READING

Sungai di Tengah Kota Surabaya itu Masih Memberika...

Sungai di Tengah Kota Surabaya itu Masih Memberikan Ikan Gratis pada Warganya

Peradaban bermula dari sungai, demikian sejarah menuliskan dua sungai tua, sungai Eufrat dan Tigris di Timur Tengah. Pun kota-kota di Nusantara, sungai mencatat asal muasal peradaban. Hanya ketika musim hujan, sungai kerap menjadi asal petaka. Tidak dengan Kota Surabaya.

SURABAYA- Kali Surabaya itu membelah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Ia membawa kisah kota itu, hanyut bersama alirannya hingga bermuara di Sungai Brantas. Secara kasat mata bisa dilihat, sebuah sungai yang terawat dan tak menampung sampah sebagaimana kebanyakan sungai-sungai di kota besar. Bagi Kota Surabaya, sungai adalah bagian kota yang mematut diri dan memberi kebahagiaan warganya.

Pencari ikan di Kali Surabaya. Mereka mencari ikan pada pagi dan sore hari menggunakan jaring. Terkadang masih ada yang menggunakan setrum.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

Pagi masih mentah di kawasan Gunung Sari, Kota Surabaya. Jarum jam menunjukkan angka 06.05 WIB. Kendaraan sudah ramai melintas meski hari itu hari Minggu, 28/04/2019. Rupanya, tak ada hari Minggu bagi perawatan kota. Mobil tangki air menyiram tanaman di sepanjang pembatas jalan. Sebab tiap hari, tanaman membutuhkan air apalagi jika tidak hujan semalam. Pun para personil Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kebersihan Saluran Pematusan, Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya. Meski aktivitas sudah ada sejak lama, struktur organisasi diperkuat dengan Perwali No. 50 Tahun 2016.

“Saya kerja dari jam enam pagi sampai jam 6 sore,” kata Suroso (65tahun), petugas DKRTH. Ia punya libur satu hari dalam seminggu, tergantung pembagian shift. Suroso sedang mencabuti rumput di plengsengan Kali Surabaya. Selain membersihkan rumput, tugas Suroso dan rekan-rekannya adalah memastikan sungai bersih dari sampah. Tak jauh dari Suroso bekerja, ada 2 orang petugas mengangkut sampah yang mengambang di permukaan sungai dengan perahu. Dua petugas lainnya membersihkan sampah di seberang sungai.

Suroso, petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kebersihan Saluran Pematusan, Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya sedang membersihkan rumput.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

“Kalau ketahuan ada sampah di sungai, Bu Risma akan marah,” kata Suroso. Tri Rismaharini, wali kota Surabaya memang kerap “marah-marah” bila melihat ketidakberesan. Tak segan ia turun sendiri untuk membereskan hal yang bagi sebagian orang tak harus dilakukan oleh wali kota. Menyapu jalanan, membersihkan jembatan, dan lain-lain. Risma memberi contoh, bukan hanya memerintah. Rupanya hal itu justru membuat stafnya menjadi segan dan patuh.

Suroso mengisahkan, kemarahan Risma tak membuatnya patah. Ia justru makin bersemangat untuk menjalankan tugasnya. Dari gaji Rp 840.000,-/bulan ketika ia masuk ke DKRTH tahun 2011. Ia bekerja 24 jam. Hal ini dilakoni karena kepastian penghasilan. Sebelumnya, Suroso menjadi tukang becak dan sesekali buruh bangunan dengan pendapatan tak pasti.

“Lalu Bu Risma dengar, beliau marah-marah. Lalu dipegang sendiri dan gaji kami dinaikan (sebesar) UMR. Kerjanya jadi shift,” terang Suroso. Sejak tahun 2014, gaji Suroso naik menjadi Rp 1.750.000,-/bulan. Tiap tahun naik hingga kini gajinya mencapai Rp 3,8 juta/bulan.

