READING

Suka Duka Jagal Binatang, Kadang Juga Tertendang

Suka Duka Jagal Binatang, Kadang Juga Tertendang

Video jagal sapi yang terluka saat hendak menyembelih sapi Kurban viral di media sosial. Fakta itu menggambarkan betapa bahayanya resiko pekerjaan seorang jagal.

Sejak kemarin video yang merekam insiden petugas penyembelih hewan yang terjengkang hingga tak sadarkan diri akibat ditendang sapi terus beredar. Video berdurasi 42 detik itu merekam detik-detik seorang jagal di Musala Al Mustaqim Cengkareng, Jakarta Barat saat menenangkan seekor sapi yang hendak disembelih.

Bersama dua rekannya dia berusaha menenangkan sapi yang terlihat panik dan agresif. Saat sang jagal meletakkan jeratan kaki di bawah sapi, tiba-tiba kaki kanan bagian belakang sapi menendang muka si jagal hingga terjengkang. Seketika jagal tersebut terlihat tak sadarkan diri. Kepolisian setempat menyebut jagal malang itu kehilangan lima giginya sekaligus.

Profesi jagal memang mengandung resiko yang cukup besar. Terlebih jika menghadapi hewan yang agresif dan tak mudah ditundukkan.

Jatimplus.ID mewawancara Sugito, seorang jagal yang telah bertahun-tahun menggeluti profesi ini. Dia mengaku pernah beberapa kali tertendang kaki sapi saat hendak menyembelih. Insiden ini biasanya terjadi saat melakukan penyembelihan di luar rumah pemotongan hewan.

Sugito baru saja menyelesaikan penyembelihan sapi  ketiga saat berbincang dengan Jatimplus.ID di halaman Masjid Al Ikhlas Perumahan Persada Sayang Kelurahan Mojoroto Kota Kediri, Minggu 11 Agustus 2019. Kedua tangannya masih berlumuran darah dengan pisau panjang terselip di pinggang.

Hari itu Sugito mendapat order menyembelih enam ekor sapi dan enam ekor kambing dari takmir Masjid Al Ikhlas. Karena cukup banyak, dia mengajak lima orang rekannya untuk membantu.

Sugito berusaha menjegal sapi yang akan disembelih. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

“Saya sudah biasa memotong hewan, jadi tidak terlalu sulit. Setiap hari saya menyembelih tiga sampai lima ekor sapi,” kata Sugito yang bekerja di rumah pemotongan hewan Kelurahan Campurejo.

Jagal berusia 40 tahun ini mengaku mendapat pelatihan menyembelih secara khusus di tempatnya bekerja. Pelatihan ini dilakukan beberapa hari di Kecamatan Watukosek, Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Tak sekedar tata cara menggorok leher binatang, Sugito juga mendapat pelajaran tentang anatomi hewan. Salah satu materi paling penting adalah mengenali saluran pernafasan dan pembuluh darah di leher binatang. “Keduanya harus terputus agar mati cepat,” jelas Sugito.

Selain menggorok, Sugito juga diajarkan cara menenangkan hewan dan menjegal sapi agar siap disembelih. Menurut dia, proses paling sulit dalam penyembelihan adalah menjegal sapi. Sebab dibutuhkan empat hingga lima orang untuk menundukkan sapi agar terguling. Biasanya tingkat kesulitan ini terjadi saat melakukan pemotongan di luar rumah pemotongan hewan (RPH).

Peralatan pisau yang digunakan untuk menyembelih. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

Jika di RPH tersedia berbagai peralatan untuk mengikat sapi, tidak demikian dengan lapangan masjid. Sugito harus mengikat kaki dan hidung sapi dengan kencang dan menariknya agar terjatuh. Jika kurang kuat, diperlukan dua orang untuk mendorong tubuh sapi agar limbung. Sementara tali pengikat kepala juga tak boleh kendor di pohon besar.

Proses inilah yang kerap menjadi masalah bagi para penjagal. Tak terhitung berapa kali Sugito tertendang kaki sapi yang menolak dirobohkan. Karena itu dia sangat menghindari berada di dekat kaki belakang sapi yang digunakan untuk menendang.

Setelah ambruk, Sugito mulai melakukan penyembelihan. Meski diajari cara berdoa agar hewan yang dipotong halal, Sugito menyerahkan tugas itu kepada takmir masjid jika melakukan penyembelihan kurban. ”Sebab nama-nama orang yang kurban harus disebut satu-satu, takmir yang tahu,” katanya.

Tugas jagal dalam penyembelihan kurban sangat bergantung kesepakatan. Ada yang hanya menyembelih saja, atau membantu memotong bagian tubuh sapi dan mencuci organ dalamnya sekaligus. Namun dari semua paket layanan itu, ada satu ketentuan umum yang berlaku di kalangan jagal, yakni penjagal berhak mendapatkan kulitnya.

Kulit sapi yang menjadi hak penjagal. Foto Jatimplus/Hari Tri Wasono

Di Kediri, ongkos menyembelih seekor sapi dan membantu memotong dagingnya sebesar Rp 300 ribu. Untuk kambing harganya Rp 175 ribu per ekor. Petugas masjid tinggal memotong daging-daging hewan ke dalam ukuran kecil.

Selain menerima ongkos, penjagal juga masih mendapatkan keuntungan dari menjual kulit hewan. Penadah yang bekerja untuk pabrik kulit siap menampung kulit hewan dengan mengikuti harga dunia.

Meski telah melakukan tugas penyembelihan lebih dari lima tahun, Sugito kadang merasa tidak enak saat mendapati sapi yang akan digorok menangis. Tak jarang sapi yang akan disembelih mengeluarkan air mata. “Tapi mau bagaimana lagi, saya kan hanya menjalankan tugas,” tuturnya.

Menurut dia, sapi atau binatang lain yang hendak disembelih memiliki tingkat stres tinggi. Karena itu dia menyarankan kepada pengurus masjid untuk memisahkan hewan yang akan disembelih dengan yang lain. Terbukti sapi di Masjid Al Ikhlas terlihat berontak dan gelisah saat mengetahui sapi lain digorok di dekatnya.

Sebagai jagal senior, Sugito juga bisa mengetahui kondisi daging yang baik dan tidak. Hewan yang cenderung diam dan tidak agresif saat hendak disembelih menandakan menderita sakit. Demikian juga jaringan otot yang masih bergerak meski hewan telah mati beberapa waktu juga menjadi tanda daging yang sehat.

Print Friendly, PDF & Email

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.