READING

Tanah Kaolin Sebabkan Belasan Rumah Warga Tulungag...

Tanah Kaolin Sebabkan Belasan Rumah Warga Tulungagung Rusak

TULUNGAGUNG- Sedikitnya 15 rumah warga Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung rusak akibat terimbas tanah gerak. Tidak hanya meretakkan dinding bangunan. Pergerakan tanah juga membuat lantai rumah pecah pecah. “Dan sejak kemarin terjadi lagi, “tutur Nuri salah satu warga yang rumahnya rusak.

Pergerakan tanah terjadi setiap hujan deras datang. Begitu hujan reda, retakan bangunan yang sebelumnya kecil tiba tiba membesar. Dari 15 rumah yang terdampak langsung, 5 diantaranya rusak parah, 5 lainnya rusak sedang, dan sisanya berpotensi bernasib serupa.

Kerusakan bangunan memaksa sejumlah penghuni mengungsi ke tempat sanak kerabat terdekat. Mereka khawatir bangunan ambruk. Namun tidak sedikit warga  yang bertahan. Salah satunya keluarga Nuri yang tetap mendiami tempat tinggalnya. “Kami tidak mengungsi, “katanya singkat.    

Menurut Sekretaris Desa Tanen Siti Amanah, fenomena tanah retak sudah berlangsung dua tahun terakhir. Gerakan tanah kawasan perbukitan yang berdekatan dengan wisata alam air terjun itu merontokkan bangunan apapun. Oleh pemerintah daerah warga sudah ditawari untuk pindah, yakni mengikuti program transmigrasi.

Namun tawaran itu ditolak. Daripada berpisah dengan kerabatnya, warga memilih bertahan mendiami rumahnya. “Pernah ditawari transmigrasi namun ditolak, “kata Siti Amanah. Menghadapi situasi sulit itu Siti hanya berharap pemerintah segera memberikan solusi lain yang lebih riil. Sebab pergerakan tanah tidak bisa dihentikan.  

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tulungagung Soeroto mengatakan pergerakan tanah dipengaruhi oleh kandungan kaolin dalam tanah. Kaolin menyebabkan tanah berkarakter liat dan mudah bergerak. “Ini hasil survei Dinas ESDM Provinsi Jawa Timur yang pernah meneliti lokasi, “kata Soeroto.

Dengan adanya kandungan kaolin, kata Soeroto kawasan yang ada juga dinyatakan tidak layak menjadi permukiman penduduk. Sebab setiap saat tanah akan terus bergerak.  Atas pertimbangan itu juga, pemkab menawarkan solusi tukar guling, yakni pindah ke tempat yang lebih aman dan transmigrasi.

Solusi itu ditawarkan pada tahun 2018 lalu. “Namun kedua solusi yang ditawarkan semuanya ditolak. Warga beralasan tidak ingin berpisah dengan kerabat dekatnya, “terangnya.

Hingga saat ini BPBD terus melakukan pendekatan persuasif kepada warga. Sebab satu satunya solusi hanya angkat kaki dari lokasi atau transmigrasi. Soeroto juga mengatakan, selain di Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, kasus tanah gerak juga terjadi di Desa Kradenan, Kecamatan Pagerwojo.

Bedanya, pergerakan tanah di kawasan Pagerwojo disebabkan sifat tanah yang labil akibat hutan gundul. Solusi yang dilakukan pemerintah adalah dengan membangun saluran pembuangan air di kawasan permukiman. “Alhamdulillah dengan adanya saluran air dan reboisasi tingkat labilitas tanah bisa ditekan, “ujarnya. (*)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.