READING

Sukani Pengrajin Topeng Malang yang Menyapa Pagi d...

Sukani Pengrajin Topeng Malang yang Menyapa Pagi dengan Tarian Kayu dan Besi

MALANG – Dingin masih belum beranjak dari Dusun Kemulan, Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Selepas salat Subuh, lelaki yang kini menginjak usia 71 tahun itu beranjak ke sisi kiri teras rumahnya. Di depan teras terlihat tumpukan potongan kayu. Tak jauh dari tumpukan kayu, gandhen sebuah alat pemukul berbahan kayu dan sejumlah peralatan pahat sudah disiapkan. Tak lama kemudian, bunyi suara kayu beradu dengan tatah bertalu memenuhi udara.

Suara itu berhenti saat matahari berada di atas kepala. Sekira sejam, banci mengayun kembali bergantian dengan gandhen yang menimpuk kepala pahat. Serpihan kayu berhamburan saat mata pahat menghantam kayu. Perlahan, bongkahan kayu itu mulai berbentuk. Hasil akhir berupa topeng dari berbagai figur dalam cerita Panji, Ramayana, dan Mahabarata.

“Saat itu saya mendapatkan pesanan dari museum,” kata Sukani kepada Jatimplus.id di rumahnya. Rumah itu berada di pinggir jalan raya. Museum yang berada di Mojokerto itu memesan lebih dari 800 buah. “Saya sampai lembur-lembur. Setelah Maghrib  saya kerja lagi sampai jam 9 malam,” Sukani melanjutkan.

Setiap bulan, topeng yang sudah jadi diambil oleh si pemesan. Sukani berhasil menyelesaikan sekitar 35 sampai 50 topeng setiap bulannya. Keseluruhan topeng pesanan museum yang mulai dia kerjakan sejak tahun 2016 itu berhasil dirampungkannya dalam waktu tiga tahun.

Sejumlah topeng karya Sukani yang sebagian besar adalah tokoh yang berasal dari kisah Panji. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

Untuk mempercepat proses pekerjaan Sukani menggunakan jasa orang lain dalam melakukan pengecatan topeng. “Kalau mulai dari awal sampai mengecat saya lakukan sendiri akan membutuhkan waktu lebih lama. Jadi saya fokus saja sampai pada tahap topeng kayu itu siap dicat,” papar Sukani.

Dalam kondisi normal, artinya kerja dengan ritme yang tak diburu waktu, dibutuhkan waktu sekitar 3 sampai  5 hari untuk menyelesaikan sebuah topeng. Lama tidaknya ditentukan oleh tingkat kerumitan topeng dan jenis kayu yang dipakai. Menurut Sukani kayu yang bagus digunakan sebagai bahan pembuatan topeng adalah kayu mentaos, akasia, dan sawo.

Sementara kategori kualitas sedang berbahan kayu kembang, mahoni, pinus, alpukat, dan sengon. Kayu yang bagus memiliki cukup kepadatan sehingga dalam jangka panjang topeng tak berubah bentuk. Sementata kayu yang biasa, beratnya lebih ringan, empuk, dan bentuknya lama-kelamaan bisa melengkung.

Harga topeng antara Rp 250.000 sampai Rp 500.000 tergantung jenis tokoh dan jenis kayu yang dipakai. Harga topeng terendah adalah topeng yang berbahan kayu sengon. Namun saat ini, Sukani enggan membuat topeng dari kayu sengon. Menurutnya, meski pengerjaannya sama namun hasilnya tak sebagus jika menggunakan jenis kayu yang lain. Itulah sebabnya dia membandrol topeng berbahan sengon pada harga paling rendah.

Meski pesanan topeng dari museum sudah selesai, bukan berarti Sukani kendor dalam membuat topeng.  “Setiap hari saya membuat bakalan,” katanya. Yang dimaksud dengan bakalan adalah bongkah kayu yang sudah dibanci sedemikian rupa sehingga sehingga  bisa dibentuk sesuai dengan figur topeng yang diinginkan. Setelah jumlah bakalan dirasa cukup, dia mulai mengukirnya sampai menjadi topeng yang siap untuk dicat. “Saat ini sudah tersedia 40-an topeng yang sudah siap jual. Sementara topeng mentahan yang siap dicat dan sedang dalam proses ukir sekitar 100 buah,” papar Sukani.    

