READING

Terguncang Masalah Ekonomi Lalu Mendadak Sufi

Terguncang Masalah Ekonomi Lalu Mendadak Sufi

SETELAH memutuskan berhenti merokok, rajin puasa, mengurangi bertemu banyak orang, lalu beralih mendekam di dalam rumah, Bahrun memproklamirkan diri menempuh laku sufi. Semenjak itu hari hari lelaki 52 tahun itu hanya habis untuk mengarungi perjalanan dari satu ibadah ke ibadah lain.

“Saya sekarang nyufi Bah, “katanya dengan wajah sungguh sungguh kepada seorang pemuka yang di lingkungan tempat tinggalnya orang orang memanggilnya Abah.

Bahrun adalah seorang politisi. Sebagian orang mengenalnya sebagai sosok yang lincah, bertindak tanduk tegas, lugas, dan kalau sudah mempertahankan sesuatu yang dianggapnya benar, tak pernah kenal kompromi, apalagi lari dari masalah.

Siapapun akan ia terabas jika ada yang coba coba menghalangi. “Urip kui nek wani rasah wedi wedi, nek wedi rasah wani wani (hidup itu kalau berani jangan pernah merasa takut, sebaliknya kalau takut jangan pernah mencoba berani), “katanya di suatu hari.

Seperti nyalinya yang gahar, Bahrun memiliki suara lantang yang bagi mereka yang bermasalah dengannya selalu memilih menutup kuping rapat rapat, daripada dibantai dalam debat.

Soal ini ada sedikit cerita bagaimana seorang pejabat daerah yang brengsek pernah ia kunci di dalam ruangan, lalu diberinya pilihan yang tidak bisa ditolaknya. “Orang salah tapi gak mau mengaku salah. Ya harus diperlihatkan kesalahannya, “cetusnya kala itu dengan garang.

Di tengah acara rapat serius Bahrun juga pernah melempar gelas mineral ke kaca jendela, hanya gara gara sejumlah pemuda memilih asyik bercanda. Baginya hal itu tidak sopan, tidak menghargai orang lain yang sedang bicara. “Orang hidup harus memahami etika sosial, “jlentrehnya.    

Namun demikian Bahrun tidak pernah mengkapitalisasi ketakutan orang lain untuk kepentingan pribadinya. Sebagai makhluk sosial ia selalu berusaha bersikap suceng. Iya iya, tidak tidak. Tidak pernah ia mengambil sikap abu abu. Iya namun mengatakan tidak atau sebaliknya.

Hal itu yang membuatnya selalu mendapat tempat di berbagai kalangan, termasuk di lingkaran kelompok abangan.  Banyak yang segan, hormat, takut, sekaligus diam diam juga membenci. Bahrun tahu kapan bersikap sebagai santri, dan  kapan meladeni kaum abangan.   

Baginya soal komunikasi tidak ada yang rumit yang itu semua tidak lepas dari cara dirinya melewati perjalanan hidup. Syahdan, saat baru tumbuh dewasa, masih sehat sehatnya, belum ada penyakit yang hinggap, Bahrun sempat mengecimpungi dunia kelam.

Ia pernah bergaul dengan begal, kecu, tukang gendam dan semacamnya. Karena sesuatu hal, Bahrun akhirnya memutuskan hengkang dari lingkaran yang selama ini ia gauli. Ia ambil air wudlu, salat tobat nasuha, lalu dalam hati bertekad menyatakan hijrah.

Semenjak itu ia mengkhidmati lingkungan santri, mewakafkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk selalu menjunjung kebesaran santri.   

Karenanya jika kemudian ada yang mengundangnya mencicipi dunia malam, Bahrun biasanya lebih dulu menjawab dengan senyuman. Meski  tidak jarang ia penuhi undangan itu, namun tapal batas dan ukuran selalu dipegang erat erat.  

“Senang senang boleh saja, asal tidak sampai keluarga berantakan, “katanya suatu hari dalam percakapan antara pria dewasa yang berdebat soal opsi “makan sate atau beli kambing”.

Setelah mengambil keputusan nyufi, jauh dari asap rokok, rajin berpuasa dan jarang kumpul kumpul dengan para kolega, konon Bahrun nyaris tidak berpenghasilan. Ia sengaja meninggalkan mata pencaharian yang selama ini ia tekuni. Memang tidak pernah berdeklarasi keluar, namun ia tidak pernah mengurusnya lagi.

