READING

Terkaman Anjing Bima Aryo dan Kisah Para Anjing

Terkaman Anjing Bima Aryo dan Kisah Para Anjing

Terkaman anjing pemburu milik Bima Aryo membuat Yayan (35), asisten rumah tangga orang tuanya, panik dan kelabakan. Perempuan pembantu itu tidak mengira bakal diserang. Posisi Yayan tidak siap saat Sparta, nama anjing keturunan Milanois Belgia itu, tiba tiba berubah beringas.

Leher, dada dan bagian punggungnya habis dicakar dan digigiti. Yayan menjadi bulan bulanan. Disiksa, diedel edel. Meski sempat dilarikan ke rumah sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, nyawa Yayan tetap tidak tertolong. Kasus kelalaian yang berakibat melayangnya nyawa orang lain ini tengah ditangani aparat kepolisian.

Orang tua Bima Aryo dan sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa sadis itu, dimintai keterangan. Karena dianggap tidak berada di tempat saat kejadian berlangsung, presenter Bima Aryo tidak ikut menjadi saksi. Selain Sparta, anjing Bima yang bernama Anubis juga diperiksa. Sama dengan Sparta, Anubis juga berdarah Milanois Belgia.

Meski dikatakan pernah divaksin rabies pada tahun 2018, kebersihan kedua anjing dari penyakit anjing gila tetap akan dipastikan ulang. Seperti diketahui kasus anjing piaraan memangsa asisten rumah tangga bukan pertama kalinya terjadi. Namun tidak semua anjing berwatak buas.

Tidak hanya bermanfaat sebagai penjaga atau teman berburu di hutan. Di ruang tertentu, yakni khususnya dimensi seni, seekor anjing juga kerapkali menginspirasi lahirnya sebuah karya seni. Berikut diantaranya.

Menjadi Cerita Film

Siapa yang tidak kenal Hachiko. Anjing jantan ras Akita Inu yang terkenal dengan kesetiaanya. Saking setianya, Hachiko selalu menyongsong kepulangan sang majikan di depan stasiun kereta api Shibuya, Tokyo, Jepang.

Hingga di suatu ketika anjing setia itu tidak tahu jika tuannya yang selalu dia nanti, sudah tiada. Namun Hachiko tetap menunggu di tempatnya. Untuk mengenang kesetiaan itu, sebuah monumen patung Hachiko didirikan di depan stasiun Shibuya.

Kisah mengharukan ini juga diangkat ke layar lebar dengan Richard Gere berperan sebagai sang majikan. Kisah anjing setia serupa juga diangkat ke layar lebar dengan judul Red Dog. Diluar itu masih ada film kartun legendaris Scooby Doo yang tokoh utamanya juga seekor anjing, Rin Tin Tin, Pluto dan Gufi.

Menjadi Cerita Fiksi

Setidaknya ada cerita fiksi yang terinspirasi dari anjing. Judulnya “Legenda Wong Asu” yang ditulis sastrawan Indonesia terkemuka Seno Gumira Ajidarma (SGA). Ditulis secara estafet di Cirebon, Wangon dan Jogjakarta pada tahun 2002, kisah itu bercerita tentang tentang bagaimana si tokoh utama bernama Sukab memiliki kebiasaan berburu anjing.

Setiap menjumpai anjing di jalanan, nafsu membunuhnya timbul. Tidak hanya bernafsu membantai. Hasrat menjadikannya santapan tongseng atau rica rica yang lezat juga ikut bangkit. Karenanya setiap membunuh, tanpa sadar air liurnya ikut terbit.

Tidak hanya digorok, dijagal atau disembelih. Terkadang guk guk yang tidak berkutik itu oleh Sukab dimasukkan karung, lalu dipukuli sampai mati. Ada juga yang diikat batu besar terus ditenggelamkan ke dasar sungai. Cara membantai tanpa membuat darah merembes keluar itu untuk kebutuhan kelezatan makanan.

Darah yang tidak tercecer konon menjadikan daging anjing saat diolah bumbu rica rica atau tongseng, terasa lebih legit. Kebiasaan sadis tokoh utama yang kemudian diberi julukan Wong Asu itu berlangsung di saat tanah air terlanda bencana krisis moneter.

Sebagai bentuk empati pada banyaknya anjing yang dijagal dan dimakan, di ujung cerita, SGA menuliskan catatan kaki :“Sayangilah anjing, sayangilah makhluk ciptaan Tuhan”.

Menjadi Lagu

Masih ada yang ingat lirik lagu “Helly guk guk guk?”. Lagu lawas yang pernah dinyanyikan Chica Koeswoyo saat masih ingusan. Lagu ciptaan Yon Koeswoyo itu bercerita tentang kelucuan seekor anjing kecil bernama Helly.

Sampai hari ini, lirik lagu yang ditulis sederhana dan terasa dekat dengan kehidupan sehari hari itu, masih banyak yang hafal di luar kepala. Pada saat penganugerahan 20 Lagu Anak Dendang Kencana di Bentara Budaya, Jakarta  2017 silam, Chica yang sudah menjadi wanita dewasa sempat didaulat untuk kembali menyanyikannya.

Selain “Helly”, kisah tentang anjing juga mengilhami grup band rock’n roll Slank mencipta lagu berjudul “Anjing”.  Biar lucu, galak, mahal dan murah, tetap aja binatang, katanya. Band reggae asal Jogjakarta Shaggy Dog, juga pernah membuat lagu berjudul “Anjing Kintamani”.

Menjadi Senjata Olok olok dan Pepatah Bijak

Seperti halnya kampret, monyet atau babi. Anjing, asu atau kirik terpilih sebagai kata makian yang laris. Namun uniknya, seringkali diucapkan dalam suasana kebatinan yang bertolak belakang.

Saat marah dengan enteng mengucap “asu” atau “anjing”. Fungsinya jelas, sebagai makian atau  ungkapan kedongkolan. Namun ketika bahagia, kata “anjing” juga tidak jarang kembali digunakan. Biasanya wujud keakraban, rasa sayang dari persahabatan.

Kecerewetan anjing dalam mereaksi situasi juga menginspirasi lahirnya pepatah, “Biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”. Oh ya, ada juga kisah anjing yang tidur bersama sejumlah pemuda di dalam gua selama ratusan tahun, lalu Tuhan menjanjikannya selembar tiket ke sorga.

Demikianlah kisah para anjing yang telah menginspirasi manusia. (Mas Garendi)

print

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.