READING

Terseok di Industri Musik Tanah Air (4)

Terseok di Industri Musik Tanah Air (4)

Popularitas Children Brother (CB) Band di panggung festival tak berbanding lurus dengan kemujuran di industri rekaman. Satu-satunya album yang mereka keluarkan gagal di pasaran hingga menggerus defisit ratusan juta.

Salah satu cita-cita terbesar CB Band adalah masuk ke industri musik dan menghasilkan karya. Tak hanya meraup keuntungan, langkah ini juga akan menaikkan pamor CB sebagai band panggung. “Saya kira itu cita-cita semua grup band, karena kami tidak bermain di jalur Indie,” kata Davit Johar Arifin, gitaris CB Band kepada Jatimplus.

Para personil CB merasakan getirnya upaya menembus industri musik tanah air. Cita-cita untuk memiliki album dan dipasarkan secara luas dirintis dengan membuat album sendiri. Satu-satunya album yang mereka keluarkan bertitel Satu Gagasan diproduksi dan direkam dengan biaya sendiri. Kala itu, Heru, pemetik gitar CB Band Veteran yang juga om mereka, merogoh kocek hingga Rp 400 juta untuk membiayai abum itu.

Selain melakukan rekaman di salah satu studio Surabaya, Heru juga membiayai pembuatan video klip album keponakannya. Menurut David, alur ini sebenarnya tak lazim dilakukan para band. Mereka akan mengajukan materi lagu terlebih dulu kepada pemilik label, sebelum melakukan rekaman yang dibiayai oleh label ketika disetujui. “Tapi kami terbalik, membiayai sendiri rekaman dan meminta kerjasama label untuk mendapatkan ijin dan peredaran kaset,” kata Davit.

Sejumlah label rekaman ibu kota disasar dengan biaya sendiri. Mulai dari Musica Studio, Sony, hingga Aquarius diketuk satu per satu untuk menawarkan kerjasama pemasaran. Hasilnya, tak satupun dari mereka yang memberikan konsep kerjasama menarik. Menurut Davit, perhitungan bagi hasilnya sangat merugikan artis.

Tak patah arang, Davit terus mencari perusahaan rekaman yang bersedia memfasilitasi bandnya. Hingga bertemulah dengan Malta Record, sebuah label yang dimiliki pengusaha kuliner asal Surabaya. Pihak Malta bersedia memberikan bagi hasil 40:60 untuk CB Band dari keuntungan penjualan kaset. “Tapi lagi-lagi kami gagal di pemasaran,” jelas Davit.

Selain berjuang di industri rekaman, manajemen CB yang diawaki para saudara David juga mencari celah yang menguntungkan. Salah satunya mencari kesempatan tampil di televisi. Hal ini diyakini akan mendongkrak oplah job ketika dikenal di layar kaca.

Davit masih mengingat saat dia dan para pemain CB mengantre berjam-jam di ruang resepsionis stasiun televisi yang memiliki program acara Gebyar BCA. Kala itu, program tersebut cukup populer untuk memperkenalkan talent baru.

Alih-alih mendapat honor, manajemen CB justru ditarik biaya sebesar Rp 30 juta oleh penyelenggara acara jika ingin tampil satu lagu di program itu. Meski disetujui, kesempatan itu akhirnya lenyap setelah “ditelikung” pemain lain. “Kala itu Bu Acin (perusahaan label) tiba-tiba datang ke acara itu untuk memperkenalkan band baru yaitu Peterpan,” kenang Davit.

Bak kerbau dicocok hidungnya, pihak stasiun televisi langsung merespon permintaan itu dan memberikan kesempatan manggung kepada Peterpan dalam waktu dekat. Sementara CB Band yang rela merogoh kocek puluhan juta harus menunggu kabar hingga tiga bulan mendatang. Davit masih merasa kesal jika mengingat peristiwa yang terjadi pada tahun 2004 itu.

Kenyataan itulah yang membuat Davit dan adik-adiknya memilih menjadi band panggung. Dominasi pemain kakap di industri musik tanah air, menurut dia, masih susah dihilangkan hingga saat ini.

Album Satu Gagasan pun dilepas dengan pola pemasaran sendiri yang konvensional. Melalui pentas panggung ke panggung, CB mengkampanyekan musiknya yang sarat dengan teknik permainan alat.

Jatuh bangun dilakukan Davit untuk mempertahankan bandnya. Gonta-ganti personil karena ketidakcocokan pemikiran kerap mewarnai grup rock ini. Sang vokalis Decky Donal Sompotan bahkan pernah “dipinjam” grup band asal Pandaan Pasuruan, Elpamas. Band yang jauh lebih senior dengan ikon personil Toto Tewel.

Kala itu, Elpamas yang lebih bernasib mujur dilirik perusahaan label kehilangan vokalis saat hendak meluncurkan album 60 km/jam. Meski dipegang manajemen Log Zhelebour, album itu pun juga kandas di pasaran.

Era musik rock sepertinya benar-benar telah tenggelam. Keterpurukan band-band rock berlangsung seiring meredupnya pamor Log Zhelebour sebagai promotor musik rock. Bahkan pada akhirnya Log menyatakan mundur dari industri musik rock yang telah melambungkan namanya di pentas hiburan tanah air.

Menurut Davit, undur dirinya Log dari dunia industri rock telah memukul band-band rock. Kesempatan emas mengasah kemampuan dan menjajal studio rekaman sirna seiring berhentinya putaran Festival Rock Indonesia. Log Zhelebour benar-benar mengakhiri kejayaan ajang Festival Rock Indonesia yang telah berjalan hingga sebelas kali.

Tak terhitung berapa banyak band rock yang lahir dari ajang kompetisi dalam kurun waktu 1984-2007. Diantaranya adalah Grass Rock, Nickey Astria, Jamrud, Elpamas, Slank, Kaisar, Andromedha, Power Metal, Sahara, Whizzkid, dan Boomerang.

Warga Kediri layak berbangga memiliki CB Band yang ikut mewarnai kancah musik rock tanah air. Setidaknya, band yang dirintis dari Pasar Pahing ini merasakan megahnya panggung Festival Rock Indonesia yang menjadi pencapaian tertinggi musisi rock tanah air.

Kini, dari panggung ke panggung, CB Band tak pernah berhenti merawat musik rock dari ruang pendengaran publik. Mereka juga mengorganisir dan membuka diri bagi musisi muda yang tertarik di genre rock. Melalui komunitas Rock Community Kediri, Davit mengajak siapapun menghidupi musik rock dengan fair dan sehat. “Kami yakin dan percaya jika kelak musik rock akan kembali bangkit dan menguasai industri tanah air,” pungkas Davit. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.