READING

Sulitnya Mengajar Anak Sendiri di Rumah

Sulitnya Mengajar Anak Sendiri di Rumah

Ketika wabah virus corona mulai masuk ke Indonesia, salah satu kebijakan besar yang diambil oleh pemerintah adalah meliburkan anak-anak sekolah. Kebijakan ini membuat sebagian besar anak-anak harus belajar secara mandiri di rumah bersama orang tua masing-masing. Dari sinilah kemudian muncul curhatan dari para orang tua murid.

“Ternyata susah ya mengajari anak sendiri,” curhat salah satu ibu-ibu sambil memilih sayuran segar di tukang sayur.

Keluhan ini bukan tentang mengajari perilaku, karena hal tersebut biasanya diajarkan melalui keteladanan. Orang tua cukup “jaim” di depan anak agar perilaku yang baik-baik saja yang diserap oleh sang anak. Berbeda lagi dengan mengajari “pelajaran sekolah”. Mereka benar-benar harus mengeksplorasi kemampuan anak agar bisa menyerap materi yang ada di dalam buku.

Curhatan ini juga sempat disampaikan tokoh publik. Desta dalam salah satu acaranya di TV sempat curhat betapa sulitnya mengajari anaknya -yang masih berusia sekitar lima tahunan- dua kalimat dalam percakapan sederhana berbahasa inggris.

“What animal do you like? Nanti jawab dengan I like tiger,” terang Desta.

“Why? Because tiger is strong. Jawab gitu ya nak,” tambah Desta mencontohkan.

Desta pun menuntun sang anak untuk mengingat secara perlahan conversation tersebut. Pembelajaran kalimat ini pun diulang-ulang bahkan hingga puluhan kali. Namun sang anak tidak juga berhasil menjawab template jawaban yang sudah dicontohkan Desta. Padahal hasil pembelajaran tersebut oleh Desta hendak direkam untuk kemudian dikirimkan ke gurunya.

Desta yang sebelumnya menegur istrinya karena tidak sabar dalam mengajar, justru ikut berteriak-teriak gemas ketika anaknya tidak berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan. Membuat seluruh studio tertawa atas kekonyolan cerita Desta. Meski scene curhat ini diceritakan dengan nuansa canda dan tawa, tanggapan Vincent, rekan Desta, di akhir sesi cukup masuk akal.

“Saya akhirnya mengerti mengapa sekolah sekarang biayanya mahal,” terang Vincent. Desta pun menimpalinya “Iya, karena guru-guru kita ternyata STRONG,” ujarnya sambil berteriak menirukan gaya ketika mengajari anak.

Di cerita tersebut, kita tidak menyoroti tentang kemampuan anak yang lambat menyerap materi ataupun tingkat kesulitan soal yang diberikan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah tidak semua orang tua memiliki kemampuan mengajar anak. Padahal penting bagi seorang pengajar untuk memahami karakteristik belajar sang anak.

Pada dasarnya anak-anak termasuk orang dewasa memiliki tiga jenis karakter belajar yakni visual, audio, dan kinestetik. Visual adalah kemampuan mencerna dan mengingat lebih baik melalui kegiatan membaca atau melihat obyek, audio yakni dengan mendengarkan, dan kinestetik yakni dengan mempraktikkan.

Setiap anak bisa memiliki perbedaan karakter dalam mengingat dan memahami sesuatu sehingga kita diharuskan untuk memahami yang mana yang menjadi karakter anak agar proses pembelajaran bisa lebih efektif.

Selain menjadi pengajar “pelajaran sekolah”, menjadi pendidik bagi seorang guru juga tidaklah mudah. Apalagi saat ini hukum seakan tidak memihak kepada mereka. Upaya pendisiplinan dari sang guru dikhawatirkan malah berujung pada hukuman penjara seperti beberapa kasus yang terjadi. Wali murid seakan tidak mau tahu dengan fakta yang sebenarnya dan secara membabi buta membela anaknya yang sebenarnya salah.

Realitas yang demikian membuat seorang guru harus berhati-hati. Hingga akhirnya membuat mereka cenderung cuek dengan tindakan indispliner yang dilakukan anak. Mereka hanya bermain aman dengan mengajar di kelas saja tanpa mengajarkan apa itu moral, displin, dan tanggung jawab.

Untuk itu, bagi para orang tua murid, sudah seharusnya kita senantiasa menghormati para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Lakukan komunikasi secara intensif sebagai sesama orang tua. Karena ketika di sekolah, para guru lah orang tua anak kita.

Jika ada kesalahan yang dilakukan anak di lingkungan sekolah, serahkan proses pendisiplinannya kepada pihak sekolah. Dengan catatan pendisiplinan bersifat mendidik bukan yang sekedar “premanisme” semata. Kita bisa membuat kesepakatan secara tertulis apa saja bentuk hukuman yang kita toleransi jika merasa hukuman di sekolah menjadi sesuatu hal yang sensitif.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.