READING

Sumber Ubalan yang Disumpal Lidi, Hingga Kisah Jok...

Sumber Ubalan yang Disumpal Lidi, Hingga Kisah Joko Gendam

KEDIRI – Sumber Ubalan sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda. Selain untuk mengaliri lahan pertanian, sumber ini juga digunakan sebagai tempat pariwisata. Terletak di Dusun Kalasan, Desa Ubalan, Kecamatan Plosoklaten, Kebupaten Kediri. Dari sumber ini  mengalir air yang cukup jernih. Saking jernihnya, airnya dialirkan ke kolam renang untuk dijadikan tempat wisata. Air dari sumber ini juga digunakan untuk mengairi areal persawahan yang berada di dua kecamatan.

Sumber air Ubalan sudah dikelola sejak zaman Kolonial Belanda. Sumber Ubalan mulai dibangun oleh pemerintah Belanda sejak tahun 1891. Hal itu terlihat dari tanda di pintu air sumber yang tertera angka tahun pembukaannya.  

Banyak kisah-kisah unik yang berkembang di masyarakat sekitar sumber. Salah satunya seperti dikisahkan Sukarmin warga Dusun Kalasan yang menjadi penjaga. Dikatakannya, bahwa  sebelum dibangun oleh pemerintah Belanda, sumber itu merupakan sumber yang liar yang ada di tengah hutan. “Untuk menemukannya, Belanda harus membabat hutan terlebih dahulu,” terang pria 61 tahun yang biasa dipanggil Pak Min ini.

Selain ada di tengah hutan, aliran sumber ini dulunya sangatlah besar. Konon, air yang keluar dari tanah melewati titik sumber yang memiliki diameter hingga 2 meter. Karena ditakutkan semakin lebar dan merendam wilayah Kecamatan Plosoklaten. Saat itu diperkecil lah titik sumber itu. Pihak pemerintah Hindia Belanda akhirnya berkordinsai dengan warga sekitar untuk memperkecil aliran sumber itu. “soal harinya ya manut perhitungan jawa saat itu,” ungkapnya.

Setelah hari ditentukan, upaya memperkecil sumber itu pun dilakukan. Tidak mudah memperkecil sumber liar ini. Sukarmin menerangkan dengan petunjuk cara Jawa, saat itu pihak kolonial Belanda akhirnya menutup sebagian sumber itu dengan disumpali bahan-bahan yang terbuat dari lidi aren, pohon kedelai, hingga kapas. Atas upaya tersebut akhirnya titik sumber Ubalan pun mengecil. “Setelah mengecil, disekitar sumber dibangunlah bendungan dan saluran air agar aliran sumber bisa teratur,” terang bapak 4 anak ini.

Pintu air Sumber Ubalan yang tertera tahuh pembuatannya pada tahun 1891. FOTO: JATIMPLUS.ID/Moh. Fikri Zulfikar.

Walaupun sudah diperkecil, pada tahun 1970-an oleh warga sekitar sumber masih dirasa besar dan dikawatirkan akan kembali membesar. Dengan usaha bayan desa saat itu ditutuplah beberapa titik sumber untuk kembali memperkecilnya. Dengan batu besar, akhirnya titik sumberpun sebagian ada yang ditutup. Menurut Pak Min Sekarang titik sumber hanya ada 3 titik. Ukuran paling besar titik sumber itu kini hanya memiliki diameter 30 cm.. “Dulu ditakutkan sumbernya membludak lagi dan mengalir ke rumah-rumah warga karena saking melimpah airnya,” ungkap Pak Min.

Pada zaman Belanda air sumber tak hanya digunakan untuk pertanian, namun juga telah digunakan untuk mengaliri kolam renang sama seperti saat ini. Pak Min menunjukkan bekas puing-puing kolam renang pada zaman belanda yang sekarang sudah tidak digunkan. Kolam renang itu terletak di sebelah barat kolam renang yang sekarang digunakan untuk wisata. “Dulu kolam ini digunakan untuk latihan renang kusus untuk anak-anak Belanda,” terang Pak Min.

Tak hanya cerita sejarah yang menyelimuti sumber Ubalan ini. Cerita mitos pun hadir dan memperkaya khasanah kelokalan sumber ini. Konon menurut warga sekitar Sumber Ubalan adalah tempat hilangnya pasangan Joko Gendam dan Asmaradana. Keduanya menyelam ke sumber untuk lari dari kejaran Adipati Panjer dari Kerajaan Kediri. “Ya ini cerita masyarakat, boleh percaya boleh tidak,” ungkap Pak Min.

Kisah itu bermula ketika Adipati Panjer saat itu memiliki Ayam Jago aduan yang tak ada tandingannya. Didampingi oleh Asmaradana istrinya, Adipati Panjer selalu menang di medan laga. Namun saat melawan Ayam Jago milik Joko Gendam, ayam sang Adipati mengalami kesulitan hingga akhirnya kalah.

Di saat pertarungan itu berlangsung, ternyata Joko Gendam pun melihat paras cantik Asmaradana. Selain memiliki ayam yang tangguh Joko Gendam juga mempunyai perawakan yang kekar sehingga menarik perhatian Asmaradana. “Ceritanya saat pertandingan itu Joko Gendam dan Asmaradana sudah saling cinta dan saling lirik-lirikan,” paparnya.

Setelah pertandingan adu ayam yang dimenangkan Ayam Jago milik Joko Gendam, karena merasa saling mencinta, Joko Gendam pun mengajak lari Asmaradana untuk menjadi kekasihnya. Namun niat itu diketahui Adipati Panjer. Terjadilah kejar-kejaran antara Joko Gendam yang melarikan Asmaradana menghindari Adipati Panjer bersama pasukannya. Pengejaran itu akhirnya sampai di Sumber Ubalan. “Karena Joko Gendam dan Asmaradana tidak ingin ditangkap serta berjanji akan bersama sehidup semati. Akhirnya mereka memutuskan untuk terjun ke sumber dan hilang,” terang Sukarmin.

Karena janji cinta suci antara Joko Gendam dan Asmaradana menyelimuti Sumber Ubalan ini, konon mitosnya hingga saat ini, jika ada pasangan muda-mudi yang pacaran di sekitar Sumber Ubalan  mereka banyak yang akhirnya menikah atau akan menjadi jodoh. Sehingga tak ayal kemungkinan karena mitos ini terlihat di sekitar sumber banyak muda-mudi yang pacaran yang sepertinya mendamba berjodoh layaknya Joko Gendam dan Asmaradana. (Advertorial)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.