READING

Tahoe Games : Dari Permainan Bisa Jadi Jutawan

Tahoe Games : Dari Permainan Bisa Jadi Jutawan

KEDIRI – Di zaman yang serba digital ini, apapun bisa dikomersilkan dan menjadi sumber penghasilan. Bahkan seorang gamers (pemain game) bisa menghasilkan uang dalam bentuk dolar dan dapat menjuarai perlombaan tingkat internasional. Makanya saat ini jangan memandang remeh profesi seorang gamers.

Hermawan Andika, co-founder Tahoe Games Studio bersama game artist-nya yakni Kriswin Yuniar berbagi cerita tentang dunia bisnis di bidang games. Sebelumnya, Hermawan merupakan seorang dosen yang kemudian memilih resign dan terjun di dunia game. Dia memilih bergabung di studio yang dibangun oleh adiknya yang bernama Robertus Rahadian Haris.

Haris sendiri membangun studio game sejak tahun 2011 bersama sepupunya yang jago menggambar yakni Utong Akbar. Studio tersebut terus berkembang. Di tahun 2015, studio yang sebelumnya bernama “Useless” tersebut melakukan perubahan nama menjadi “Tahoe” agar lebih mudah dikenal. Saat itulah Andik dan Kriswin bergabung dengan Tahoe Games Studio.

“Nama Tahoe diambil karena Kota Kediri terkenal sebagai Kota Tahu,” terangnya dalam podcast milik Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar yang diunggah di akun youtubenya (06/07).

Kriswin sendiri sebelumnya adalah seorang pramuniaga di minimarket. Setelah delapan bulan menjalani rutinitasnya disambi dengan jualan kripik di halte-halte, Kriswin kemudian memutuskan untuk banting stir menjadi komikus. Sebenarnya dia tidak memiliki latar belakang pendidikan bidang seni lukis. Dalam mendalami karirnya, dia hanya berbekal hobi menggambar dan bergabung dalam komunitas komik. Dari situlah Kriswin mulai belajar menggambar secara digital melalui photoshop.

Pada tahun 2013, Kriswin tertarik dengan dunia game sehingga dia memutuskan untuk mendalaminya di Surabaya. Di sanalah, dia bertemu dengan Haris yang menjadi founder Tahoe Games dan kemudian memutuskan untuk bergabung di studio yang dirintisnya. “Sejak bertemu, saya mulai join. Ternyata di Kediri juga ada studio game, kenapa saya jauh-jauh ke Surabaya,” ungkapnya.

Memang saat ini bisnis di bidang produksi games masih dilihat sebelah mata oleh kebanyakan orang. Padahal prospeknya cukup menjanjikan. Menurut Andik, saat ini karya apapun sudah ada pasarnya masing-masing. Termasuk permintaan terhadap produk games. Seperti game “Rising Hell”, salah satu game buatan Tahoe Games ini pasarnya ada di Steam (steampowerd.com). Game ini cukup diminati di China dan Amerika Serikat.

Selain itu, mereka juga mengirim email penawaran ke perusahaan-perusahaan publisher di dunia untuk mau melihat dan membeli produk game mereka. “Contohnya Kiz10 (kiz10.com),” tambah Andik. Hanya saja yang paling sering mereka lakukan adalah menunjukkan tampilan pratinjaunya di komunitas karena di sana ada beberapa publisher yang terus memantau perkembangan produk game terbaru. Jika tertarik, para publisher tersebut bisa menghubungi pihak pembuat untuk melakukan negosiasi. “Selama menjalankan bisnis ini, kita juga terus belajar. Ke depannya kita ingin bisa publish sendiri dan bisa dapat uangnya,” harapnya.

Meski terlihat malas dan tidak produktif, seorang gamers sebenarnya belajar banyak hal dari bermain game. Mulai dari melatih logika, kemampuan berpikir strategi, hingga kemampuan dalam mengambil keputusan secara cepat. Belum lagi bahasa asing yang ada di game membuat pemainnya mau tidak mau harus mempelajari bahasa yang digunakan di dalam permainan.

“Baik untuk pemain game maupun pembuatnya, sama-sama banyak keuntungannya asal diarahkan dengan benar,” ungkap programmer Tahoe Games ini.

Untuk para pendatang baru di dunia game, Kriswin memberi saran agar belajar dulu programming game. Bisa dipelajari secara otodidak di youtube atau belajar di lembaga pendidikan formal seperti perguruan tinggi yang membuka program studi khusus game. Jangan lupa untuk bergabung dengan komunitas games karena di sanalah ada banyak ilmu baru berdasarkan dari pengalaman para anggota komunitas.

Dia juga menyarankan agar mereka mau kerja dulu di studio game. Ada banyak ilmu di luar dunia programming game yang harus dipelajari. Mulai dari cara membangun jaringan dan koneksi hingga cara mengembangkan studio games berbasis bisnis. “Jangan tergesa-gesa buat studio sendiri kecuali kalau memang punya modal besar, karena terjun di industri game tidak semudah yang dibayangkan,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.