READING

Tingginya Kasus DBD Lariskan Jus Jambu

Tingginya Kasus DBD Lariskan Jus Jambu

BLITAR- Tingginya kasus demam berdarah dengeue (DBD) di Kabupaten Blitar membuat permintaan jus jambu meningkat pesat. Sebut saja di wisata Kampung Jambu, Desa Karangsoko, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Dalam sebulan terakhir ini, penjualan jus psidium guajava naik 100 persen. Dari sebelumnya 100 gelas (cup) per hari, tingkat kelarisannya berlipat menjadi 200 gelas. Segelas jus jambu hanya berbandrol Rp 5.000.

“Yang beli mayoritas keluarga pasien DBD di Kabupaten dan Kota Blitar, “tutur Mufid Raharja pemilik wisata Kampung Jambu. Kandungan jambu biji diyakini mampu memperbanyak trombosit atau darah baru dalam waktu singkat.

Selain memiliki kandungan vitamin C yang tinggi dan nutrisi penting, jambu biji juga menyimpan kalsium dan mineral. Bagi pasien DBD yang trombositnya bocor dan merembes ke jaringan sekitar, zat jambu biji menjadi penambal yang ampuh.

Eko salah satu keluarga pasien DBD mengaku rutin berbelanja jus jambu biji. Bahkan tak jarang dirinya membeli masih dalam bentuk buah dan membuat jus sendiri.

“Selain obat medis saya juga menggunakan herbal jambu biji. Alhamdulillah trombosit anak saya yang dirawat sudah naik dan diperbolehkan pulang, “katanya.

Hal senada disampaikan Ahmad Zunaidi, salah satu pengasuh pondok pesantren di Kanigoro.

Karena ada sejumlah santri yang terserang DBD, dirinya rutin berbelanja jambu biji di wisata Kampung Jambu, yakni rata rata per hari sebanyak 10 kilogram. “Kemudian kita bikin jus sendiri untuk diberikan kepada santri yang terserang DBD, “ujarnya.

Sepanjang bulan Januari 2019, jumlah kasus DBD di Kabupaten Blitar sudah mencapai 245 kasus dengan tiga pasien diantaranya meninggal dunia.

Menurut Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Krisna Yekti tiga orang pasien yang meninggal dunia merupakan warga Kecamatan Sanankulon, Kecamatan Kademangan dan Kecamatan Talun.

“Dua pasien yang meninggal dunia berusia dibawah 15 tahun. Sedangkan satu pasien lainnya yang meninggal dunia berusia 28 tahun, “ujarnya.

Faktor cuaca, yakni hujan diselingi panas menjadi faktor penyebab berkembangnya jentik. Selain terus menggencarkan sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN), petugas kesehatan juga meningkatkan intensitas pengasapan (fogging).

Sementara di Kabupaten Nganjuk, kasus DBD telah menyebar hampir merata. Dari 20 kecamatan di Nganjuk, kasus DBD ditemukan di 16 kecamatan, yakni sebanyak 80 kasus.

Menurut Kabid Pencegahan Penyakit Dinkes Nganjuk Syaifullah, dibanding tahun 2018 (dengan bulan yang sama), kasus DBD terjadi peningkatan. “Pada bulan Januari tahun 2018, kasus DBD sebanyak 50 kasus. Sementara sekarang 80 kasus, “ujarnya.

Untuk mencegah penyebaran, seluruh puskesmas diinstruksikan segera menangani pasien. Selain itu juga menggencarkan PSN dan fogging. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.