READING

Sumber Dadapan dan Legenda Ande Ande Lumut

Sumber Dadapan dan Legenda Ande Ande Lumut

KEDIRI – Selain Goa Selomangleng, Kota Kediri juga memiliki destinasi wisata alam eksotik, Sumber Dadapan. Hingga kini masyarakat setempat masih merawat tempat tersebut, bersama legenda yang mengikuti.

Berada di Lingkungan Dadapan, Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Sumber Dadapan menjadi jujukan pengunjung untuk beristirahat. Selain tenang, lokasi ini begitu meneduhkan dengan suasana alam yang asri. “Namun selama musim kemarau ini airnya surut,” kata Inayah, warga sekitar Lingkungan Dadapan kepada Jatimplus.ID, Jumat 8 Nopember 2019.

Menurut Inayah, lokasi ini selalu menjadi jujukan pengunjung yang ingin mencari tempat teduh. Lokasinya yang tak jauh dari pusat kota menjadikan tempat tersebut strategis untuk ngadem.

Sayang seiring datangnya musim kemarau sumber air di tempat itu mulai surut. Demikian pula areal tanaman di sekitarnya tak lagi tampak. Biasanya tempat ini dikelilingi pohon-pohon besar seperti mahoni, pule, hingga serut.

Entah mengapa tempat ini juga tak menyediakan juru kunci. Menurut Inayah, sejak meninggalnya juru kunci lama beberapa tahun lalu hingga kini tak ada yang menggantikan. “Sekarang rutin dibersihkan lewat kerja bakti warga,” tambahnya.

Tak hanya membersihkan sumber airnya, warga setempat juga merawat kisah yang mengikuti Sumber Dadapan. Adalah Mbok Rondo Dadapan, leluhur yang konon menempati kawasan sekitar sumber yang menjadi cikal bakal tempat ini. Dia dikisahkan memiliki empat orang putri, yakni Kleting Abang, Ijo, Biru dan Kuning. “Kleting Kuning sendiri adalah Dewi Candrakirana, Putri Kerajaan Jenggala yang kabur dan menyamar. Dia diangkat anak oleh Mbok Rondo Dadapan,” terang Dwi Aris Setyawan, staf Sejarah Purbakala Disbudparpora Kota Kediri.

Pangeran Kusumayuda, putra mahkota dari Kerajaan Kadiri atau dikenal sebagai Panji Asmorobangun saat itu berusaha mencari calon istrinya yang menghilang. Ia pun terus mengembara dan menyamar menjadi Ande Ande Lumut.

Setelah bertahun-tahun mengembara, Ande Ande Lumut mengumumkan jika dirinya sedang mencari pendamping. Karena terkenal tampan, cerdas, dan kaya, banyak gadis-gadis yang antri mendaftar.

Kleting Kuning sendiri sebenarnya tidak terlalu berminat karena dirinya terlanjur menyukai pria lain yang pernah ditemuinya secara tidak sengaja. Namun karena mendapat wangsit dari angsa putih, Kleting Kuning pun akhirnya ikut serta meski dengan setengah hati. Sebelum berangkat, dia diberi pegangan berupa sapu dari daun kelapa yang ternyata adalah sapu sakti oleh Mbok Rondo Dadapan.

Dalam perjalanan, para gadis harus melewati sebuah sungai besar yang dijaga oleh kepiting air tawar bernama Yuyu Kangkang. Yuyu kangkang yang berukuran raksasa mau membantu para gadis menyeberang asalkan mereka mau dicium. Karena terburu-buru, para gadis pun bersedia.

Tidak lama berselang Kleting Kuning yang datang terlambat sampai di tepi sungai dan mendapat tawaran yang sama dari Yuyu Kangkang. Untuk menjaga kesuciannya, dia menolak permintaan untuk dicium. Yuyu Kangkang marah dan mencoba menyerang Kleting Kuning.

Kleting Kuning sontak memukul Yuyu Kangkang menggunakan sapunya. Sayang pukulan tersebut meleset dari tubuh Yuyu Kangkang dan justru mengenai badan sungai. Akibat pukulan tersebut, sungai pun terbelah sehingga memudahkan Kleting Kuning berlari menyeberang sungai. Kleting Kuning pun selamat.

Hingga sampailah dia di rumah Ande Ande Lumut. Meski tidak berdandan secantik dan se-glamour gadis lain, pesona dan kesucian Kleting Kuning tetap terpancar. Hingga berhasil menarik perhatian Ande Ande Lumut.

Tak disangka, setelah bertemu dan berinteraksi beberapa saat, Ande Ande Lumut menyadari jika Kleting Kuning adalah Putri Candrakirana yang dia cari. Begitu pula Kleting Kuning yang baru tahu jika Ande Ande Lumut adalah pria sederhana yang pernah ia temui sebelumnya dan berhasil memikat hatinya. “Singkat cerita, akhirnya keduanya pun menikah dan berhasil mempersatukan dua kerajaan,” tandasnya.

Ande Ande Lumut sendiri adalah salah satu cerita Panji yang lokasinya masih berdasarkan asumsi. Meski ada banyak versi lokasi, Aris meyakini jika tempat yang paling sesuai dengan latar belakang cerita Ande Ande Lumut adalah Lingkungan Dadapan, Kota Kediri.

Untuk melestarikan tempat itu, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri tetap memberikan perhatian lebih. Ini terlihat dari proyek pembangunan talud sumber yang menghabiskan anggaran sekitar Rp 334 juta. Tak hanya itu, dinas yang juga membawahi bidang kebudayaan tersebut terus menjaga cerita rakyat yang ada di sana.

Selain sumber air, tempat itu juga dipercaya menyimpan situs tempat Mbok Rondo Dadapan dikuburkan. Saat ini lokasinya menjadi satu dengan area pemakaman umum warga Lingkungan Dadapan. Bentuknya sama dengan makam pada umumnya. Hanya saja dibangun bale sederhana di atasnya dengan lantai ubin dan atap genting.

Penulis : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.