READING

Tanah Disita Pengadilan Gara gara Ulah Calon Besan

Tanah Disita Pengadilan Gara gara Ulah Calon Besan

Pada tiang bambu yang ditancapkan petugas Pengadilan Negeri Tulungagung, Tutut Sri Widya Astuti (63) hanya bisa menatap pasrah. Disaksikannya proses eksekusi tanah seluas 161 meter persegi itu tanpa bisa berbuat  apa apa.

TULUNGAGUNG- Akibat hutang yang tidak bisa dilunasi, asetnya resmi disita. “Saya menjadi korban penipuan, “tutur warga Desa/Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung itu sedih. Suaranya terdengar lirih. Selain tanah, sebuah mobil Toyota tahun 1994 juga ikut menjadi jaminan.

Yang membuat Tutut sedih sekaligus kecewa, bukan dirinya yang berhutang. Aset yang dijaminkan untuk mengambil pinjaman di Permodalan Nasional Madani, bukan dirinya yang menikmati. Melainkan Acik Kusnia, calon besannya. “Peristiwa itu terjadi pada tahun 2012, “terangnya.

Acik yang anaknya akan dinikahkan dengan anak Tutut datang bertamu. Acik mengaku butuh modal usaha. Dia akan bikin kafe, namun keuangannya cupet. Kepada Tutut, Acik mengatakan meminjam uang Rp 45 juta. “Saat itu saya tidak punya uang, “papar Tutut.

Meski tidak punya uang, kata Tutut dirinya mengatakan punya sertifikat tanah. Hanya saja sertifikat itu masih atas nama ibunya. Agar bisa menjadi agunan, kata dia  sertifikat itu harus dibalik nama dulu. Mendengar itu Acik menyanggupi akan mengurusnya. Bahkan Acik, kata Tutut langsung menghadirkan notaris.

Saat proses balik nama selesai, Tutut mengaku sempat kaget. Sebab bukan namanya yang tertera di sertifikat tanah. Melainkan nama Acik. Apalagi sertifikat itu telah diagunkan ke PNM untuk pinjaman uang Rp 45 juta.

“Saya sempat protes kenapa jadinya nama dia. Dijawab Acik, persoalan nama akan beres. Setahun lagi akan kembali ke nama saya, “jelasnya.

Persoalan muncul ketika Acik tidak bisa melunasi hutang. Sampai akhirnya pihak PNM melelang tanah dan bangunan yang berfungsi sebagai kafe senilai Rp 55 juta. Dilansir dari tribunjatim.com, lelang dimenangkan Sumiran, warga Kecamatan Bandung, Tulungagung.

Tutut mencoba mempertahankan haknya dengan melakukan upaya hukum hingga ke tingkat Mahkamah Agung. Namun usahanya kandas. Sebab secara legal formal sertifikat tanah itu bukan atas namanya. Saking kesalnya Tutut melaporkan Acik ke polisi dengan tuduhan penipuan dan penggelapan.

Acik pun ditangkap. Dalam persidangan, calon besannya itu divonis hukuman satu tahun dua bulan penjara. Secara sepihak Tutut juga membatalkan rencana pernikahan anaknya dengan anak Acik. Dia memutuskan tidak akan berbesan dengan orang yang sudah menyusahkan hidupnya. “Akhirnya gak jadi besanan, “pungkasnya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.