Sementara anaknya semakin tumbuh besar, dimana selain makan dan kasih sayang, juga membutuhkan masa depan lebih baik. Kasak kusuk yang berkembang, Bahrun nekat menempuh jalan sufi setelah ia tidak mampu lagi menemukan jalan keluar dari problem ekonomi yang membelitnya.   

“Mulai hari ini semua persoalan hidup ini saya pasrahkan kepada gusti Alloh, ‘katanya sembari mengaku hidupnya sekarang merasa lebih tenang.

Jauh di belahan bumi lain, saat jatuh hati dengan spiritualitas, Richard Gere pernah “membaptis” diri sebagai “pendeta”, lalu menjadi murid kinasih Dalai Lama. Akltor ganteng Hollywood yang beristri supermodel aduhai Cindy Crawford itu, bersay goodbye dengan duniawi.

Ia lupakan istana mewahnya di California dan Connecticut, ia tinggalkan keglamouran hidup Hollywood, bahkan ia juga ceraikan Cindy Crawford, lalu memilih beribadah di perguruan Buddha Dharamsala, India.

Begitu juga yang dipilih Madonna, janda mendiang Kurt Cobain, Courtney Love, dan Elizabeth Taylor yang beramai ramai menempuh jalan mistik agama Yahudi, Kabbalah. Bahkan sutradara Arnold Schwartzman, peraih Oscar film Genocide menjadi pemimpin cabang Kabbalah Bafta di Los Angeles.

Dalam sebuah penelitian terjawab alasan kenapa mereka memilih jalan “sunyi” itu, yakni  karena terpikat makna hidup yang selama ini tidak mereka dapatkan dari kemewahan, harta kekayaan dan ketenaran.

Meski sama sama lari ke jalan “sufi”, bedanya pilihan Bahrun lebih  karena ia sulit menemukan solusi persoalan duniawi. Ada problem dunia yang sengaja ia tinggalkan, lalu mengambil by pass memasrahkan kepada Tuhan, agar Tuhan yang menyelesaikannya.

Bahrun memilih hidup zuhud karena guncangan persoalan hidup.  “Semua saya serahkan sepenuhnya kepada sang Khalik. Saya hanya menjalani apa yang sudah menjadi laku hidup saya, “katanya.  

Dalam tradisi tarekat sadzaliyah, mendekatkan diri kepada Tuhan tidak harus meninggalkan duniawi. Bahkan pengikut sadzaliyah boleh dan bahkan dianjurkan kaya.

Adagium yang berlaku, “orang kaya yang bersyukur lebih baik daripada orang miskin yang bersabar”. Etos moral yang dibangun di sadzaliyah adalah manusia wajib bekerja dan berusaha memiliki harta.

Namun kekayaan yang dimiliki jangan sampai menumbuhkan sifat Hubbud Dunya (Cinta harta). Meski borjuis, perhatian tetap tercurah kepada Sang Pencipta. Harta hanya menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepadaNYA.

Harta membuat manusia lebih mampu menghayati makna bersyukur dan bersikap qanaah dalam hidup. Karenanya bagi penganut sadzaliyah zuhud adalah sikap hati terhadap dunia. Sikap yang dalam keadaan apapun mampu melepaskan diri dari kuasa gemerlap dunia.

Zuhud  bukanlah sikap lahir yang meninggalkan urusan duniawi. Menjadi sufi bukan berarti meninggalkan jalan ekonomi. Juga bukan untuk lari dari guncangan ekonomi.

Sastrawan A.A Navis dalam cerita pendeknya berjudul “Robohnya Surau Kami” menyindir orang orang yang menghabiskan waktunya untuk beribadah, namun tidak peduli dengan sesamanya. Saleh, seorang haji yang menjadi tokoh utama dalam cerita, setelah meninggal dunia, Tuhan justru menjebloskannya ke dalam neraka.

Haji Saleh protes. Kenapa ia yang selama hidup di dunia rajin beribadah, tidak pernah meninggalkan sembahyang, puasa, pendeknya semua aktivitas habluminallah tidak pernah telat, namun Tuhan masih juga menjerumuskannya ke dalam neraka.

Jawaban Tuhan, “Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi kau melupakan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kocar kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun”.

Lalu Tuhan berseru kepada malaikat untuk menceburkan kembali Haji Saleh dan teman temannya yang bahkan selama hidup ada yang bergelar syeikh dan belasan kali ke Mekkah, ke dalam neraka. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.