READING

Tidak Kalah Dengan Desainer, Karya Siswa-Siswi SMK...

Tidak Kalah Dengan Desainer, Karya Siswa-Siswi SMKN 3 Berhasil Hipnotis Pengunjung The 5th Dhoho Street Fashion

KEDIRI– The 5th Dhoho Street Fashion (DSF) Show berlangsung meriah. Belasan peraga busana tampil memukau dengan balutan outfit berbahan dasar tenun ikat warna-warni. Mereka berlenggak-lenggok di bawah naungan pepohonan di Hutan Kota Joyoboyo.

Suasana teduh dan asri membuat para pengunjung pun santai menikmati peragaan busana. Apalagi ditambah musik latar hasil gubahan DJ Ari Wulu semakin menambah semarak acara bertema The Pride of Jayabaya tersebut.

Meski tahun-tahun sebelumnya juga menggunakan kain tenun ikat Kediri, karya para desainer tetap fresh dan menarik. Setiap model baju yang dipamerkan berhasil menghipnotis para pengunjung. Bahkan karya anak-anak SMK juga tidak kalah bagusnya.

“Saya sampai bisik-bisik, ini beneran desain anak SMK? Keren banget,” terang Arumi Bachsin, ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim kepada awak media usai fashion show.

Arumi sendiri sebenarnya sudah sering mendatangi acara DSF sejak dirinya masih berstatus sebagai istri kepala daerah Trenggalek. Kehadirannya menjadi bentuk dukungannya terhadap pelaksanaan DSF Kota Kediri. Ternyata ibu dua anak ini tetap berupaya datang meski statusnya sudah berbeda.

“Bunda Fe inikan rekan seperjuangan selama di Dekranasda Kabupaten-Kota. Dulu saja saya support apalagi sekarang. Dekranasda Kota Kediri ini menjadi ujung tombaknya kami. Jadi sangat kami support,” tambahnya.

Meski hampir setiap tahun datang ke acara DSF, Arumi merasa tidak pernah bosan. Pasalnya setiap tahun ada konsep baru yang diusung sehingga memberikan warna yang selalu berbeda di setiap fashion show. Dirinya juga sangat senang dengan konsep acara yang memberikan ruang kepada anak-anak SMK untuk ikut serta dalam acara.

“Senang banget lihat anak-anak SMK yang mengambi jurusan tata busana ini sudah diberikan panggung untuk menunjukkan karya desainnya. Sangat bagus-bagus,” tandasnya sambil tersenyum.

Tenun ikat Kota Kediri sendiri menurut Arumi memang layak untuk terus dipromosikan. Meski awalnya datang dari luar jawa, nyatanya Kota Kediri lah yang pertama di Jatim yang berhasil mengadopsi dan menjaga keberlangsungannya hingga saat ini.

“Di Tuban sebenarnya ada Tenun Gedog, tapi sangat berbeda dengan tenun ikat Kediri yang memiliki corak dan pola pewarnaan yang berbeda. Jadi tidak bisa dibandingkan karena sama-sama bagusnya,” beber ketua tim penggerak PKK Jatim ini.

Sementara itu, Ferry Silviana, Ketua Dekranasda Kota Kediri merasa sangat puas dengan pelaksanaan DSF kelima ini. Karya para desainer yang diajak berkolaborasi tetap bisa memunculkan gaya magisnya. Sehingga tetap bisa memanjakan mata para pecinta mode di Kota Kediri.

Suasana Dhoho Street Fashion yang diselenggarakan di Hutan Joyoboyo Kota Kediri. Salah satu rancangan busana yang ditampilkan adalah karya desainer kawakan, Priyo Oktaviano. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo.

Setidaknya ada tiga desainer kawakan yang ikut dalam fashion show kali ini. Mulai dari Didiet Maulana, Priyo Oktaviano, dan Samira Bafagih. Tidak ketinggalan juga para desainer lokal Kota Kediri seperti Luxecesar Boutique, Azzkasim Boutique, Numansa dan siswa-siswi dari SMKN 3 Kediri.

“Banyak yang mengagumi karya anak-anak SMK. Bagus dan keren. Tidak kalah dengan karya para desainer profesional,” jelas perempuan yang akrab disapa Bunda Fey tersebut.

Ke depannya, Bunda Fey berencana untuk berkolaborasi dengan asosiasi perancang busana. Sehingga ada semakin banyak desainer yang bisa menjadikan DSF sebagai runaway bagi mereka untuk berlaga. Bunda Fe yakin akan banyak yang tertarik untuk bekerjasama mengingat DSF memiliki konsep yang berbeda dengan fashion show pada umumnya.

“Kebanyakan dilakukan di indoor. DSF ini menjadi hal yang menarik karena dilaksanakan di tempat terbuka,” katanya.

Makanya Bunda Fey dan juga Walikota Abdullah Abu Bakar akan menjadikan DSF ini menjadi acara rutin tahunan. Selain untuk mewadahi karya para desainer, media promosi tenun ikat, Pemkot juga bisa mengenalkan ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Kota Kediri.

“InsyaAllah akan kita lanjutkan terus dengan konsep dan desainer yang lebih banyak lagi. Tidak hanya tenun ikat saja, batik khas Kediri juga diberi ruang yang sama,” pungkas Abu yang mengikuti acara dari awal hingga akhir.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.