READING

Tokoh Anggrek Indonesia itu Tutup Usia

Tokoh Anggrek Indonesia itu Tutup Usia

Ayub S. Parnata adalah catatan sejarah anggrek Indonesia. Tanggal 8 April 2019 merupakan halaman terakhirnya, ia berpulang setelah 52 tahun menuliskan narasinya tentang anggrek.

“Pak Ayub mulai memelihara anggrek tahun 1947. Waktu itu usianya 15 tahun,” kenang Lukas B. Parnata, anak Ayub S. Parnata. Bagi keluarga Parnata, memelihara anggrek adalah hal menyenangkan dan menepis strata usia. Bapak dan anak ini bisa membahas anggrek dalam obrolan tanpa batas usia sampai akhirnya, Lukas pun mengikuti jejak ayahnya, menjadi pebisnis dan pecinta anggrek.

“Kami jadi punya banyak kawan dari segala golongan, dari rakyat jelata sampai pejabat tinggi,” tambahnya. Nurserinya di Cikole Atas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung tak pernah sepi pengunjung. Mereka datang dari dalam dan luar negeri.

Pun peran Ayub dalam dunia anggrek tak hanya berkumandang di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Namanya tersemat dalam spesies anggrek kasut, Paphiopedilum ayubii yang kemudian terdaftar sebagai Paphiopedilum gigantifolium. Sebuah kisah penamaan yang memperebutkan gengsi pada pecintanya. Sebab marga anggrek kasut atau anggrek kantong ini terbatas jenisnya. Ada kebanggaan ketika nama pecinta anggrek tersemat sebagai nama salah satu spesiesnya.

Sejarah Anggrek Indonesia Bermula

Ayub lahir di Bandung, 4 Desember 1932 dengan nama Yap Sian Too. Ia bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS) Bandung. Kemudian hidupnya didedikasikan untuk anggrek dan dunia pertanian. Pertemuan pertama saya dengan pendiri Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) ini pada Desember 2006. Kala itu, saya sedang mengumpulkan data untuk menulis artikel di National Geographic Indonesia tentang sejarah dan konservasi anggrek di Indonesia. Artikel itu terbit dengan judul “Anggrek Memikat Debat”, September 2007 dengan fotografer Jerry Aurum.

“Kami, orang Sunda menyebutnya anggerik,” kata Ayub. Anggerik berasal dari bahasa Sunda ngangkrok yang artinya kurang lebih memanjat atau menempel di pohon. Mulanya, anggrek tanah (terestris) belum dikenal. Orang melihat anggrek hanya epifit, menempel di pohon. Sementara orang Sumatera Utara menyebutnya angkerik karena keterbatasan untuk melafalkan bahasa Sunda.

Ayub menuturkan, sejarah pemeliharaan anggrek di Indonesia terlahir dari kalangan bangsa kolonial Belanda. Saat itu, bangsa penjajah mempunya kasta yang lebih tinggi dari bangsa pribumi. Tak heran, jika anggrek identik dengan kaum priyayi. Hanya orang-orang yang berderajad tinggi yang bisa memelihara Orchidee, demikian orang Belanda menyebutnya.

“Pembudidayaan juga sudah dilakukan pada waktu zaman Belanda. Buktinya, terlahir hibrid Phalaenopsis Emma Van Deventer di bumi Nusantara,” terang Ayub. Tak hanya itu, beberapa penemuan spesies penting juga ikut memajukan peranggrekan di Hindia Belanda. W. Watson dalam buku Orchids (1979) mencatat publikasi Vanda tricolor pada tahun 1847. Anggrek warna putih bercak coklat asal Pulau Jawa yang kini telah menghasilkan 3.496 hasil silangan dari 9 generasi.

Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, anggrek ini dibeli oleh kaum pribumi golongan atas. Hanya mereka yang bisa membeli lantaran harganya mahal. Sebagai contoh, untuk Dendrobium Loussae setara dengan 2,5 gram emas, Oncidium splendidum sama dengan 1,75 gram emas, Cattleya setara 1 gram emas dan Phalaenopsis schileriana dibeli dengan 1 gram emas.

“Sebuah angka yang tak terjangkau kala masyarakat kebanyakan masih berbaju karung goni,” kenang Ayub. Kala itu pembelinya antara lain : Rd. Edje Kartahadimadja (Pensiunan Bupati Sumedang), Doeli Wangsa Soelaksana (Hakim Tentara), Djamal Ali (Direktur Harian Pikiran Rakyat), Wim Vanneyenhof (Staf Sekolah Olahraga) dam beberapa hobiis lain. Waktu itu Ayub ikut menjadi pembeli, usianya masih 24 tahun.

