READING

Siti Rukayah, Buruh Migran Yang Jadi Juragan (2)

Siti Rukayah, Buruh Migran Yang Jadi Juragan (2)

Tiga puluh tahun yang lalu Siti Rukayah bukan siapa-siapa. Dia adalah istri pekerja tenun yang telah bangkrut di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Rukayah tak pernah lupa tentang masa lalunya yang sulit. Meski kini telah menjadi juragan tenun dan mempekerjakan hampir 100 orang, perempuan berusia 50 tahun ini tetap bersahaja.

Di rumah sederhana di ujung gang, Siti Rukayah merawat usaha kerajinan tenun ikat yang telah mengubah hidupnya. Mesin-mesin pintal dari kayu yang sebagian adalah peninggalan mertuanya terus bergerak merajut benang. Hasilnya, lembaran kain cantik berbagai motif terbentang sebagai produk unggulan Medali Emas, nama dagang produknya.

Tahun 1989 adalah tahun pertama Siti Rukayah bersama suaminya Munawar memproduksi sarung. Berbekal dua mesin tenun kayu peninggalan mertuanya, Rukayah memproduksi sarung yang telah lama ditinggalkan para perajin. Kala itu, industri tenun ikat sedang mati suri akibat mahalnya harga benang yang terkoreksi pasar dunia.

Keputusan Rukayah untuk menghidupkan kembali mesin tenunnya sempat menuai cibiran perajin lain. Selain Rukayah, puluhan perajin tenun tersebar di Kelurahan Bandar Kidul yang menjadi kampung penenun. Empat kawasan lain yang juga menjadi sentra tenun di Kota Kediri telah lebih dulu kolaps.

Berbekal ketekunan memproduksi dan memasarkan sendiri produknya, Siti Rukayah mampu menjaga kelangsungan bisnisnya hingga berkembang. Meski tak pernah mengikuti pendidikan menggambar, Rukayah tak takut menggoreskan pensil di atas kain bahan untuk membuat motif. “Saya gambar sendiri sesuai angan-angan. Sebagian juga mencontoh motif lain yang saya ubah,” kata Rukayah kepada Jatimplus.ID

Pekerja tenun menggambar motif di bidang pola. Foto: Adhi Kusumo

Keputusan menekuni tenun tak sia-sia. Perlahan-lahan bisnis yang ditelateni bersama suaminya mulai dilirik orang. Dua buah mesin tenun peninggalan mertuanya bertambah menjadi 15 unit. Di bagian produksi, Rukayah merekrut warga sekitar menjadi pekerja. Mulai dari pembuat motif, penyulam benang, pewarna kain, hingga tenaga pemasaran. Bisnis ini banyak diuntungkan keengganan perajin lain yang masih malas mengikuti jejak Rukayah.

BACA JUGA: BI Kediri, Bukan Bank Sentral Biasa

Sayangnya, mimpi manis itu tak direguk lama. Krisis ekonomi di tahun 1997 memporak-porandakan sema lini perekonomian tanah air, termasuk industri tenun. Harga bahan baku benang dan pewarna mendadak meroket jauh melebihi harga jual sarung. Hingga tak ada pilihan lain bagi Rukayah selain menutup usaha.

Perekonomian dalam negeri yang tak kunjung stabil memaksa Rukayah mengambil jalan pintas. Pergi ke luar negeri menjadi TKI. Tak ada gambaran pekerjaan yang pas selain menjadi pembantu rumah tangga. “Saya ingin mencari modal untuk memulai usaha lagi di Kediri,” katanya.

Meninggalkan dua anaknya yang masih kecil, Rukayah dikirim ke Arab Saudi oleh perusahaan penyalur TKI yang berkantor tak jauh dari rumahnya. Susah senang dilalui Rukayah demi mengumpulkan Real untuk dibawa pulang. Termasuk menelan mentah-mentah perilaku majikannya yang tidak menyenangkan.

