READING

Tak Hilang, PSK di Jawa Timur Hanya Pindah Tempat

Tak Hilang, PSK di Jawa Timur Hanya Pindah Tempat

TULUNGAGUNG – Warung kopi milik seorang calon legislator di Kabupaten Tulungagung sedang ramai. Bukan hanya pembeli kopi dan tahu goreng kecap yang antre, siang itu pemilik warung tengah mengobral discount atau potongan harga demi menuai simpati calon konstituen.

Sepanjang hari warung yang berada di dalam gang itu memang ramai. Suara musik koplo yang meluncur keras dari audio televisi menambah keriuhan warung yang didesain semi terbuka. “Di sini enak, ada wifinya,” kata seorang remaja yang mojok di dekat colokan listrik.

Mendadak sebuah motor jenis Honda Scoopy mendekat. Penunggangnya dua perempuan yang tak kunjung melepas helm. Mereka juga tak mematikan mesin motor sampai seorang pengunjung warung beranjak menghampiri. Tak jelas apa yang mereka ucapkan.

Namun sejurus kemudian dua perempuan itu melepas helm. Wajah mereka tak kunjung terlihat karena masker yang menyelimuti muka. Salah satunya berambut pirang yang dicat seperti blonde.

Meski masih menutup muka, terbayang usia mereka yang masih berkisar 20-an tahun. Kaos mini yang terbatas di bagian atas dan bawah memajang bagian pusar dan belahan dada cukup lega. Pemandangan itu terlihat usai dua cewek tersebut melepas jaket dan mengikuti langkah pria yang menghampirinya ke dalam warung.

Seeerrrr………seluruh pengunjung warung nyaris tak berkedip. Mata mereka terpaku pada dua perempuan yang masuk ke warung. Posisi duduk yang dipilih cukup strategis. Di depan meja kasir dan etalase makanan, tempat yang paling sering disatroni pengunjung untuk membayar dan mengambil makanan.

Dan entah mengapa, tiba-tiba metabolisme para pengunjung warung yang semuanya laki-laki meningkat. Pencernaan mereka bekerja cepat untuk memproses makanan di dalam lambung agar bisa dijejali lagi dengan makanan baru. Ini terlihat dari meningkatnya hilir mudik pengunjung di etalase makanan sambil melirik mereka.

Seperti dikomando, pandangan pengunjung warung mengarah ke meja kasir setelah salah satu dari perempuan itu beranjak dari kursi untuk memesan makanan. Kali ini masker yang menyelimuti muka sudah terlepas. Wajahnya penuh make up dengan porsi mencolok.  

“Jangkrik, lumayan cah. Arek endi iku, gak tau ketok,” sergah seorang pria yang langsung menyalakan rokok.

Pemilik warung yang datang mengantar makanan menjadi sasaran pertanyaan. Rupanya pemilik warung yang juga politisi sudah cukup mengantongi identitas dua tamunya yang bahenol. “Mereka purel yang tergusur dari Blitar. Beberapa hari ini sering kesini. Namanya S dan W,” terangnya.

Deg. Purel? Penjelasan itu menjawab penampilan mereka yang sexy.

Tergusur paksa

Jauh sebelum S dan W “ditemukan” di warung Tulungagung, keduanya adalah pemandu lagu di salah satu rumah karaoke di Blitar. Bertahun-tahun mereka mencari pendapatan dengan menemani pengunjung menyanyi.

Tak jelas seperti apa definisi “menemani” ini. Faktanya, saat petugas Kepolisian Daerah Jawa Timur menggerebek tempat mereka bekerja, ditemukan dua buah kondom yang sudah terpakai di ruang karaoke. Belakangan polisi mengumumkan telah terjadi tindak pornografi dan prostitusi di tempat itu.

Upaya polisi yang menyegel rumah karaoke itu berbuntut panjang. Ratusan massa dari berbagai ormas Islam mendesak pemerintah Kota Blitar menutup semua tempat karaoke yang ada. Desakan itu pun tak bisa dilawan setelah Balai Kota Blitar dan gedung DPRD digeruduk ratusan massa dalam waktu yang sama. Pemerintah pun menutup delapan rumah karaoke di luar Maxi Brilian, rumah karaoke yang diketahui menyediakan layanan striptis (penari bugil).

“Jumlahnya ada delapan tempat karaoke. Penutupan hari ini sudah kami sampaikan ke para pemilik tempat karaoke,” kata Kepala Satpol PP Kota Blitar Juari. Mereka adalah rumah karaoke Puri Perdana, karaoke Jojo, Hotel Grand Mansions, Gorame, Vivas, Next, Mega, dan Karaoke 999.

Tak diumumkan pasti sampai kapan penutupan itu berlangsung. Pemerintah berdalih akan mengevaluasi bangunan fisik, operasional, dan legalitas perizinan mereka.

Solusi Tak Konkrit

Sudah menjadi rahasia umum jika seluruh upaya penutupan lokalisasi dan tempat prostitusi di tanah air tak pernah tuntas. Bahkan hingga mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengumumkan penutupan seluruh lokalisasi di wilayahnya berjalan sukses, tak pernah terjawab di mana keberadaan para pekerja seks komersial saat ini.

Penutupan lokalisasi dan tempat prostitusi seperti kejar tayang. Yang penting bisa ditutup dan digusur, selesai. Pemerintah daerah akan berdalih para PSK tersebut bukan penduduk mereka, dan harus angkat kaki setelah tempat bekerjanya ditutup.

Penutupan lokalisasi dan tempat prostitusi selalu dibenturkan dengan persoalan moral dan akhlak, yang tak ada pilihan selain dilakukan. Sementara urusan perut dan kelangsungan hidup mereka menjadi urusan masing-masing.

Dampaknya, keberadaan mereka makin sulit terdeteksi. Pemantauan dan pengendalian penyakit seks menular tak bisa dilakukan. Dan paling parah, mereka akan beroperasi di tempat-tempat umum yang mengancam moralitas masyarakat lebih masif. Mereka tak pernah benar-benar pergi meski tempat bekerjanya tak lagi beroperasi. (*)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.