnya dengan Sita dan diperankan oleh Cok Sawitri.

Teks/Foto: Titik Kartitiani

Sitayana dan Masalah Lingkungan Danau Batur

Menurut Cok, penafsiran Rawana sebagai sosok yang besar bukan besar fisiknya melainkan besar nafsu yang merajai tubuhnya. Agak berbeda dengan video klip pada umumnya, tampilan video klip Sitayana ini kental sekali pengambilan gambar sebagaimana foto bukan video. Gambar-gambar diam sebagaimana angle dalam fotografi.

“Bu Cok ngajak aku karena emang aku memakai angle-angle fotografi. Sama seperti di film sebelumnya yang tentang tenun,” kata Fivick.

Video klip “Sitayana” mengambil lokasi di Danau Batur, sebagai wujud keprihatinan akan terancamnya lingkungan sumber mata air Bali. Keranjang sebagai simbol dari darma, tempat semua kebaikan hidup.
FOTO: dok. Syafiudin Fivick

Dalam video klip ini, Sitayana sebetulnya merupakan pintu masuk untuk menuju masalah lingkungan yang dialami oleh Danau Batur, lokasi pengambilan gambar video klip ini. Danau Batur merupakan hulu dari sungai-sungai dan air tanah yang mengairi seluruh pulau Bali.

“Aliran air itu seperti naga, kepalanya di Teluk Benoa sedangkan ekornya di Batur,” kata Cok Sawitri. Oleh karena itu, dalam video klip itu dibuka dengan tangan yang mengenakan gelang naga dan mengalir darah sebagai visualisasi dari sumber mata air yang sedang mengalami tekanan. Naga yang terluka.

Menurut Cok, pertumbuhan pariwisata menyebabkan pengambilan air tanah besar-besaran tanpa dibarengi dengan upaya untuk mengembalikan cadangan air tanah. Bila dibiarkan, maka air tanah di Batur akan kering, akibatnya Bali akan kekeringan tak lama lagi.

“Saya mengimbau teman-teman yang hadir di sini, baik para pemegang kebijakan, aktivis lingkungan, dan siapapun warga Bali untuk menengok ke Batur,” kata Cok dalam orasinya.

Dalam makna spiritual, Batur merupakan tempat suci bagi warga Bali. Menurut Cok yang disampaikan dalam wawancara terpisah, dahulu Batur merupakan peradaban Budhis lama di Bali. Di sana banyak sekali satra, tempat penginapan orang suci yang lebih tua dari zaman Majapahit. Di sana banyak asram untuk menuntut ilmu.

Suasana ini dihadirkan dalam video klip dengan banyak orang-orang berkumpul di pinggir danau sebagaimana suasana asram yang dilambangkan sebagai tempat Wedawati. Anak-anak yang bermain di dekat danau menunjukkan pada zaman dulu, warga Bali sangat dekat dengan alam yaitu air, danau, dan gunung.

Cok ingin menampilkan Sita ini menjadi versi “Sita Batur”, bukan “Sita India” atau Sita-Sita yang selama ini beredar di publik. Makanya Sita mengenakan pakaian adat Bali. Bila diamati, busana tersebut merupakan gabungan antara klasik dan modifikasi.

Batur zaman dulu adalah tempat suci, tempat orang suci Budhis Bali yang lebih tua dari Majapahit menginap.
FOTO: dok.Syafiudin Fivick
Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.