READING

Tenun Ikat Kediri Tampil di Jogja Fashion Festival...

Tenun Ikat Kediri Tampil di Jogja Fashion Festival 2019

Gerak para model yang lincah, berjalan zig zag di runway, dan diakhiri dengan duduk santai merupakan atraksi yang disuguhkan dalam membawakan tenun ikat Kediri. Tenun tak lagi menjadi kain klasik yang kuno, namun hadir kekinian dan segar.

YOGYAKARTA-Sejumlah 16 outfits busana perempuan berbahan tenun ikat Kediri ikut tampil dalam Jogja Fashion Festival 2019 pada 9 Maret 2019. Pemerintah Kota Kediri menggandeng Didiet Maulana dari Ikat Indonesia, Jakarta, untuk menampilkan tenun ikat Kediri pada fashion show yang digelar dalam rangka ulang tahun ke-13 Plaza Ambarukmo, Yogyakarta.

Koleksi ini sebagian sudah pernah tampil di Dhoho Street Fashion 2018 dengan tema “Warisan Agung Panji Sekartaji.” Lainnya merupakan karya Didiet dalam menampilkan kekhasan tenun ikat Kediri dalam tampilan kasual dan kekinian.

“Saya mengambil semangat Panji dan keberaniannya,” kata Didiet pada saat konferensi pers di Kota Kediri, November 2018 silam. Ia menerjemahkan kisah klasik asal Kediri dalam bentuk kekinian. Garis-garis tegas dari tenun ikat Kediri menjadi ciri khas dari koleksi yang ditampilkan. Bahkan tak jarang Didiet “berani” memotong kain dengan cara yang tak biasa sehingga menghasilkan cutting yang unik dan tampilan baru.


16 outfits busana perempuan berbahan tenun ikat Kediri saat tampil di Jogja Fashion Festival 2019. Foto Humas Pemkot Kediri

Sack dress, blouse, dan busana perempuan aktif memberi inspirasi bagi para pecinta tenun khususnya tenun ikat Kediri untuk mempresentasikan tenun dengan cara kekinian. Tenun tak lagi menjadi busana yang “berat”, namun lebih dekat dengan pemakaian keseharian. Harapannya, akan membuka spektrum pemasaran lebih luas. Menjadikan tenun ikat Kediri semakin banyak diminati.

“Tenun ikat Kediri bukan tenun baru dibikin. Sudah lama ada di kota kami. Kalau ada yang sempat main ke Belanda, di Troppen Museum, tenun kami tersimpan di sana tertanda tahun 1910,” kata Ferry Silviana Abu Bakar (Fey), Ketua Dekranasda Kota Kediri sebelum fashion show dimulai.

Menurut Fey, tiap tahun Pemkot Kediri mengadakan Dhoho Fashion Street untuk mengangkat tenun ikat Kediri. Pada awalnya, tenun ikat Kediri berupa sarung goyor (bahan jatuh) yang sudah diekspor ke negara-negara Timur Tengah. Kemudian, produk berkembang menjadi kain bahan busana dan berbagai produk turunan lainnya.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar dan Ketua Dekranasda
Ferry Silviana Abu Bakar di Jogja Fashion Festival 2019

“Ada imbauan yang ditetapkan dalam SK Walikota, pada hari Kamis, ASN dan karyawan di Kota Kediri mengenakan busana berbahan tenun ikat Kediri,” kata Abdullah Abu Bakar, Wali Kota Kediri, yang turut hadir pada acara fashion show ini. Peraturan tersebut membuka pasar tenun ikat secara signifikan.

Tenun ikat Kediri tampil dalam sesi tema “Luxurious Line” setelah koleksi Ghea Panggabean, Rumah Budi Susanto, Griya Batik Haryono, Bella Sara, dan Ariesanthi feat Sycamore. Pada akhirnya, semoga kemegahan serat-serat kain ini juga memberikan peningkatan kesejahteraan bagi para pengrajin yang bekerja dengan ketekunannya, menghadirkan garis-garis mewah ini. (Titik Kartitiani)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.