READING

Terapkan New Normal, Sopir dan Penebang Tebu Dilar...

Terapkan New Normal, Sopir dan Penebang Tebu Dilarang Nongkrong

KEDIRI – Pabrik Gula Pesantren Baru yang berada di Kecamatan Pesantren, Kota Kediri mulai menampakkan aktivitas produksi. Sejak awal musim giling pada 2 Juni lalu, penerapan aturan baru mengadaptasi new normal mulai dilaksanakan. Makanya suasana pabrik terlihat lengang dan tidak tampak kerumunan.

“Baik di area pabrik dan kantor, kami menerapkan protokol kesehatan sesuai imbauan pemerintah,” kata Bambang Hadi N., General Manager PG Pesantren Baru, Senin (8/06).

Biasanya di awal buka giling, PG Pesantren mengadakan perayaan dan prosesi adat pengantin tebu. Namun kini kegiatan itu ditiadakan dan diganti dengan kegiatan sosial dan pemberian bantuan pada terdampak Covid-19.  Sekitar 1500 karyawan dipantau secara ketat selama bekerja di pabrik. Sejak sampai di pos keamanan, semua karyawan dan tamu wajib mengenakan masker.

Usai memarkir kendaraan, semua diharuskan cuci tangan. Ketika memasuki area pabrik atau kantor, tamu yang bertandang diberi hand sanitizer oleh petugas yang berjaga di pintu. Selanjutnya petugas akan mengecek suhu menggunakan thermo gun.

Sedangkan untuk karyawan, tempat parkirnya dipisah per shift agar tidak terjadi kerumunan ketika pulang kerja. Mereka bahkan harus cuci tangan dua kali yakni di pos satpam depan dan di ruangan khusus. Di ruang tersebut juga terdapat kamera khusus yang dapat mengukur suhu tubuh orang yang tersorot kamera.

Hasilnya terpampang di layar monitor besar yang menempel di dinding. Karyawan yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat Celcius dilarang untuk masuk dan diarahkan ke klinik untuk diperiksa kondisi kesehatannya.

“Kita beli alat itu baru-baru ini. Biar security tidak kerepotan mengecek suhu satu per satu. Sebab karyawannya banyak,” tambah Bambang.

Bambang mengaku tidak mudah mengubah kebiasaan ribuan karyawan yang bekerja di pabrik gula. Apalagi ada banyak orang non-karyawan yang berlalu lalang di area pabrik. Bila dihitung dengan mitra dan karyawan musiman, jumlahnya mencapai 4000 orang. Semua orang saling berinteraksi di dalam pabrik sehingga kerjasama dan disiplin dari semua orang sangat dibutuhkan agar tujuan menekan penyebaran virus bisa tercapai.

“Paling susah soal kebiasaan nongkrong dan bergerombol. Misalnya sopir truk pengangkut tebu dan penebang tebu di luar pabrik. Mereka mitra kami. Tetap kami sosialisasikan untuk berdisiplin terhadap protokol kesehatan,” tambahnya.

Untuk itu, PG Pesantren Baru membentuk tim khusus untuk sosialisasi dan pengendalian Covid-19. Mereka bertugas melakukan pengawasan dan memastikan protokol kesehatan tetap dilakukan oleh semua pihak terkait.

Terkait dengan klaster penderita covid-19 di Kelurahan Tempurejo yang letaknya dekat dengan pabrik, Bambang sudah mengambil tindakan. Beberapa karyawannya yang berasal dari kelurahan tersebut diliburkan selama 14 hari sesuai protokol. Bila selama libur kondisi tubuh sehat, maka yang bersangkutan bisa masuk kerja kembali.

“Hal tersebut jelas berpengaruh pada proses produksi sebab kami harus mengistirahatkan karyawan. Tapi kami harus berhati-hati,” pungkasnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.