READING

Tips dan Trik Memotret Pertunjukan Tanpa Terganggu...

Tips dan Trik Memotret Pertunjukan Tanpa Terganggu Penonton

KEDIRIPagelaran Seni Budaya Selomangleng 2019 bertajuk “Majestic Panji – Sekartaji” baru saja berlangsung, menyisakan kenangan tak terlupakan bagi penonton dan pengisi acara, sekaligus juga kritik dan saran untuk event tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Kediri ini. Penonton cukup puas melihat penampilan para seniman dari dalam dan luar kota, bahkan ada yang dari luar negeri juga, yaitu dari Jepang dan Brazil. Kapan lagi warga Kota Kediri bisa menikmati lenggak-lenggok sang maestro tari, Didik Nini Towok, secara langsung, atau kapan lagi melihat orang Brazil tulen menarikan tarian Bali dengan fasih? Beberapa kritik turut dilontarkan oleh beberapa penonton mengenai molornya waktu dimulainya acara dan urutan para penampil yang kurang pas hingga terlihat kedodoran menjelang akhir acara. Bagi saya sendiri sebagai fotografer, cukup terganggu juga dengan penonton yang meluber hingga bisa duduk-duduk di dekat para seniman tampil. Saya menyukai gambar yang bersih, tanpa ada elemen mengganggu di background subjek bidikan saya. Lantas bagaimana cara menyiasati gangguan tak terelakkan tersebut?

Pertunjukan seni yang tak berjarak dengan penontonnya sebenarnya bukan hal baru, karena seniman tradisional sudah jauh hari melakukannya. Kedekatan jarak antara seniman dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan interaksi langsung di tengah pementasan. Faktor kedekatan tersebut menjadi daya tarik pertunjukan, karena dibutuhkan kemampuan komunikasi dan improvisasi bagi seniman untuk merespon penonton dan juga ruang tempat dimana dia tampil, agar tercipta seni pertunjukan yang menghibur. Terlebih kondisi pelataran Goa Selomangleng, tempat dimana pertunjukan berlangsung, sangat menantang kreativitas para seniman. Kontur tanah tak rata dengan background bukit batu berongga dihiasi pepohonan meranggas menjadi panggung ideal penuh estetis, untuk menerjemahkan cerita Panji – Sekartaji yang menjadi tema gelaran tahun ini, ke dalam seni pertunjukan kontemporer.

Kondisi sebenarnya yang tak akan dilihat dari tempat penonton menikmati pertunjukan.

Lain seniman, lain pula bagi fotografer pertunjukan. Jika para seniman sangat menikmati hubungan intimasinya dengan penonton, tidak bagi fotografer yang justru membenci keberadaan penonton yang kadang terlalu dekat dengan tempat pertunjukan. Terlebih di era serba digital seperti sekarang ini, banyak orang gemar mendokumentasikan apa pun untuk mengisi konten di media sosialnya. Jadi jangan heran ketika melihat penonton bukannya menikmati pertunjukan, melainkan sibuk kesana-kemari merekam dengan kamera di telepon pintarnya. Bagi kami, para fotografer yang ingin menghasilkan foto-foto “bersih”, itu mengganggu sekali. Udah momennya bagus, eh tau-tau di belakang penampil ada penonton yang dengan cueknya nongkrong sambil merekam pakai hape, kesel banget kan?

Berikut beberapa tips dan trik yang fotografer bisa lakukan untuk menyiasati kondisi tempat pertunjukan yang kurang ideal karena terganggu keberadaan penonton.

Datang lebih awal

Pemilihan lokasi yang strategis untuk mengambil gambar, akan sangat menentukan hasil foto yang kita dapatkan.

Ada idiom “the early bird gets the worm”, siapa yang datang lebih dulu, dialah yang beruntung. Begitu juga saat mendatangi sebuah pertunjukan seni. Semakin awal kita datang, semakin kita punya keluasaan mendapat tempat paling strategis untuk mengambil gambar dengan angle terbaik. Mengapa tempat sangat penting? Biasanya saat pertunjukan berlangsung, kecil kemungkinan kita bisa berpindah-pindah tempat dengan mudah, karena akan mengganggu pertunjukan dan sulit sekali mencari ruang kosong di antara berjubelnya penonton.

