READING

Tembak di Tempat, Ampuh Tekan Penjahat?

Tembak di Tempat, Ampuh Tekan Penjahat?

LUMAJANG – Para penjahat harus berpikir ulang jika akan beroperasi di Lumajang. Tim Cobra Polres Lumajang memberlakukan tembak di tempat bagi semua pelaku kriminal.

Instruksi tembak di tempat ini diperintahkan langsung Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban. Semua anggota polisi yang tergabung dalam Tim Cobra diperintahkan melepas timah panas kepada pelaku kejahatan yang berani berbuat onar. “Dengan tegas, saya perintahkan kepada Tim Cobra untuk tidak segan menembak para pelaku kriminal apabila sudah sangat membahayakan petugas maupun masyarakat di lapangan,” katanya akhir pekan lalu.

Dilansir dari Kantor Berita Antara, instruksi tembak di tempat ini dilakukan Arsal untuk menekan angka kriminalitas yang terjadi di wilayah Kabupaten Lumajang. Selama ini kawasan yang berbatasan dengan Kabupaten Jember, Probolinggo, dan wilayah Selatan Malang itu sempat memiliki catatan kriminal tinggi.

Dari sederet aksi kejahatan, begal menempati urutan tertinggi yang terjadi di wilayah Kabupaten Lumajang. Jumlahnya mencapai 34 persen dari seluruh angka kriminalitas yang ditangani Polres Lumajang. Untuk kejahatan jenis ini polisi tak memberikan toleransi. Seluruh pelaku begal dipastikan akan berjalan merangkak karena tertembus pelor petugas.

Pelaku begal terakhir yang ditembak anggota Tim Cobra adalah RT. Pelaku yang merupakan jaringan bandit dari Jember adalah residivis dan telah beraksi di 14 tempat. Kali ini petugas tak membiarkan tubuhnya mulus karena dinilai bandel meski baru 4 empat bulan keluar dari penjara.

Sementara peringkat kejahatan kedua adalah pencurian hewan yang mencapai 20 persen. Sisanya adalah jenis kejahatan lain.

Meski menginstruksikan tembak di tempat, Kapolres Lumajang menegaskan jika langkah tersebut tak ada kaitannya dengan pelanggaran HAM. Prosedur tembak di tempat adalah wujud nyata Polri untuk melindungi masyarakat sekaligus menjadi shock therapy bagi pelaku kejahatan.     

Kebijakan tembak di tempat pada pelaku kejahatan pernah diusulkan oleh kalangan DPR RI. Tahun 2015 silam, anggota Komisi III Wenny Haryanto mengusulkan secara langsung kepada polisi agar melakukan langkah tembak di tempat. Usulan itu disampaikan Wenny menyikapi maraknya aksi begal motor di Depok. “Tembak di tempat ini untuk kondisi tertentu seperti aksi begal motor yang marak di Depok, saya sangat setuju. Bahkan jika melihat kondisinya yang sangat mengkhawatirkan, maka tembak di tempat wajib dilakukan,” kata Wenny kepada Warta Kota, Kamis 19 Februari 2015.

Politisi dari Partai Golkar ini juga mengatakan penanganan begal motor sudah seharusnya disamakan dengan teroris.

Kebijakan tembak di tempat juga sempat menjadi polemik saat diterapkan di Banda Aceh tahun 2015 silam. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menuding tembak di tembak bukan menjadi solusi menekan kejahatan. Hal itu justru menghilangkan hak pelaku di mata hukum dan hanya menambah korban jiwa masyarakat. “Walaupun dia seorang penjahat sekalipun, hak-hak dia di depan hukum harus tetap diperhatikan,” ujar Kordinator KontraS Aceh, Hendra Saputra seperti ditulis Okezone.

Menurut Hendry, instruksi tembak di tempat justru menjadi bukti gagalnya polisi dalam mengungkap aksi kejahatan. Fungsi Bintara Pembina Keamanan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) serta intelijen dalam mendeteksi dini sindikat pelaku juga lemah. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.