READING

Sumber Ngasinan, Wajah Rimba Kota Kediri

Sumber Ngasinan, Wajah Rimba Kota Kediri

KEDIRI – Jika menganggap seluruh kawasan Kota Kediri dipenuhi pemukiman dan gedung modern, salah besar. Faktanya terdapat sebuah kawasan tersembunyi dengan suasana rimba yang jarang tersentuh manusia.

Tempat itu adalah Sumber Ngasinan. Mata air yang terletak di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota Kediri ini masih sangat asri dan tak banyak dikunjungi orang. Kalaupun ada yang ke sana sudah pasti adalah penduduk setempat.

baca juga: Warga Trenggalek Tukar Sampah Dengan Buku

Saking tersembunyinya tempat ini membuat Sumber Ngasinan bahkan tak bisa dilacak dengan perangkat Google Maps. Beberapa kali petunjuk arah yang ditembakkan satelit itu menemui jalan buntu.

Celakanya, tempat itu juga ternyata tak banyak diketahui warga yang bermukim di Perumahan Rejomulyo. Padahal perumahan ini berada di kawasan Sumber Ngasinan. Hal ini makin menguatkan gambaran Sumber Ngasinan yang nyaris tak pernah dijamah manusia.

baca juga: Berkunjung ke Tebuireng Wamen Agama Jelaskan UU Pesantren

Upaya mencari keberadaan Sumber Ngasinan mulai menemukan titik terang setelah seorang penduduk asli Rejomulyo memberikan arah. Ternyata jalan menuju sumber air itu harus melalui jalanan kecil di samping lapangan, dekat masjid besar di Jalan Ngasinan. “Terus saja berjalan hingga menemukan pertigaan kecil. Ikuti jalan ke arah timur hingga menthok,” kata warga tersebut.

baca juga: Didik Nini Thowok Titisan Centini

Seperti diduga, jalan tersebut bukan menjadi akhir perjalanan mencari Sumber Ngasinan. Karena etape berikutnya adalah menembus rerimbunan pohon belukar sejauh 100 meter yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Busyet.  

Sumber Ngasinan yang tersembunyi. Foto Jatimplus/Dina Rosyida

Entah mengapa tak ada yang membuka akses jalan ke arah sana. Yang ada hanyalah jalanan tanah setapak yang menurun tajam. Jalanan ini terasa licin setelah diguyur hujan. Satu-satunya penolong adalah plengsengan irigasi yang menjadi pijakan menuju sumber air.

Beruntung ekspedisi ini tak makin mencekam setelah terlihat aktivitas beberapa orang di aliran sungai. Tampak seorang pria memandikan anaknya di atas bangunan semen di tengah sungai. Di sampingnya terdapat seorang perempuan yang mencuci pakaian.

Ternyata mereka adalah satu keluarga. Bambang, kepala keluarga yang memandikan anak mengatakan jika sumber air masih berada cukup jauh ke arah belantara. “Ini hanya aliran sungainya. Kalau sumurnya masih harus berjalan ke sana,” terangnya sambil menunjuk ke arah timur tempat pepohonan raksasa berada.

Tidak ada jalur yang bisa dilewati menuju ke sana. Hanya terlihat semak belukar yang rimbun di sisi kanan kiri sungai. Pepohonan besar seperti pohon pule, pohon bendo, pohon kepuh dan pohon ingas hanya bisa dilihat dari kejauhan.

Menurut Bambang, masih banyak ular besar dan biawak yang hidup berkeliaran di tempat itu. Hal inilah yang membuat warga malas mengunjungi tempat itu meski untuk mandi atau mencuci.

Padahal air di sendang ini tak pernah surut di musim kemarau. Tak hanya jernih, airnya juga terasa dingin dengan aliran yang deras. Suasananya persis hutan belantara, dan tak nampak tanda-tanda modern yang menjadi ciri kawasan kota.

Bambang dan keluarganya mengaku kerap mandi dan mencuci di tempat itu. Padahal di rumahnya juga terdapat bilik untuk MCK. “Kalau nyuci di sini lebih cepat dan gampang. Mandi juga lebih segar,” jelas Bambang.

Keluarga Bambang bukan satu-satunya yang beraktvitas di tempat itu. Di sudut lain tampak sekumpulan anak kecil yang mengelilingi perapian. Rupanya mereka tengah membakar rajungan, sejenis kepiting yang berkeliaran di sungai. Jika beruntung, mereka bisa menangkap ikan yang tak kalah banyak di aliran sungai.

Sumber Ngasinan memang benar-benar perawan. Jika dikelola dengan baik, tempat ini akan menjadi destinasi wisata alam unggulan Kota Kediri.

Pemerintah Kota Kediri sempat menyentuh kawasan itu dengan membangun plengsengan dan kolam. Rencananya bangunan itu akan menjadi tempat budidaya ikan warga setempat. Namun sayangnya budidaya itu tak berumur panjang.

Meski terkesan “seram”, tidak ada legenda yang menyertai Sumber Ngasinan. Warga hanya mengetahui sejarah tempat itu sebagai lokasi ngasin sapi di zaman dulu. Ngasin adalah menjilat atau memakan kapur yang ada di tempat itu. Aktivitas inilah yang diduga menjadi cikal bakal nama Ngasinan.

Lokasinya yang dekat dengan Pondok Pesantren Al Amien membuat lokasi tersebut cukup kondusif. Tidak ada aktivitas ganjil di sana, meski sesekali digunakan para penjudi untuk mencari nomor togel. (Adv)

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.