READING

Tarif Cukai Rokok Naik, Perusahaan Rokok Kecil Mul...

Tarif Cukai Rokok Naik, Perusahaan Rokok Kecil Mulai Rumahkan Karyawan

JOMBANG-Pemberlakuan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 136/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau per tanggal 1 Januari 2020 mulai berimbas pada perusahaan rokok kecil. Di Jombang Jawa Timur perusahaan yang memproduksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) mulai merasakan imbasnya.

“Untuk awal bulan ini kita sudah mulai merasakan dampaknya, daya beli masyarakat turun  signifikan,” ujar  Ketua Asosiasi Pengusaha Rokok Indonesia Kabupaten Jombang, Abdul Rohman kepada Jatimplus.id.

Pemilik Perusahaan Rokok yang ada di Desa Plandi, Kecamatan Jombang Kota ini mengaku kenaikan cukai untuk kelas perusahaan kecil terjadi sebesar 10 persen dari sebelumnya 3 persen. Harga satu pita cukai Rp100,-/lembar sekarang naik menjadi Rp110,-/lembar.  Meski hanya naik Rp. 10,- namun harga jual naik Rp 500,-/pak isi 12 batang. Kenaikan 500 rupiah bukan hanya disebabkan oleh kenaikan cukai, namun juga kenaikan ongkos produksi.

Karyawan pabrik rokok lokal di Jombang rata-rata perempuan.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Lufi Syailendra

Baca juga: Sejarah Persaingan Bisnis Rokok

Meskipun kenaikan harga rokok hanya 500 rupiah, dampak ke pelanggan ternyata cukup besar. “Kenaikan 500 rupiah nanti akan saya lakukan bertahap selama tiga bulan,” katanya.

Produk rokok dari pabrik milik Abdul didistribusikan ke luar Jawa yaitu Kalimantan, Sumatra, dan sejumlah daerah lainnya. Sebelum terjadi kenaikan dirinya dalam satu bulan bisa mengirimkan 100 sampai 120 karton ke distributornya. Namun pada awal bulan ini 40 karton saja sudah kesulitan dijual. Dampaknya, stok barang menumpuk dan tidak bisa keluar dari gudang.

Saat ini pengusaha yang sudah merintis usaha sejak 2006 ini sudah mulai mengurangi jumlah pekerjanya. Jika sebelumnya bisa mempekerjakan 50 orang saat ini hanya tinggal 23 orang. “Saya sebenarnya tidak tega mengurangi tenaga yang rata-rata ibu rumah tangga, namun mau gimana lagi?,” keluhnya.

Pengurangan tenaga kerja ini dilakukan karena stok barang masih cukup banyak. Namun jika stok sudah habis tidak menutup kemungkinan dirinya akan kembali mempekerjakan perempuan-perempuan yang selama ini membantu dirinya mengemas tembakau menjadi rokok.

Ketua asosiasi yang membawahi tujuh perusahaan rokok  ini berharap, dinas terkait yakni Bea Cukai bisa lebih pro aktif melakukan pengawasan pasca kenaikan cukai ini. Pasalnya, dikhawatirkan kenaikan harga rokok  akan muncul kembali rokok polosan di masyarakat.

“ Pasca kebijakan peredaran rokok polos pasti akan semakin banyak,” kata Abdul tanpa menyebut produsen dan lokasinya.

Reporter: Lufi Syailendra
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.