Para pembeli ini belum tahu bagaimana cara memelihara anggrek sebagaimana yang diketahui Belanda. Permasalahan pertama pada media tanam. Yang ada hanya pakis dan pecahan genteng, sedangkan pupuk dan pestisida belum dikenal. Penyilangan dan pembiakan dalam botol tidak diketahui caranya. Apalagi, setelah Jepang menduduki Nusantara. Peranggrekan Nusantara semakin mundur lantaran orang-orang Belanda dipenjara. Tak ada yang mengenal budidaya anggrek. Dunia anggrek pun kembali senyap.

Akhirnya, setelah lama stagnan, Bandung merupakan saksi bisu kelahiran pembudidaya anggrek di bumi Nusantara.  Tepatnya di sekolah olah raga Jl. Vandeventer, PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) berdiri pada tahun 1956. Kini PAI berkembang menjadi organisasi pecinta anggrek di tiap provinsi dan kabupaten. Organisasi ini yang mengawali pembudidayaan anggrek melalui kursus untuk pertama kalinya.

“Kami mengawali kursus budidaya anggrek dengan 20 orang. Boleh dibilang itu kursus anggrek yang pertama di Indonesia. Peserta dan gurunya masih sama-sama belajar,” kata Ayub sambil tertawa. Beberapa dari mereka kemudian menjadi penganggrek. Lainnya menyebarkan ilmunya pada saudara dan kerabat dekatnya. Semisall Nyonya Go Yan Tong dari Surabaya membagi ilmunya kepada adiknya Handoyo Harjo dan keponakannya Sidharta. Keduanya kemudian menjadi penganggrek ternama di negeri ini.

Para penganggrek Indonesia telah mencatatkan diri menjadi nama spesies dan nama hibrida RHS (Royal Horticulture Society), lembaga yang mencatat nama tumbuhan sedunia. Salah satu jenis yang menarik adalah nama untuk jenis anggrek kasut. Anggrek yang saya lihat di kebunnya saat itu.

Paphiopedilum ayubii yang terdaftar di RHS (Royal Horticultural Society) dengan nama Paphiopedilum gigantifolium. Foto: Frankie Handoyo.

Sebuah Prestis Nama Spesies

Saya masih ingat kebun itu, belasan tahun berselang. Sebuah kebun yang ditumbuhkan oleh ketekunan dan cinta selama puluhan tahun. Ketika menapaki jalan masuk kebun milik Ayub yang dibangun di atas kontur tanah yang berundak-undak pada lahan seluas 1,5 hektare, narasi itu terbaca. Kebun itu menjadi hunian bagi ratusan jenis anggrek alam yang unik, anggrek alam dan anggrek silangan karyanya. Pandangan saya melekat pada bunga-bunga dari tiga jenis anggrek kasut yang tengah bermekaran. Semuanya tampak cantik dan entah berapa kali saya telah melontarkan kekaguman.

“Tahun 1997 saya menemukan anggrek ini,” kata Ayub ketika menunjukkan anggrek kasut itu. Sekilas mirip dengan Paphipiopedilum supardii dengan petal (mahkota) melengkung. Dr. Karasawa di Tokyo dan Dr. Philip Crib di London Herbarium meyakinkan Ayub bahwa spesies ini belum pernah terdaftar. Para pakar anggrek dunia ini sepakat menamainya Paphiopedilum ayubii. Nama inilah yang dipublikasikan pertama dalam Australia Orchids Magazine dan Orchids Diggest di London.

Publikasi ini mengundang 2 warga Eropa datang ke Bandung. Mereka adalah Hans Herman (Belanda) dan Popov (Rusia). Rupanya mereka lebih sigap sementara Ayub masih mencari rekan untuk mendeskripsikan temuannya dalam bahasa Latin sebagai syarat penamaan spesies baru. Warga Eropa ini segera mendeskripsikan dalam bahasa Latin dan mendaftarkan atas nama mereka sebagai Paphiopedilum gigantifolium.

“Saat itu nama di pasaran sudah pakai ayubii. Tapi kemudian nama yang terdaftar di RHS menjadi gigantifolium,” kata Ayub tersenyum meski kecewa. Ia layak kecewa, sebab sebuah prestis tersendiri ketika namanya tersemat dalam spesies anggrek yang dulu paling dicari sekaligus paling banyak diselundupkan pada masa itu. Dalam marga ini, tak lebih dari 80 spesies (termasuk silangan alam) di seluruh dunia.

