READING

Tas Etnik Adia Kediri, Karya Ibu Rumah Tangga hing...

Tas Etnik Adia Kediri, Karya Ibu Rumah Tangga hingga Raih Pasar Seluruh Indonesia

KEDIRI- Cukup mudah untuk mencari lokasi pembuatan tas Adia Bag. Meski tidak berada tepat di pinggir jalan besar, kita tetap bisa mencapainya dengan bantuan Google map dengan kata kunci Adia (Modern Etnic Bag). Lokasi tepatnya berada di Perumahan Cahaya Permata Blok IV Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Ketika sampai di lokasi, tempatnya cukup mencolok. Bercat biru muda berpadu dengan warna putih. Di bagian atas bagunan terdapat tulisan “Studiocraftsanti” dan “Adia” berikut logo Bank Indonesia (BI). Ketika jatimplus.id tiba, pemiliknya langsung mempersilakan masuk.

Setidaknya ada tiga ruangan yang digunakan untuk proses produksi. Di ruangan yang paling depan terdapat satu unit komputer dan etalase untuk memajang tas-tas yang sudah jadi. Sisa ruangan digunakan untuk proses pengeleman bahan tas. Ketika bergerak agak ke dalam, terdapat ruangan yang lebih luas.

Di sana digunakan untuk proses pemotongan bahan tas dan juga penjahitan. Ada tiga mesin jahit berikut penjahitnya. Mereka semua tampak sibuk dengan tugas masing-masing. Sesekali suara deru mesin jahit menyela percakapan ringan antar pekerja.

“Iya ini masih harus menyelesaikan pesanan dari klien,” terang Lis Susanti, pemilik usaha.

Di samping ruangan paling depan, sebenarnya adalah ruang tamu. Namun di sana juga digunakan untuk memajang aksesoris yang sudah siap jual. “Aksesoris ini usaha saya yang pertama dulu. Tas menyusul kemudian,” tambah Santi ketika ditemui di ruang tamu.

Pameran merupakan salah satu sarana promosi Etnika. Santi berpose dengan Iriana Jokowi, Ibu Negara, pada salah satu pameran. FOTO: Dok. Santi

Dulu usaha aksesoris dimulai ketika dirinya baru menjadi ibu rumah tangga. Demi membantu keuangan keluarga, Santi mencoba mencari-cari usaha apa yang bisa digelutinya pasca resign dari pekerjaan lamanya.

“Apalagi saat itu saya punya anak kembar. Kebutuhan banyak,” beber perempuan yang sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan provider tersebut.

Memang tidak langsung berhasil. Santi mulai mencoba-coba membuat aksesoris di tahun 2010. Namun baru terekspos ketika ibu dua anak tersebut mengupload produknya melalui facebook setahun kemudian. “Saya sangat ingat aksesoris saya pertama kali dibeli orang Medan dengan uang sebesar Rp 300 ribu,” katanya.

Setelah itu, produknya pun terus tersebar karena banyak yang menjualnya kembali. Meski saat itu sedang tren aksesoris akrilik di pasaran, Santi konsisten dengan bahan utama batu-batuan. Semua barangnya di jual secara online. Tidak hanya platform media sosial, perempuan berkerudung tersebut juga menggunakan e-commerce.

“Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan aksesoris. Tapi karena teman-teman saya di dunia maya banyak yang berkecimpung di produk tersebut saya ikut-ikutan. Ternyata cukup banyak peminatnya,” curhatnya.

Setelah cukup berkembang, Santi pun melebarkan sayap dengan memproduksi tas dengan menggunakan tenun ikat kediri sebagai aksen khasnya. Ternyata peminatnya pun cukup besar. Pesanan datang dari mana-mana terutama dari institusi pemerintahan dan pendidikan.

Seperti yang saat ini sedang dikerjakan oleh Santi. Ada pesanan sebanyak 5 ribu pieces tas yang sedang dikerjakannya. Pemesannya biasanya dari kantor Bank Indonesia (BI) dari berbagai daerah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemda hingga universitas. Mereka tahu produk Adia Bag melalui pameran-pameran UMKM.

“Saat ini pesanan paling jauh dari Maluku. Baru dikirim kemarin,” katanya.

Dengan mengikuti pameran, Santi memanfaatkannya untuk promosi semaksimal mungkin. Makanya dia menyediakan leaflet, katalog hingga kartu nama sebanyak-banyaknya. Promosi jenis tersebut memang cukup efektif untuk menarik konsumen baru selain melalui di media daring.

“Ya Alhamdulillah ada saja yang terjual. Tetapi fokus kita lebih ke promosi,” bebernya kepada jatimplus.id.

Harga tas yang dijual bervariasi tergantung bahan dan model tas yang dipesan. Meski masih menerima pemesanan custom dengan jumlah satuan, Santi juga membuka pemesanan massal untuk kebutuhan souvenir.

“Sekarang yang banyak memang yang pemesanan massal seperti tas laptop,” jelas perempuan berusia 34 tahun tersebut.

Harga untuk satu buah tas dengan model standar bisa dibandrol dengan harga Rp 350 ribu. Jika konsumen membelinya dalam jumlah besar dengan jumlah minimal 100 pieces, harga jual bisa ditekan hingga hanya Rp 150 ribu per tas saja. “Kalau beli dalam jumlah lebih besar lagi, harganya bisa lebih murah lagi,” katanya.

Ruang kerja Etnika.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Dina Rosyida

Meski terbilang sukses, bukan berarti usaha Santi selalu berjalan mulus. Sebelumnya dia sempat mendapatkan komplain dari salah satu customer-nya. Pasalnya jahitannya dinilai kurang rapi. Makanya sejak saat itu, Santi terus memperbaiki kualitas produknya agar sesuai dengan keinginan konsumen.

“Sebelum kita produksi dalam jumlah besar, kita berikan sampelnya dulu. Jadi untuk meminimalisir barang reject,” urai perempuan asli Desa Tegowangi Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri tersebut.

Santi mengajak seluruh para pelaku UMKM agar terus berinovasi dan menjaga kualitas barang agar produknya digemari konsumen. Jika mengalami kegagalan tetap harus semangat dan pantang menyerah. Sehingga nantinya usahanya bisa berkembang seperti miliknya.

“Dalam waktu dekat saya diundang oleh BI untuk ikut pertemuan dengan investor di Dubai,” pungkasnya.

Penulis : Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.