READING

Terancam 3 Bencana Alam, Warga Kediri Harus Tahu I...

Terancam 3 Bencana Alam, Warga Kediri Harus Tahu Ini

Kota Kediri menjadi incaran tiga bencana alam di musim hujan. Jika terjadi musibah, kenali tanda-tanda dan cara penyelamatan diri yang aman.

KEDIRI – Kondisi geografis Kota Kediri membuka peluang terjadinya tiga jenis bencana alam di musim hujan; banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor. Jika tak mampu mengenali penyebab dan cara penyelamatan diri, resiko lebih besar bisa menimpa siapa saja.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Kediri, Adi Sutrisno menjelaskan banjir berpotensi terjadi di daerah sekitar sungai besar, cekungan, dan daerah padat penduduk. Sedangkan tanah longsor terjadi di kawasan perbukitan yakni di Kecamatan Mojoroto. “Puting beliung bisa terjadi di manapun,” katanya kepada Jatimplus.ID, Kamis 16 Januari 2020.

Bencana alam, menurut Adhi, adalah momok yang harus dikenali oleh warga Kota Kediri. Dengan mengenali jenis bencana, peluang melakukan pencegahan atau meminimalisir korban bisa dilakukan.

Ada tiga hal yang perlu diketahui dalam menangani bencana, yakni pra bencana, ketika bencana, dan paska bencana.

Tindakan pra bencana ini sifatnya “siap-siap”. Sejak sebelum bencana terjadi, masyarakat harus sudah mengenali istilah-istilah peringatan bencana, seperti siaga I – IV. Jika bencana benar terjadi, mereka langsung tanggap untuk menentukan langkah kapan bertahan, dan kapan harus mengungsi.

Menghadapi Banjir

Pelajari kondisi sekitar rumah apakah masuk dalam zona rawan banjir atau tidak. Selain itu, pastikan kondisi saluran air di lingkungan rumah tidak tersumbat. Jika rumah kita berada di lokasi rawan banjir, persiapkan bahan-bahan dan alat untuk bertahan hidup setidaknya untuk tiga hari.

Amunisi untuk bertahan hidup ini bisa disiapkan dalam sebuah tas siaga bencana (TSB). Tas ini bisa berisi pakaian, bahan makanan, air minum, obat P3K, perlengkapan mandi, alat bantu penerangan, masker, hingga peluit untuk dijadikan alat bantu ketika membutuhkan pertolongan.

Perlu juga untuk menyiapkan alat komunikasi tambahan atau pengisi daya tambahan (power bank), sejumlah uang, dan surat-surat penting. “Semua itu dimasukkan dalam TSB kedap air,” kata Adi.

Pelajari pula cara mematikan air, listrik dan gas, serta kenali jalur-jalur evakuasi. Jika banjir terjadi, masyarakat harus terus memantau informasi dari berbagai media untuk meningkatkan kesiapsiagaan. Selalu waspada terhadap kenaikan debit air.

Jika masih memungkinkan, selamatkan perabotan rumah ke tempat yang lebih tinggi, serta matikan instalasi listrik. Jika ketinggian air sudah sangat mengancam, jangan menunda untuk meninggalkan rumah menuju tempat yang lebih tinggi. “Jangan naik mobil ketika kenaikan air tinggi dan arusnya deras,” jelas Adi.

Hal lain yang perlu diketahui adalah tindakan setelah bencana terjadi. Pemandangan yang paling jamak ditemui usai banjir adalah genangan air. Kita perlu mewaspadai genangan air yang berpotensi terkontaminasi zat berbahaya atau aliran listrik. Adi meminta agar berhati-hati saat memasuki sebuah gedung karena bisa jadi terdapat kerusakan pada pondasi yang tak bisa dilihat.

Untuk pembersihan, jangan lupa mencuci semua bagian rumah yang terendam banjir menggunakan air bersih. Termasuk tempat penampungan air. Makanan yang terkontaminasi banjir harus dibuang sebelum melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Bencana Puting Beliung

Bencana puting beliung adalah bencana yang cukup sulit diprediksi karena merupakan fenomena atmosfer skala lokal. Meski demikian tetap ada upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak kerugian.

Tindakan pra bencana bisa dilakukan dengan memperkokoh bangunan rumah dan menghindari pohon besar yang rapuh. Ketika serangan terjadi, amankan barang-barang di luar rumah dan tutup rapat pintu serta jendela. Matikan aliran listrik dan alat elektronik.

Jika tiba-tiba petir menyambar, segera membungkuk dan peluk lutut ke dada. Jangan tiarap di atas tanah, serta hindari tiang listrik, pohon, dan papan reklame. “Pastikan situasi aman untuk melanjutkan ktivitas biasa,” kata Adi.

Tanah Longsor

Bencana tanah longsor di wilayah Kota Kediri, menurut Adi, hanya berpotensi terjadi di Kelurahan Pojok dan Kelurahan Sukorame. Meski saat ini situasi terpantau aman, diperlukan kewaspadaan di beberapa titik rawan.

Upaya pra bencana yang bisa dilakukan di daerah berbukit lebih pada penataan sistem drainase yang cukup dan landai. Sebisa mungkin dataran dibuat terasering, dan menanam banyak pohon dengan sistem perakaran dalam dan jarak tanam tepat. “Di antara pohon bisa diselang-seling tanaman pendek,” terang Adi.

Sebagai penahan reruntuhan batu, diperlukan tanggul dan tiang pancang untuk menghindari bahaya liquefaction (tanah gerak). Masyarakat di daerah perbukitan harus waspada saat curah hujan tinggi, dan mengenali jalur evakuasi yang aman.

“Jika terdengar gemuruh harus segera mengevakuasi diri. Jangan kembali sampai kondisi ditetapkan aman. Jika rawan longsor, hindari bermukim di sana,” pungkas Adi.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.