Gunakan lensa jarak jauh

Lensa jarak jauh bisa menciptakan gambar subjek yang tajam dan fokus.

Tidak wajib sebenarnya kita punya lensa jarak jauh saat memotret pertunjukan, tapi andai kita punya, tentu itu akan menjadi perlengkapan paling berguna saat kita ingin mengeliminasi elemen-elemen tak perlu dalam gambar. Salah satunya adalah penonton. Membidik menggunakan lensa jarak jauh membuat kita bisa selektif memilih ketajaman fokus hanya di subjek utama, dan membuat foreground dan background menjadi blur.

Pilih sudut pengambilan rendah

Mengambil gambar dari sudut rendah (low angle) bisa meminalisir elemen penonton yang ikut terekam kamera.

Low angle atau sudut pengambilan gambar kamera lebih rendah dibandingkan subjek bidikan kita, membuat si subjek terlihat lebih gagah atau anggun. Selain itu, kita juga bisa menghilangkan penonton yang ada di sekitar subjek. Namun harus diperhatikan elemen apa yang ada di atas subjek dan darimana sumber cahaya yang menerangi subjek, agar tidak mengganggu eksistensi subjek dalam gambar.

Eksplorasi detil yang ada di lokasi

Perlengkapan sesaji yang digunakan untuk ritual adat sebelum berlangsung pentas tari topeng di Pijiombo, Malang.

Untuk menambah dimensi cerita dari foto pertunjukan yang kita ambil, kita bisa juga memotret bermacam detil yang tersebar di lokasi. Detil tersebut bisa berupa kostum, alat musik, perlengkapan pentas, dan pernak-pernik lainnya. Yang penting detil tersebut masih menjadi bagian dari pertunjukan dan bisa memperkuat cerita yang kita bangun.   

Selalu ada yang menarik di balik panggung

Suasana di balik panggung saat pementasan Nyai Ontosoroh di TIM Jakarta.

Orang akan selalu ingin lebih, terutama kalau itu berhubungan dengan rasa penasaran. Dan pastinya kisah di balik panggung pertunjukan, bakal menjadi cerita yang selalu menarik. Luangkan waktu untuk berkenalan dan mengobrol dengan seniman yang akan tampil. Setelah itu barulah ekplorasi cerita dari balik panggung. Paling tidak, di tempat itu kita takkan menjumpai penonton yang mengganggu keindahan gambar.

Masukan penonton ke dalam cerita

Atraksi Alexander BG dari Lampung mengguyurkan air dalam kendi terlihat kontras dengan seorang penonton di belakangnya yang mendekap botol air mineral kemasan.

Jika kita tak bisa “menghilangkan” penonton dalam gambar, mengapa tidak kita ikutkan saja sekalian mereka ke dalam cerita yang kita bangun? Cara paling mudah adalah menggabungkan antara atraksi menakjubkan si seniman dengan ekspresi decak kagum si penonton. Tentu hal tersebut membutuhkan jam terbang, kepekaan, dan imajinasi si fotografer saat merangkai cerita yang melibatkan seniman yang tampil dengan penonton di sekitarnya.

Enjoy the show !

Penampilan kelompok Anterdans dari Yogyakarta.

At the end… gambar penonton yang ikutan nampang di foto kita bukanlah akhir dari dunia. Nikmati aja, gaes. Malah kadang ketidaksempurnaan itu menghasilkan gambar yang alami dan humanis. Toh ini kan pertunjukan untuk rakyat, wajar dong kalau penontonnya banyak dan macam-macam tingkahnya. So, jangan jadikan hasil foto sebagai tujuan utama, tapi jadikan pertunjukan itu privilege yang kita dapat sebagai penonton. Para seniman itu perlu latihan keras loh untuk tampil di depan kita dan mereka harus rela mandi keringat dan berpanas-panasan demi menampilkan aksi terbaik mereka.

Penghormatan bagi mereka bisa kita lakukan dengan banyak cara. Salah satunya bisa kita awali dengan belajar menjadi penonton yang baik dan tertib…  

Foto dan Teks oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.