READING

Tekan Angka Kematian, Dinkes Kota Kediri Ancang-An...

Tekan Angka Kematian, Dinkes Kota Kediri Ancang-Ancang Sosialisasi DB Menjelang Musim Penghujan

KEDIRI– Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan mulai turun di akhir bulan ini di sebagian besar wilayah. Langit Kota Kediri pun beberapa kali telah menurunkan tetes-tetes airnya beberapa hari lalu. Meski hanya sebatas gerimis ringan.

Menjelang musim penghujan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri sudah berancang-ancang untuk melakukan antisipasi. Salah satunya melakukan sosialisasi demam berdarah (DB) yang setiap tahunnya tidak absen menyerang warga Kota Tahu.

“Kita akan segera lakukan sosialisasi demam berdarah,” terang Fauzan Adima, Kepala Dinkes Kota Kediri.

Memang program tersebut sudah menjadi rutinitas tahunan Dinkes. Meski demikian, Fauzan menegaskan bahwa pelaksanaannya akan lebih digencarkan tahun ini. Bahkan antisipasi dilakukan sebelum benar-benar memasuki musim penghujan.

Upaya ini dilakukan mengingat DB yang bawa oleh nyamuk Aedes aegypti ini masih terus menyerang warga Kota Kediri. Bahkan diketahui di awal tahun 2019 tepatnya periode Bulan Januari hingga April, pasien DB mengalami peningkatan hingga 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama.

Tahun ini angka kematian akibat DB bertambah satu orang dibandingkan tahun lalu. Dari tiga jiwa menjadi empat jiwa melayang. Makanya Fauzan berupaya lebih keras untuk mengurangi angka penderita dan kematian akibat DB sejak awal. Yakni melakukan sosialisasi dan edukasi pentingnya menjaga lingkungan dari genangan air.

“Kita harapkan musim penghujan akhir tahun ini hingga awal tahun depan tidak lagi memakan korban lagi,” ujarnya.

Meski kegiatan sosialisasi dan edukasi selalu dilakukan setiap tahun, menurut Fauzan ada beberapa hal yang bisa jadi menjadi penyebab mengapa DB selalu menjangkiti warga Kota Kediri. Pertama adalah karena kebiasaan warga yang belum berubah.

Misalkan saja membuang sampah sembarangan, selokan mampet dan kotor, banyak genangan air yang dibiarkan terbuka sehingga bisa dijadikan media nyamuk untuk bertelur. Tidak hanya itu, diperkirakan daya tahan tubuh orang saat ini menjadi lebih rendah daripada jaman dulu.

Selain karena faktor asupan gizi, banyak masyarakat saat ini yang abai dengan pola hidup sehat. Salah satunya adalah olahraga yang tidak teratur. “Jika sudah demikian, infeksi dan penyakit apapun bisa menjangkiti dengan mudah tidak hanya DB saja,” tandasnya.

Dinkes juga melakukan kegiatan fogging atau pengasapan. Menurut Fauzan, hal tersebut juga bisa memberikan dampak pada nyamuk itu sendiri. Karena sering terpapar gas fogging, membuat nyamuk justru menjadi resisten dan kebal.

Makanya Fauzan meminta kepada masyarakat agar lebih proaktif melakukan kegiatan kerja bakti rutin di lingkungannya. Upaya ini akan lebih efektif karena bisa memberantas sarang nyamuk sejak awal. Kegiatan 3M (menguras, menutup dan mengubur) juga harus terus dilakukan.

Menguras sendiri tidak hanya asal menguras saja. Masyarakat harus membersihkan bak mandi dengan benar. Karena telur nyamuk bisa menempel erat di dinding bak mandi. Idealnya kegiatan ini dilaksanakan setiap hari. Tapi keberadaan air bersih sendiri cukup berharga saat ini sehingga pengurasan bisa dilakukan seminggu sekali.

Untuk tempat penampungan air yang sulit dikuras, masyarakat bisa memberikan larvasida dan kemudian menutupnya. Sedangkan kegiatan mengubur barang bekas, saat ini sudah tidak terlalu relevan untuk dilakukan. Pasalnya beberapa barang bekas terbuat dari plastik yang sulit terurai.

Selain mengubur, diharapkan barang bekas bisa didaur ulang. Dan yang terpenting upayakan barang bekas tidak berserakan dan terguyur hujan. Sehingga tidak ada air hujan yang tertampung dan menggenang di barang-barang bekas tersebut.

“Kalau ada yang sakit, pastinya tenaga medis siap sedia melakukan pertolongan pertama. Tetapi alangkah lebih baik jika dari masyarakat juga melakukan tindakan preventif. Karena mencegah pastinya lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.