READING

Tes Urine untuk Sopir Angkutan Umum Jelang Liburan...

Tes Urine untuk Sopir Angkutan Umum Jelang Liburan di Kabupaten Kediri

KEDIRI- Menjelang libur akhir tahun, kebutuhan masyarakat akan angkutan umum biasanya meningkat. Maka, sebelum memasuki masa liburan, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kediri melakukan tes urine untuk para sopir.

Tim BNN Kabupaten Kediri nampak bersiap sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Mereka memilih untuk bersiaga di kawasan Terminal Pare karena di sanalah tempat angkutan umum berhenti sejenak. Di sela-sela menunggu penumpang naik, para sopir diminta untuk melakukan tes urine.

“Sopir ini peranannya sangat penting. Karena kalau ada apa-apa, bisa membahayakan semua penumpangnya,” terang AKBP Dewi Indarwati, Kepala BNN Kabupaten Kediri saat ditemui di Terminal Pare.

Tidak hanya meminta sampel urine saja untuk diuji kandungan senyawa kimia di dalamnya, petugas juga menanyakan minuman apa saja yang dikonsumsi oleh para sopir ketika sedang dalam kondisi capek.

Sejauh pantauan petugas di lapangan, belum ada temuan sopir yang positif mengonsumsi obat terlarang. Mereka juga disarankan untuk tidak memaksakan diri mengemudikan kendaraan jika sedang sakit dan lelah.

“Istirahat yang cukup nggih, Pak. Jangan memaksakan diri atau mengonsumsi obat atau minuman yang mengandung efek doping,” tambah Dewi sambil menyalami para sopir.

Dewi sangat menekankan pesan tersebut, sebab banyak bandar obat terlarang yang memberikan iming-iming obat penambah tenaga kepada para sopir. Jika sekali memakai zat adiktif, dikhawatirkan mereka menjadi kecanduan. Hal ini berakibat rusaknya sistem syaraf dan membuat sopir kehilangan fokus ketika mengemudi.

“Sejauh ini belum ada temuan positif di sini. Tapi kami akan terus menjaring sopir sebanyak-banyaknya agar masyarakat merasa aman ketika bepergian menggunakan angkutan umum,” katanya.

Meski belum ada temuan dalam sidak kali ini, Dewi menjelaskan bahwa pihaknya sempat menemukan satu sopir yang positif pengguna narkoba dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Dari hasil temuan tersebut, tim BNN langsung melarang yang bersangkutan mengemudikan kendaraannya.

“Tidak boleh melanjutkan perjalanan, harus menggunakan sopir pengganti,” katanya.

Setelah itu, Dewi juga melakukan assessment dengan melakukan pemeriksaan lengkap. Jika sopir dalam kondisi sakit dan mengonsumsi obat keras, tim BNN akan langsung merujuknya ke rumah sakit. “Namun jika hasil positif tersebut murni karena sopir kedapatan menggunakan narkoba sebagai doping, maka BNN akan melakukan rehabilitasi,” urai mantan Kepala BNN Kota Kediri tersebut.

Dari data BNN Kabupaten Kediri, diketahui total ada 45 pengguna narkoba yang dilakukan rehabilitasi selama tahun 2019. Lebih dari separuh datang secara sukarela. Sisanya merupakan hasil dari temuan petugas ketika melakukan sosialisasi dan screening di masyarakat.

Dari segi usia, paling banyak pemakai narkoba berada di rentang usia 25-40 tahun. Selebihnya berada di usia 15-25 tahun dan paling sedikit di rentang usia 41-65 tahun. Sedangkan zat yang paling banyak disalahgunakan adalah pil dobel L sebanyak 60 persen, sabu-sabu 25 persen, dan ganja 5 persen.

“Sisanya 10 persen dari temuan, mereka mengonsumsi lebih dari satu zat adiktif (zat multiple),” jelasnya.

Selain melakukan kegiatan rehabilitasi, BNN juga berhasil meringkus empat orang pelaku kejahatan penyalahgunaan obat terlarang. Dua di antaranya sudah mendapatkan vonis dari pengadilan selama 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp 800 juta.

“Dua lainnya ini masih dalam proses di kejaksaan,” pungkasnya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.