READING

Sumber Jiput, Mata Air Abadi di Kota Kediri

Sumber Jiput, Mata Air Abadi di Kota Kediri

KEDIRI – Sumber Jiput adalah salah satu destinasi wisata alam di Kota Kediri yang memiliki banyak mitos. Selain pohon yang hidup lagi setelah tumbang, terdapat bekas pertapaan yang dipercaya mampu mendatangkan angin kencang.

Berada di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, Sumber Jiput menjadi destinasi wisata alam yang eksotis. Berbeda dengan wisata alam lain yang mulai gersang di musim kemarau, Sumber Jiput seperti tak ada matinya. Bahkan debit airnya tak pernah surut meski diterpa kemarau panjang.

baca juga : Mendaftar CPNS Dengan Bantuan Jin, Mungkinkah

Bukan lantaran mistis. Keberlangsungan tiga mata air di Sumber Jiput dipengaruhi oleh banyaknya tanaman besar di sekelilingnya. Pohon-pohon inilah yang kemudian kerap dikaitkan dengan kisah mistis oleh masyarakat setempat.

baca juga : 5th Dhoho Street Fashion 2019 Akan Menampilkan Priyo Oktaviano dan Didiet Maulana

Abdul Rochim, salah satu warga di sekitar Sumber Jiput menerangkan rimbunan pohon Bendo yang tumbuh di tempat itu memiliki sejarah masing-masing. Ada pohon Bendo yang hidup ratusan tahun. Ada pula pohon Abar yang pernah roboh namun hidup kembali setelah dikembalikan ke posisi semula. “Sumber mata air di tempat ini tak pernah mati, dengan kedalaman sekitar 2,5 meter,” kata Abdul.

Sumber yang paling besar berada di sisi paling barat, yang sekilas menyerupai bendungan. Warga banyak memanfaatkannya untuk kolam pemancingan.

Sumber kedua berupa kolam kecil dengan debut air yang besar. Terdapat bibit ikan yang masih kecil di sana. Sedangkan sumber ketiga menyerupai aliran sungai dan masih banyak ditumbuhi semak belukar. Di tempat ini juga terlihat ikan berseliweran.

baca juga : Sumber Dadapan dan Legenda Ande-ande Lumut

Keberadaan ikan-ikan inilah yang mengundang kehadiran orang untuk memancing. “Tetapi ada masa dilarang memancing sana untuk menjaga keberlanjutan ekosistem ikan agar tidak habis,” terang Abdul.

Dibandingkan destinasi sumber air lain di Kota Kediri, Sumber Jiput tergolong paling terawat. Deretan warung berjajar di area pintu masuk dengan menawarkan berbagai makanan. Mulai makanan berat hingga camilan ringan ada di sana. Termasuk kopi dan teh hangat yang menjadi kegemaran pengunjung.

Banyaknya pedagang makanan yang ada di sana membuat tempat ini makin hidup. Selain warung, terdapat pula pedagang makanan gerobak seperti pentol dan siomay. Pedagang ini berada di area parkir yang terletak lebih tinggi di banding lokasi sumber air. Karenanya disediakan anak tangga dengan pegangan besi sebagai panduan menuju sumber.

baca juga : Eskpedisi Wonosalam Sejarah Hitam Perkebunan Kopi Zaman Belanda

Air di tempat ini sangat jernih dan terawat.  Di sumber yang paling besar dibangun talud dan pagar pembatas agar tak meluap. Terdapat pula persemaian bibit ikan dan bunga teratai di atasnya sebagai upaya konservasi habitat air tawar.

“Sudah banyak kegiatan tebar bibit ikan di sini. Juga kegiatan menanam pohon di sekitar sumber baik dari instansi maupun perseorangan,” tambah Abdul.

Pengelola wisata juga membangun toilet dan wahana bermain anak dengan luas lahan sekitar enam ribu meter persegi. Tidak ada biaya untuk masuk ke sana. Bahkan jasa parkir pun gratis. “Petugas kebersihan digaji oleh kelurahan. Penggratisan ini bertujuan agar masyarakat tidak segan berkunjung.

Meski sudah terlihat memadai, upaya pembenahan Sumber Jiput terus dilakukan. Rencananya tempat ini akan dilengkapi dengan hutan mini. Hutan itu memanfaatkan tanah bengkok seluas dua hektar yang masih dalam proses penyelesaian administrasi.

Legenda Sungging Prabangkoro

Tidak hanya keindahan alam yang eksotis, Sumber Jiput menyimpan legenda yang kuat. Salah satunya adalah legenda Sungging Prabangkoro.

Alkisah ada seorang seniman bernama Sungging Prabangkoro yang hidup di jaman dahulu. Dia adalah seorang ahli lukis yang cukup dikenal seantero Kerajaan Kadiri.

Suatu saat, Sungging Prabangkoro diminta melukis permaisuri Raja Kadiri dengan sangat detail. Bukannya senang, Sang Raja justru marah melihat hasil lukisan itu. Sungging Prabangkoro dianggap kelewatan dengan melukis tahi lalat sang permaisuri lantaran berada di area yang cukup pribadi. “Dia dianggap kurang ajar karena menggambarnya terlalu detail,” cerita Abdul.

Karena tidak suka, sang raja pun kemudian membuat sayembara menggambar di atas awan. Sungging Prabangkoro pun menyanggupinya dan mengajak serta dua saudaranya yakni Sungging Ngadiluwih dan Sungging Tilasan. Mereka berencana menggunakan layang-layang untuk bisa sampai di ketinggian.

Sungging Ngadiluwih bertugas manjer (menerbangkan) layangan di area Ngadiluwih. Sedangkan Sungging Tilasan yang juga seorang pertapa bertugas mendatangkan angin dengan bersemedi di Sumber Jiput. Sungging Prabangkoro kemudian naik ke atas layangan untuk melukis.

Ketika posisi Sungging Prabangkoro di atas layangan, tiba-tiba sang raja memotong tali layang-layang. Akibatnya Sungging Prabangkoro terbawa hembusan angin yang sangat kencang hasil ritual Sungging Tilasan. Inilah mengapa tempat bertapanya disebut sebagai Sumber Jiput yang artinya sumber angin.

Legenda itu tak berhenti di sana. Konon hingga era kolonial Belanda, area sumber masih terus menghembuskan angin kencang. Banyak manusia hingga hewan-hewan ternak yang hilang ketika berada di sekitar sumber. “Makanya oleh kompeni area sumber ditutup banyak sapu ijuk sampai beberapa cikar (pedati),” beber Abdul.

Hingga kini masyarakat sekitar masih mempercayai keberadaan Sungging Tilasan di sana. Mereka juga kerap melihat penampakan ular sepanjang 2,5 meter sebesar guling, tanpa kepala dan tanpa ekor. “Tapi itu hanya kepercayaan masyarakat saja. Tetap aman kok tidak pernah ada hal-hal aneh,” pungkasnya. (Adv)

Penulis : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.