READING

Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Daratan Cina (1...

Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Daratan Cina (1)

Jika ada kisah perantauan yang sukses dari nol menuju puncak, salah satunya adalah Tjoa Ing Hwie. Masih berumur 3 tahun, dia sudah dibawa orang tuanya dari daratan Provinsi Fujian, Cina Selatan menuju Indonesia yang menjadi wilayah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Bercelana kolor dan baju nilon khas model Tionghoa, Ing Hwie kecil sudah berhimpitan dengan penumpang kapal lain menyusuri samudera luas. Lokasi pendaratan kapal itu adalah Sampang,  Madura.

Rombongan Tjoa Ing Hwie dari daratan Cina ke Indonesia bukanlah yang pertama. Mereka bermigrasi ke Indonesia menyusul pendahulunya yang telah berhasil mendapat kehidupan baru di Indonesia.

Kehidupan Tjoa Ing Hwie di Madura cukup keras. Sebagai perantauan, dia dipaksa bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup di usia yang masih kanak-kanak. Salah satunya adalah bekerja menjadi pembantu tukang sate. Kelak, penjual sate inilah yang memasok ke Gudang Garam karena memiliki lahan tembakau cukup luas.

Menginjak usia belasan tahun, Tjoa Ing Hwie memutuskan hijrah ke Kediri setelah ayahnya meninggal dunia. Tujuannya adalah mencari pamannya Tjoa Kok Tjiang yang menjadi pengusaha rokok kretek merek Jiao San. Belakangan, rokok yang mulai diproduksi pada tahun 1940 itu berubah nama menjadi Tjap 93 di tahun 1950.

Kala itu rokok yang diproduksi di Jalan Sriwijaya, Kelurahan Kemasan ini sudah dikenal luas. Sekarang bangunan pabrik itu telah beralih fungsi menjadi gedung Taman Kanak-kanak Santo Yoseph II milik Yayasan Yohanes Gabriel.

Industri rokok di Jawa Timur memang sangat pesat. Selain Kediri, Blitar dan Tulungagung dikenal sebagai lumbung produsen rokok kretek. Bahkan dibanding Surabaya, Nganjuk, Madiun, Bojonegoro, Besuki, Ponorogo, Tuban, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang yang sama-sama memiliki produsen rokok, kawasan segitiga Brantas yakni; Blitar, Tulungagung, dan Kediri adalah paling besar.

Pertumbuhan industri rokok di Jawa Timur ini tak lepas dari situasi politik di Kudus, Jawa Tengah yang terjadi konflik rasioal di tahun 1918. Situasi itu memaksa warga Tionghoa dari Kudus hijrah ke Jawa Timur. Perpindahan mereka membawa modal dan pengetahuan tentang rokok kretek yang telah lebih dulu dikembangkan di Kudus.

Tjoa Ing Hwie, pendiri Gudang Garam

Di pabrik rokok Tjap 93 ini Tjoa Ing Hwie mengenal bisnis rokok dari nol. Berawal dari tukang linting, karirnya berkembang cepat hingga menjabat salah satu direktur di perusahaan milik pamannya.

Mujiati, 81 tahun, salah satu pekerja di pabrik rokok Tjap 93 mengisahkan percepatan karir Tjoa Ing Hwie ini memantik perhatian para bos. Bahkan isu tak sedap sempat berhembus di kalangan pekerja yang menuding Ing Hwie melakukan praktik korupsi. “Ing Hwie bisa membangun rumah bagus di depan Rumah Sakit Bhayangkara sehingga dituding korupsi,” kata Mujiati.

Namun isu itu tak dimakan mentah-mentah oleh para karyawan. Di mata Mujiati, sosok Tjoa Ing Hwie jauh dari kesan koruptor yang dituduhkan. Dia adalah bos yang memiliki keuletan bekerja luar biasa dan dedikasi tinggi pada pabrik. Ing Hwie juga sangat dekat dan memperhatikan karyawannya, termasuk Mujiati. Tuduhan itulah yang membuat karir Tjoa Ing Hwie berhenti dan memutuskan membangun pabrik sendiri di Semampir.

Baca juga: Kesaksian Mujiati, buruh pertama Gudang Garam

Baca juga: Sedikit Surut Banyak Pasang

Baca juga: Hoki dan Rejeki Logo Gudang Garam

Baca juga: Makin Sedekah Makin Makmur

Sejarawan Dukut Imam Widodo memiliki versi lain soal kepergian Ing Hwie dari pabrik Tjap 93. Menurutnya, Ing Hwie hengkang karena ingin mandiri dan membangun usahanya sendiri. Hal itu justru didorong oleh pamannya agar bisa lebih berkembang. “Percayalah pada dirimu, apapun kata orang, itu bukan masalah,” kata Dukut menirukan pesan Tjoa Kok Tjiang kepada Ing Hwie saat pamit untuk mendirikan pabrik sendiri.

Di awal usahanya, Ing Hwie memilih memproduksi rokok klobot atau dalam bahasa Belanda strootjes. Istilah ini merujuk pada pembungkus tembakau, cengkeh, saus, dan daun jagung kering atau maisblad. Di luar itu ada jenis klobot lain yang menggunakan pembungkus kawung atau daun aren.

Di Kelurahan Semampir, rumah yang disulap menjadi pabrik oleh Tjoa Ing Hwie ini memproduksi klobot berbentuk konus atau jirus. Klobot ini memiliki bentuk yang mengecil pada bagian yang dihisap, dan membesar pada bagian yang dibakar. Agar tak lepas, rokok ini diikat jingo atau tali dan diproduksi menggunakan tangan. Karenanya klobot juga digolongkan sebagai sigaret kretek tangan (SKT).

Pada mulanya Tjoa Ing Hwie tak langsung memberi label Gudang Garam pada produk rokoknya. Dia justru memberi nama klobot tjap Inghwie untuk rokok yang diproduksinya selama dua tahun. Belakangan nama itu diubah menjadi Gudang Garam pada tanggal 26 Juni 1958. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

  1. […] Baca juga: Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Cina  […]

  2. […] Baca juga: Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Daratan Cina […]

  3. […] Baca juga: Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Daratan Cina […]

  4. […] Baca juga: Tjoa Ing Hwie, Perantau Ulung Dari Daratan Cina […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.