READING

Songsong Bandara Internasional, Kantor Imigrasi Ke...

Songsong Bandara Internasional, Kantor Imigrasi Kediri Bersiap Perbanyak Jenis Pelayanan

KEDIRI–  Realisasi pembangunan bandara skala internasional di Kediri terus bergerak. Hal yang cukup istimewa ini membuat seluruh instansi terkait mulai bersiap-siap. Mengingat akan ada pintu masuk dari luar negeri, peranan Kantor Imigrasi di Kediri pun menjadi sangat penting dalam melakukan pengawasan orang asing.

Terkait hal itu per Oktober lalu, Kantor Imigrasi Kediri naik kasta dari yang sebelumnya masuk kategori kelas III kini menjadi kelas II Non TPI. Lokasinya pun kini pindah dari yang sebelumnya berada di Jalan Insinyur Sutami, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri pindah di Jalan Jawa, Desa/Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

“Rencananya tahun depan, kita sudah bisa menggunakan gedung baru untuk melakukan pelayanan keimigrasian,” terang Rakha Sukma Purnama, Kepala Kantor Imigrasi Kediri dalam jumpa pers Kamis (19/12).

Di lokasi baru ini, kantor imigrasi mengalami perluasan hingga 10 kali lipat dari kantor lama. Perluasan ini dilakukan guna meningkatkan kualitas pelayanan. Berbagai terobosan program baru pun disusun agar bisa mengimbangi intensitas mobilisasi masyarakat yang pastinya akan semakin tinggi.

“Tahun depan, kita upayakan kinerja menjadi lebih fleksibel dan memudahkan warga. Namun tetap pada koridor yang sudah ditetapkan,” tambahnya.

Beberapa program yang sedang dirintis adalah pengecekan paspor secara online, pelayanan paspor drive thru, pelayanan paspor emergency, hingga pelayanan paspor mobile. Petugas akan mendatangi para pemohon pengajuan paspor yang sudah lansia, difabel maupun yang sakit.

“Seperti pelayanan paspor untuk calon jamaah haji di Jombang. Kita sudah lakukan jemput bola karena sebagian besar para CJH sudah sepuh-sepuh,” terangnya kepada awak media.

Dalam melakukan pengawasan di bandara sendiri, kantor imigrasi tidak bergerak sendirian. Rakha menjelaskan bahwa pihaknya akan berkolaborasi dengan kantor bea cukai. Ada pula sistem pengecekan kesehatan dan karantina untuk hewan dan tumbuhan yang dilakukan oleh pihak lain yang berwenang.

“Jadi kita tidak sendirian. Kita akan bekerjasama dengan instansi-instansi terkait lainnya,” bebernya.

Rakha sebenarnya tidak terlalu risau dengan adanya orang-orang asing yang datang secara ilegal setelah bandara ada. Pastinya para pendatang tersebut sudah melewati mekanisme cukup ketat sejak dari bandara tempat mereka tinggal.

Mulai dari pengecekan tujuan kedatangan, berapa lama tinggalnya, kejelasan identitasnya hingga status orang tersebut apakah sedang mengalami permasalahan hukum atau tidak. “Jika yang bersangkutan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pasti sudah akan tertahan di bandara tempat dia berangkat,” jelasnya.

Mengingat hal ini, pengawasan kepada orang asing pihaknya akan melaksanakan tugas seperti biasa. Hanya saja perhatian terhadap orang asing yang tinggal harus lebih diperhatikan. Apakah kegiatan yang dilakukan di Kediri sesuai dengan izin paspornya dan apakah sesuai dengan masa tinggalnya.

“Pihak imigrasi akan terus berkolaborasi agar status orang asing yang datang bisa lebih mudah terdeteksi,” tegasnya.

Sejauh ini, menurut Rakha, temuan orang asing tanpa izin di Kediri relatif rendah. Selama setahun terakhir, hanya 18 orang yang dideportasi. Mereka adalah warga negara Thailand, Malaysia, Jerman, Tiongkok, Myanmar, dan yang paling banyak adalah warga Timor Leste.

Menurut Rakha, mereka yang tercekal sebenarnya adalah orang yang datang secara legal. Hanya saja mereka tinggal di Kediri melebihi masa izin tinggalnya sehingga statusnya menjadi ilegal.

“Seperti warga Timor Leste. Sebagian besar mereka adalah siswa yang sedang menuntut ilmu di Kediri. Pihak sekolahnya tidak memberikan informasi lengkap sehingga yang bersangkutan tidak sadar jika sudah over stay,” urai Rakha.

Sedangkan untuk pengajuan paspor sendiri sejauh ini di Kediri dan sekitarnya cukup tinggi yakni mencapai 25.218 ribu berkas. Hanya sebagian kecil saja yang prosesnya mengalami penundaan yakni sebanyak 238 berkas. Penundaan ini dilakukan karena petugas menangkap indikasi penyalahgunaan paspor.

“Secara umum animo masyarakat Kediri untuk bepergian ke luar negeri cukup tinggi. Diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya,” jelas Rakha.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.