READING

Tahun Baru Islam 2019, Sejarah Tradisi dan Keutama...

Tahun Baru Islam 2019, Sejarah Tradisi dan Keutamaanya

Tahun baru Islam 2019 atau jatuh setiap 1 Muharram selalu bersamaan dengan 1 Suro dalam penanggalan Jawa. Kehadirannya selalu disambut dengan kemeriahan dan ritual. Mulai pawai santri hingga jamasan pusaka.

TULUNGAGUNG- Di Kabupaten Tulungagung misalnya. Sebuah tombak kuno bernama Kiai Upas biasanya dijamas. Pusaka yang berasal dari era awal Kerajaan Mataram Islam itu direndam, dibasuh, dibersihkan dengan menggunakan rendaman ramuan khusus.

Racikan itu berupa air kelapa dengan tambahan beberapa unsur, seperti warangan, perasan jeruk nipis, dan taburan kembang. 

Ritual turun temurun setiap bulan Muharram itu selalu berjalan khusyuk dan hati hati. Berbagai pantangan selama berlangsungnya prosesi tetap dipertahankan, yakni semisal para perempuan tidak boleh menyaksikan penjamasan.

Selama proses berlangsung doa digumamkan dalam bahasa Arab campur lafal Jawa. Di penutup acara, warga berebut air bekas jamasan yang diyakini sebagian orang menyimpan keramat.

Biasanya, melalui mikropon panitia akan berteriak teriak mengingatkan untuk tidak meminum air bekas jamasan. Karena warangan adalah racun. 

“Sudah menjadi tradisi setiap tahun di Tulungagung, “tutur Efendi, warga Kepatihan Tulungagung.

Di Kabupaten Blitar, tahun baru Islam disambut dengan upacara larung sesaji di Pantai Serang kawasan Blitar selatan. Setelah pemanjatan doa dan mantra, gunungan atau tumpeng hasil bumi dilepas ke lautan. Begitu juga di Kabupaten Trenggalek. 

Di sejumlah pondok pesantren di wilayah Kediri dan Blitar, tahun baru Islam selalu disambut dengan pawai kemeriahan. Kemudian setelah itu berlanjut dengan berdoa bersama. 

Tahun Baru Islam atau 1 Muharram 1441 H ini diperkirakan jatuh pada Minggu, 1 September 2019. Lalu seperti apa sejarah tahun baru Islam itu sendiri ?.

Hijrah Kanjeng Nabi

Secara historis, tahun baru Islam 1 Muharram dinisbatkan kepada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yastrib atau Madinah. Peristiwa hijrah itu sebenarnya terjadi  antara bulan Shafar hingga Rabi’ul Awal.

Namun keputusan untuk hijrah itu ditetapkan Rasulullah pada bulan Muharram. 

Kesepakatan itu diambil setelah 75 orang Madinah menyatakan siap membela dan melindungi kanjeng nabi. Peristiwa itu dikenal dengan nama bai’atul aqabah

Peristiwa hijrah Rasulullah sekaligus menjadi momentum dalam menetapkan tarikh atau penanggalan Islam. Keputusan menetapkan penanggalan Islam ini dilakukan Khalifah Umar bin Khatab (634-644 M)

Muharram Bulan Syahrullah

Dalam tradisi Islam, bulan Muharram diimani memiliki banyak keutamaan. Muharram menjadi salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. 

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram” (QS At-Taubah 9 :36).

Haram dimaknai sebagai terlarang melakukan kekerasan dan kemaksiatan. Namun bukan berarti berarti diluar Muharram, larangan itu tidak berlaku. 

Dalam HR Bukhari dan Muslim, Rasulullah menegaskan dalam sabdanya, “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di saat Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang dihormati, tiga bulan berturut turut : Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat diantara bulan Jumadats-tsani dan Sya’ban”.

Dalam sejumlah hadist lain menyebutkan bulan Muharram sebagai Syahrullah atau Bulan Allah. Muharram disandingkan dengan lafdzul jalalah atau lafal Allah Yang Agung, yang bermakna pemuliaan atau tasyrif.

Keutamaan Puasa Muharram

Dalam bulan Muharram umat Islam disunahkan untuk berpuasa. Sebab dalam Muharram terdapat sebuah hari yang dikenal dengan yaum al-‘asyura’, yaitu tanggal 10 Asyura yang bersumber dari “asyarah” yang berarti sepuluh.

Umat muslim mengenalnya sebagai puasa Asyura. Seperti disabdakan Rasulullah: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram”(HR Muslim). 

Dalam HR Bukhari dan Muslim, kanjeng Nabi Muhammad juga menyampaikan, puasa Asyura dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya. “Aku berharap kepada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya”. 

Konteks Islam Nusantara

Dalam konteks budaya Jawa, datangnya tahun baru Islam dirayakan dengan membuat makanan bubur Suro. Ini biasanya dilakukan umat muslim di pedesaan.  Hingga hari ini tradisi itu masih terjaga dengan baik.

Di daerah Bengkulu, tahun baru Islam dirayakan dengan menggelar upacara tradisional tabot. Begitu juga di Minangkabau yang menggunakan istilah tabuik

Upacara yang berlangsung antara waktu 1-10 Muharram itu merupakan tradisi Syiah untuk memperingati peristiwa Karbala, yakni gugurnya Hasan-Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. 

Demikian penyambutan sekaligus kemeriahan yang berlangsung di setiap tahun baru Islam bulan Muharram. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.