Genap dua tahun Rukayah benar-benar memenuhi janjinya untuk pulang. Keputusan yang jarang dilakukan para TKI lantaran merasa nyaman bergaji besar di negeri orang. Berbekal pesangon Rp 14 juta, Rukayah kembali merintis usahanya dari nol. Satu per satu bekas karyawannya ditarik kembali untuk membantu. “Pemasaran saya lakukan sendiri dari rumah ke rumah,” kata Rukayah.

Siti Rukayah menggambar motif sebagai modul cetakan kain tenun. Foto: Adhi Kusumo

Dia juga tak akan bisa menghapus peran Bank Indonesia yang tiba-tiba datang menawarkan bantuan. Tak sekedar memberi pelatihan dan menata usaha menjadi lebih rapi, bank sentral itu juga mengirimkan satu unit mesin pemintal benang modern. Dengan mesin ini produktivitas Rukayah bisa digenjot tanpa banyak melibatkan pekerja.

BACA JUGA: Djoko Raharto: Membina UMKM Harus Tulus

Modernisasi alat ini secara cepat melipatgandakan omzetnya. Apalagi program pendampingan yang dikendalikan langsung Kepala BI Kediri Djoko Raharto tak pernah sedikitpun melepas binaannya. “Tempat produksi kami juga diperbaiki sehingga nyaman untuk pekerja dan layak dikunjungi wisatawan,” katanya.

Pendampingan yang dilakukan Bank Indonesia sukses besar. Tak hanya Rukayah, sedikitnya 10 perajin tenun di Kelurahan Bandar Kidul tak luput dari program pendampingan mereka hingga meraup untung.

Tak semua lolos dari lobang jarum. Beberapa pengusaha justru gulung tikar karena tak mampu mengikuti ritme usaha yang diterapkan pemodal. “Bu Rukayah adalah salah satu yang lolos seleksi alam,” kata Djoko Raharto.

Pekerja mengoperasikan mesin tenun manual di Kelurahan Bandar Kidul Kediri. Foto: Adhi Kusumo

Belakangan, Bank Indonesia tak bekerja sendiri. Dinas Koperasi Kota Kediri dan lembaga perbankan lain berbondong-bondong mengulurkan tangan. Tak sekedar mempopulerkan tenun ikat buatan Rukayah, dinas ini juga mengucurkan bantuan permodalan melalui Bank Jatim. “Kami ingin membangkitkan kembali Kelurahan Bandar Kidul sebagai sentra tenun ikat,” kata Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Kediri Apip Permana.

Merasakan manfaat atas bantuan modal yang diterima, membuat Rukayah tak takut lagi dengan bank. Sebelumnya dia selalu takut berhubungan dengan bank. Sanksi pengenaan denda hingga penyitaan jaminan membuatnya menolak program perbankan yang ditawarkan.

Sampai pada akhirnya sikap tersebut berubah drastis usai menerima manfaat dari modal yang diterima. Bahkan saat pinjaman bergulir dari Bank Jatim melalui Dinas Koperasi berhasil dilewati, Rukayah justru aktif mengajukan pinjaman untuk pengembangan bisnis. “Saya mengajukan pinjaman lagi ke Bank Jatim untuk menambah mesin,” kata Rukayah.

Berkat bantuan itu, jumlah mesin tenun yang dimiliki Rukayah melonjak dua kali lipat, dari 15 unit menjadi 35 unit. Dengan hanya membayar bunga pinjaman enam persen per tahun, Rukayah mampu mengelola dana yang diterima untuk menaikkan omzet.

Kain tenun yang dipintal di rumah produksi Siti Rukayah. Foto: Adhi Kusumo

Saat ini jumlah pekerjanya telah mencapai 98 orang dengan kapasitas produksi 60-70 potong kain tenun per hari. Dengan harga jual mulai Rp 160.000 – Rp 380.000 per potong, pendapatan rumah produksi Rukayah tembus Rp 300 juta per bulan. “Kalau masih takut dengan bank, usaha saya tak akan sebesar ini,” katanya.

Rukayah kini sudah menjadi juragan besar. Tak hanya membuka lapangan kerja, produk yang dihasilkannya telah menambah ikon produk lokal Kota Kediri. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.