Sukani sedang membuat bakalan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

Figur topeng karya Sukani dalam kisah Panji antara lain Panji Asmarabangun atau Inu Kertapati beserta pasangannya yakni Galuh Candrakirana atau Dewi Sekartaji dan pasangan Raden Gunungsari dan Dewi Ragil Kuning. Selain itu, tokoh Klana, Patih, dan Sabrang.

Tokoh pewayangan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong dibuatnya juga termasuk Hanuman, Sugriwa, Subali dan Anggada. “Sekarang ini saya sedang membuat banyak topeng Bapang,” katanya sembari menunjukkan karung plastik yang berisi sejumlah topeng Bapang yang hampir jadi saat Jatimplus berkunjung ke rumahnya. “Topeng Bapang banyak diminati orang. Persediaan Bapang saya juga sudah menipis,” Sukani menjelaskan. Bapang adalah tokoh berparas merah, kumis melintang dan berhidung panjang. Sukani tak paham, mengapa banyak orang yang ngefans ke Bapang.

Pembelinya dari dalam negeri di antaranya adalah dari Jakarta, Jawa Barat, sejumlah kota di Jawa Timur, dan tentu saja dari Malang. Ada pula dari Kalimantan bahkan terbang jauh sampai Amerika Serikat.

Selain membuat topeng untuk keperluan pentas pertunjukkan, Sukani kadang menerima pesanan topeng sebagai pajangan dengan ukuran lebih kecil. Dirinya mengaku tak telaten jika membuat topeng ukuran kecil untuk gantungan kunci.

Bermula dari Balok Kayu Sungai Lajing

Sukani belajar membuat topeng secara otodidak. Dirinya mengaku tak pernah berguru. Mencoba membuat topeng sejak 1978 namun hasilnya tak memuaskan. Sukani yang kakek dan ayahnya adalah penari topeng malang ini, pada tahun 1963 bergabung dengan dengan grup Karya Warga Utama pimpinan Pak Kastamun, ayahnya sendiri. Semua tarian tokoh dalam dramatari berlakon Panji bisa diperankannya. “Cuma menari Bapang saya tak bisa,” akunya sambil terkekeh.

Sukani masih aktif menari di sela pekerjaannya sebagai pembuat sekaligus penjual mebel dan pekerja bangunan. Bekerja di sawah pun masih tetap dilakoni. Pada tahun 1996 dirinya memutuskan berhenti menari ketika anak kelima yang masih duduk di Sekolah Dasar meneruskan jejaknya sebagai penari topeng malang. Dia merasa sudah ada yang meneruskan jejaknya. Jejak yang kemudian diikuti juga oleh dua anak yang lain. Sementara dalam hal pembuatan topeng, Sukani masih tak berhasil menyelesaikan sebuah topeng pun secara sempurna.

Sukani sedang menatah kayu bakalan untuk dijadikan topeng sesuai dengan tokoh yang diinginkan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Prasto Wardoyo.

Ritme hidupnya berubah ketika pada tahun 2007, dirinya menemukan balok kayu yang tersangkut di Sungai Lajing.  Kayu yang tersangkut di aliran sungai yang masuk kawasan Desa Kunci, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang itu lalu dibawanya pulang. Dari balok kayu temuan itulah, Sukani baru berhasil merampungkan sebuah topeng. Keberhasilan pertama dalam hidupnya.

“Saya berhasil membuat topeng setelah meniru topeng yang saya pinjam dari koleksi topeng kakek saya,” tutur Sukani. Dari balok kayu yang diangkat dari Sungai Lajing itu, dia berhasil membuat sebanyak empat buah topeng yaitu dua buah topeng Klana, sebuah topeng Panji Asmarabangun, dan topeng Gunungsari. Topeng-topeng ini masih disimpannya dan tak hendak dijualnya meski ada yang menawarnya dengan harga tinggi.

Semenjak itu, semua pekerjaan selain membuat topeng ditinggalkannya. “Hasilnya lumayan,”kata Sukani mensyukuri. Itulah sebabnya, dari teras rumah yang berdiri di atas tanah dengan ketinggian 600 mdpl, bunyi gandhen beradu dengan pahat yang menari di atas bongkah kayu, masih terdengar setiap pagi. (Prasto Wardoyo)  

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.