“Saya digaji Rp 800 ribu saja semangat, apalagi sekarang,” katanya semringah. Cara berterima kasih Suroso pada wali kotanya yang ia anggap memerhatikan nasibnya dengan bekerja sungguh-sungguh. Ia mengawasi orang yang buang sampah di sungai dan mengejarnya. Kadang-kadang tertangkap basah, ditegurnya. Namun sering kali tidak terkejar karena pembuang sampahnya menggunakan sepeda motor. Berhenti sebentar, membuang sekatong sampah ke sungai, lalu tancap gas lagi.

Warga tak bertanggung jawab membuang sampah ke Kali Surabaya biasanya pada malam hari. Paginya, Suroso dan kawan-kawan membersihkannya. Tanpa mengeluh. Tanpa sibuk menyalahkan. Ia hanya tahu menjalankan tugasnya.

“Sebenarnya Bu Risma sudah membuat aturan. Denda Rp 500.000,- bagi yang tertangkap buang sampah. Tapi tidak ada yang menindaklanjuti. Yang ngawasi juga masih kurang,” tuturnya.

Ketekunan Suroso dkk menampakkan hasil. Kali Surabaya bersih dari sampah yang mengapung dan mengalir lancar. Pada musim hujan seperti bulan ini pun, masih menampung limpahan air dan melanjutkannya ke Sungai Brantas lantas ke laut sebagaimana fitrah air. Mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah dan berakhir ke laut.

Sungai yang mengalir normal ini pun mengundang ikan-ikan untuk hidup di sana. Bukan hanya ikan sapu-sapu tentunya melainkan ikan yang bisa dikonsumsi. Saban pagi, para pencari ikan bisa ditemukan di sepanjang aliran Kali Surabaya. Sungai yang mengalir di tengah kota itu masih memberikan lauk untuk warganya.

Irno, warga Gunung Sari mencari ikan di Kali Surabaya tiap hari. Ia mencari ikan di sungai ini sejak 2005.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

“Kalau airnya keruh begini hanya dapat 2kg/hari,” kata Irno, salah satu pencari ikan. Ada 4 orang pencari ikan lain yang sedang mengadu peruntungannya, tak jauh dari Irno. Beberapa hari lalu hujan mengguyur kota sehingga mengeruhkan aliran sungai. Pagi itu, ia baru mendapatkan 2 ekor ikan mujair sebesar telapak tangan orang dewasa.

Irno mencari ikan di Kali Surabaya sejak tahun 2005. Jika airnya jernih, ia dapat ikan sampai 5kg bahkan lebih. Sungai bersih, ikan yang didapatkan pun semakin banyak. Bila hasil tangkapan banyak, ia menjual ke pasar. Jika kurang dari satu kilogram cukup untuk konsumsi sendiri. Irno menggunakan jala untuk menangkap ikan.

“Kalau pakai jala, ikan yang besar saja yang tertangkap. Tidak semuanya. Jadi ikannya ada terus,” kata Irno. Ia merasa gelisah dengan orang-orang yang menyetrum ikan. Di Kali Surabaya, menjelang senja, biasanya penangkap ikan dengan setrum ini beraksi.

Suroso dengan suka rela mengawasi orang-orang yang mencari ikan dengan cara disetrum. Ia hanya bisa menegur. Memang aktivitas akan dilanjutkan jika Suroso tak melihat. Setidaknya ia melakukan yang ia bisa untuk menjaga Kali Surabaya sesuai tugasnya. Mempertahankan sungai agar bisa menjalankan tugasnya secara normal. Mengatur debit air di Kota Surabaya agar tak meluap jika curahan hujan dari langit melimpah. Pun kafe-kafe di sepanjang sungai yang tumbuh. Beberapa kafe memang menyalahi aturan sebab pinggiran sungai hendaknya bebas dari bangunan. Juga memberi kebahagiaan sederhana bagi warganya, berupa gurihnya ikan air tawar dan pemandangan yang menyejukkan. Semoga menginspirasi pengelola sungai di kota besar lainnya.

Petugas DKRTH sedang membersihkan sampah di permukaan sungai dengan perahu.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI
Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.