READING

Terima THR Justru Anggaran Defisit. Kenapa?

Terima THR Justru Anggaran Defisit. Kenapa?

SURABAYA-Tak lama lagi para karyawan baik negeri maupun swasta akan menerima THR (Tunjangan Hari Raya). Jauh sebelum itu, para penjual dan lapak daring sudah melakukan upaya-upaya yang memikat si THR ini. Mulai diskon Ramadan hingga diskon Idulfitri. Bagaimana menyikapinya?

Tak hanya untuk THR, namun juga untuk pendapatan bulan rutin, Meliza Silvi., SE., M.Si., CFP, perencana keuangan dari UNAIR membagikan tipsnya pada saat Gathering Media OJK Kediri di Surabaya, akhir April silam.

“Tanpa perencanaan, pengeluaran keaungan menjadi tak terkendali dan tak terprediksi,” kata Silvi. Seakan-akan semua butuh. Seakan-akan semua penting untuk dibeli. Apalagi ketika mendapat pemasukan di luar pendapatan rutin seperti THR ini. Sudah sifat dasar manusia, bila pendapatan bertambah (tak peduli tambahannya rutin atau mendadak), keinginan pun akan bertambah. Maka perencanaan dan taat pada hal yang sudah direncakan menjadi penting.

Menurut Silvi, hal pertama yang harus dilakukan yaitu mencatat pengeluaran baik yang besar maupun yang kecil termasuk pembelanjaan khusus di hari raya. Mencatat pengeluaran dengan detail akan memberi penyadaran bagaimana cara membelanjakan uang.

Setelah dicatat semua, akan kelihatan mana pengeluaran rutin bulanan maupun tahunan dan pengeluaran insidentil. Dari sana, mulai menyusun perencanaan pengeluaran (budgeting). Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Tuliskan gaji/penghasilan yang diterima baik itu gaji pokok, bonus, THR, hasil usaha/investasi, dan lain-lain.
  2. Susun pengeluaran secara detail. Misalnya zakat/infaq, kirim ke orang tua, cicilan (motor/rumah), tabungan/premi asuransi, listrik, air, telepon, kebutuan sekolah, kebutuhan harian, kebutuhan khusus hari lebaran, dll.
  3. Tulislah total pendapatan (no 1) kemudian dikurangi total pengeluaran (no 2).

Silvi memberi prosentase untuk pengeluaran sebagai berikut: zakat infak (2,5%-10%), kewajiban utang (30%), proteksi/asuransi (10%), investasi (10-20%), edukasi (20%), rumah tangga (60%), piknik (10%), dan hiburan (5%).

Untuk pengeluaran hari raya setidaknya tak melebih jumlah THR yang diterima. Apabila ternyata lebih, periksa apakah pembelanjaan tersebut merupakan kebutuhan yang tak bisa ditiadakan atau hanya sekadar keinginan yang bisa ditunda atau ditiadakan.

Budgeting ini dibuat setiap awal bulan yang mengutamakan kebutuhan, bukan keinginan,” tambah Silvi. Kebutuhan adalah sejumlah pengeluaran jika tidak terpenuhi akan menimbulkan turunnya kualitas hidup di bawah kewajaran. Sedangkan keinginan merupakan pengembangan dari kebutuhan yang dipengaruhi oleh lingkungan, budaya, pengalaman, pengetahuan dll.

“Kalau soal diskon, kembali pada pengategorian. Apakah kebutuhan atau keinginan. Bila memang kebutuhan, diskon bisa membantu menghemat pengeluaran,” kata Silvi.

Silvi berpesan untuk meganggarkan tabungan pada awal budgeting, bukan pada kebiasaan lama yang menganggarkan tabungan setelah pelaksanaan budgeting alias jika ada sisa. Jika polanya seperti ini, maka tabungan kerap kali kalah dengan keinginan.

Tabungan kerap akan tergeser ketika THR tak mencukupi. Maka sekali lagi, periksa pengeluaran pada saat Lebaran apakah sesuai dengan keinginan atau kebutuhan. Pada saat Lebaran terkadang memang saat untuk membelanjakan tabungan. Namun seyogyanya, tabungan yang memang sudah diancangkan untuk pembelajaan Lebaran, bukan tabungan untuk kepentingan pokok lainnya.

Silvi memberikan tips dalam hal perencanaan event atau kejadian yang bisa direncanakan seperti Lebaran dan liburan ke luar negeri misalnya yaitu dengan membuat perencanaan jangka panjang dan jangka pendek. Perencanaan jangka pendek merupakan perencanaan pengeluaran 1 atau 2 tahun ke depan. Sedangkan jangka panjang merupakan pengeluaran 5 atau 10 tahun.

Lebaran/Hari Raya bisa diancangkan untuk jangka pendek. Sedangkan membeli rumah, mobil, maupun hal-hal besar lainnya bisa masuk dalam kolom perencanaan jangka panjang.

“Tidak ada orang yang merencanakan kegagalan. Yang ada adalah orang yang gagal dalam merencanakan,” pungkas Silvi.

Silvi., SE., M.Si., CFP, perencana keuangan dari UNAIR



print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.