Tan Malaka Tidak Pernah Mati

Tan Malaka dihabisi. Bedil tentara republik memaksanya mati. Gerilya politik lelaki asal Pandam Gadang Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat itu, praktis berhenti. Namun benarkah Tan Malaka yang jasadnya dikubur di kaki Gunung Wilis, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu  sungguh sungguh mati?.

DI sebuah kafe tengah Kota Kediri, seorang pemuda berkaos Tan Malaka tengah menikmati secangkir kopi hangat. Tak sedikit pengunjung lain yang mencuri pandang kepadanya. Bukan untuk melirik cangkir kopi dan seperangkat vapor yang berserak di meja. Namun lebih terpikat pada gambar Tan Malaka berquote “Idealisme Adalah Kemewahan Terakhir Yang Dimiliki Pemuda”.

“Saya beli Rp 120 ribu dari online, belum termasuk ongkir (ongkos kirim), “tuturnya datar. Kaos itu terlihat masih anyar. Hitamnya pekat. Belum mbulak. Kombinasi warna merah putihnya juga masih terang menyala. “Saya beli baru sebulan lalu. Dan itu karena karena tertarik dengan kata katanya, “kata si pemuda yang tahun ini memasuki bangku kuliah.

Dia mengaku tidak begitu mengenal Tan Malaka. Siapa itu Datuk Sutan Ibrahim?. Seperti apa pemikirannya?. Seperti apa perjuangannya buat Indonesia?, dia belum banyak tahu. Pemuda itu hanya mendengar nama. Juga  tersihir quote pada kaos yang telah menjadi miliknya. Baginya narasi itu bernyawa. Menyimpan energi yang menggerakkan. Begitu yang dirasakannya.

“Terus  terang saya belum pernah membaca bukunya. Memegang saja belum. Namun saya cukup sering mendengar namanya (Tan Malaka). Katanya pejuang besar Indonesia, “sambungnya. Karenanya ketika disodori judul Madilog, Merdeka 100 %, Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi), Dari Penjara ke Penjara, Thesis, Parlemen atau Sovyet, pemuda itu hanya menggelengkan kepala.  

Faktanya, mendapatkan buku Tan Malaka tidak mudah. Terutama cetakan lawas. Nasibnya sama dengan karya pemikir “kiri” lainnya. Sebut saja karya Pramoedya Ananta Toer. Betapa sulitnya mencari buku Arus Balik, Perburuan, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu atau Di Tepi Kali Bekasi. Apalagi militer kembali gencar melakukan sweeping buku kiri. Karena langka, bandrol buku yang masih tersisa, selalu diluar kewajaran.

Di tempat lain, yakni di kawasan parkir jalan protokol, seorang pemuda gondrong juga membungkus badannya dengan kaos bertema Tan Malaka. Kualitas kainnya lebih ekonomis. Juga tipis. Bedanya lagi, tidak ada gambar, hanya sebaris kata “Merdeka 100 %”.

Kata kata yang dicuplik dari kritikan Tan Malaka kepada Pemerintahan Paduka Yang Mulia  Pemimpin Besar Revolusi Soekarno. Si gondrong mengaku membeli dari lapak buku yang digelar di parkiran sebuah acara diskusi. “Saya juga sudah menziarahi makamnya di Kediri, “tuturnya serius.

Secara fisik Tan Malaka memang sudah mati. Tepatnya sejak 21 Februari  1949, yakni ketika tentara republik mengesekusinya di kaki Gunung Wilis Desa Selopanggung, Kecamatan Semen Kabupaten Kediri. Namun tidak dengan pemikirannya sebagai ideologi perlawanan. Bahkan telah berkembang menjadi komoditas politik ekonomi.  

Kiri memang seksi. Dan radikal memang menjual. Seperti halnya Ernesto Che Guevara di Kuba atau Subcomandante Marcos di Amerika Latin. Tan Malaka juga menjadi ikon ekonomi yang laku dijual. Gambarnya banyak bermunculan di kafe kafe. Apa yang berbau dengannya, yakni mulai nama, gambar, kutipan pemikiran, bisa “dikapitalisasi”. Baik itu dalam industri buku maupun industri baju dan merchandise.

Karena muncul sebagai produk ekonomi dengan harga yang tidak murah, maka kaum berdompet tebal lah yang paling banyak menikmatinya. Pemikiran Tan Malaka tidak hanya menjadi panduan perlawanan bagi kaum Murba yang dibelanya. Sebagai ikon ekonomi juga memberi kenikmatan bagi kaum “borjuis” yang dulu dimusuhinya.

Misteri DNA Yang Belum Terungkap

Sejak makamnya di lereng Gunung Wilis, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri dibongkar (Tahun 2009) oleh keluarganya, hasil tes DNA Tan Malaka belum terungkap. Begitu juga saat tujuh kepal tanah kuburnya dibawa ke kampung kelahirannya di Kabupaten Lima Puluh Kota (tahun 2017), hasil DNA Tan Malaka juga belum keluar.

Tidak hanya mengumumkan DNA, Direktur Eksekutif Tan Malaka Institute (TMI) Khatibul Umam Wiranu juga meminta pemerintah pusat  memasukkan sejarah Tan Malaka ke dalam kurikulum resmi departemen pendidikan dan kebudayaan. Sebagai pahlawan kemerdekaaan nasional yang berjasa besar, Tan Malaka berhak mendapatkannya.  

“Tidak usah orang per orang yang memberikan pencerahan. Tetapi negara yang memberikan ruang sekaligus mendorong siswa dan mahasiswa belajar tentang Tan Malaka, “kata Umam saat menghadiri acara dialog kebangsaan Pahlawan Kemerdekaan Nasional Tan Malaka di kampus  STAIN Kediri dua tahun silam.

Tan memiliki saham yang besar dalam perjalanan kemerdekaan republik ini. Pejuang revolusioner sejati yang hidupnya diwakafkan untuk kemerdekaan bangsa dan negaranya ini juga merupakan founding father sebagaimana Soekarno, Moh Hatta dan Sutan Sjahrir.

Bahkan Soekarno pernah berwasiat akan menyerahkan kekuasaan kepada Tan Malaka jika ditengah jalan dirinya dan Hatta tidak mampu melanjutkan pemerintahan Indonesia. Namun hingga kini negara tidak pernah  memberikan porsi sejarah yang adil buat Tan Malaka.

Karena riwayatnya sebagai tokoh kiri Indonesia dan bahkan Ketua Komintern Asia, peran Tan dalam sejarah perjuangan, seolah sengaja dikaburkan. Umam juga meminta negara segera meresmikan makam Tan Malaka di Selopanggung Kediri. Peresmian itu termasuk memugar sekaligus menetapkannya sebagai makam Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

“Kemudian juga memberikan hak kepada keluarga Tan Malaka yang masih hidup sebagaimana hak keluarga pahlawan, “jelas Umam. Sayangnya, permintaan sekaligus dorongan mengumumkan DNA, memasukkan ke dalam kurikulum sekolah dan meresmikan kuburan Tan Malaka sebagai makam pahlawan nasional, hingga kini diabaikan pemerintah. (*)      

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.