Kekecewaannya sedikit terobati ketika kemudian ia kembali mendaftarkan spesies baru di marga yang sama. Kali ini diambil dari nama putrinya, Intan. Tepatnya tahun 2000, anggrek asal Sulawesi, Paphiopedilum intaniae terdaftar sebagai spesies baru atas namanya.

Selain marga anggrek kasut, nama Ayub juga tersemat di marga Dendrobium. Tahun 2004, anggek asal Papua dengan labelum (bibir) berwana kuning cerah terdaftar dengan nama Dendrobium parnatanum.

Selain menyematkan namanya dalam spesies anggrek yang ditemukan, tahun 1983 Ayub membuat kelompok kerja internasional bersama ahli dari Prancis dan Jerman untuk memberi nama spesies anggrek yang baru ditemukan di Indonesia. Nama-nama ini bukan hanya sekadar sebagai penanda keindahan. Sebab keindahan kerap tak butuh nama. Hanya para penyilang membutuhkan untuk mencatat silsilahnya. Memilah dan menjodohkannya dengan spesies yang sesuai agar menghasilkan anggrek silangan sesuai kebutuhan, baik estetika maupun bisnis.

Penghulu Lebih dari Sepuluh Ribu Silangan

Ayub adalah ketekunan, seperti kebunnya yang menumbuhkan ribuan kuntum bunga setiap musimnya. Lebih dari 10.200 silangan anggrek berhasil lahir di kebunnya. Sejumlah 78 di antaranya sudah terdaftar di RHS. Uniknya, silangan anggrek karya Ayub ini tidak hanya menyilangkan dua spesies, namun silangan tiga marga lebih. Silangan ini disebut anggrek hibrida multigenerik (multy generic hybrid). Untuk menghasilkan silangan semacam ini, penyilang harus paham betul dengan jenis anggrek, tingkat kesuburan bunga, hingga detail pertumbuhannya.

Dalam hal penamaan, para ahli anggrek dunia sepakat untuk memberi tambahan “ara” di belakang nama penyilangnya. Anggrek silangan multigenerik pertama dari Indonesia yang terdaftar di RHS adalah karya Ayub. Tanggal 17 September 1979, The Register of Orchid Hybrids, RHS, Vincent Square, London mencatat Parnataara Kupu-Kupu. Hasil dari silangan anggrek bigenerik Aeridachnis Bogor (Aerides odoratum x Arachnis ukriana) x anggrek bulan Maluku (Phalaenopsis amboinensis).

Selanjutnya, pada tanggal 10 Oktober, Ayub kembali mendaftarkan anggrek trigenerik dengan nama Ayubara Pascal Unggul. Merupakan silangan dari bigenerik Aeridachnis Bogor x Ascoglossum purpureum. Silangan ini menjadi anggrek kedua dari Indonesia yang didaftarkan di RHS.

Dua anggrek hibrida tersebut hanya sebagian kecil karya Ayub. Lainnya sudah banyak beredar di pasaran, dan kerap kali tak didaftarkan. Bagi pembeli keindahan, terkadang mereka tak membutuhkan nama. Keindahan dalam paket tanpa nama itu menghiasi rumah, meja, dan hati para pencintanya di seluruh Indonesia dan dunia. Ayub juga merintis berdirinya Asosiasi Petani Anggrek Indonesia (APAI) yang mengantarkan keindahan anggrek Indonesia kepada penduduk dunia.

Di sela mengurus anggrek, Ayub juga berinovasi pada pupuk organik. Ayub mengekspor 2 kontainer per bulan atau sekitar 64 ton pupuk cair ke Tiongkok. Kisahnya pun tak kalah seru.

Ia yang Mencintai Indonesia

Kecintaannya pada kehidupan tanaman mengajaknya menyusuri penopang hidup kerajaan tumbuhan. Bermula pada tahun 1960 ketika ia bertanam jagung. Hasilnya tak seperti yang diharapkan karena menurutnya, pupuk kimia sintetis merusak struktur tanah. Pupuk yang tak terurai menjadi polutan yang merusak tanah. Tugas pengurai ini harusnya dilakukan oleh jasad renik (pengurai).

Ia mengamati dengan telaten dengan pengetahuan yang terbatas saat itu. Sampai ia menandai, setiap tanah subur selalu ditemukan Pseudomans putida dan Psuedomonas fluorescen.

Berbahan mikrobia itulah, Ayub memformulasikan pupuk organik yang kemudian berhasil diproduksi secara komersial dengan merek Biosugih. Ayub mengincar pasar Tiongkok karena penduduknya yang besar. Apalagi, saat dicoba dipasarkan ke negeri ini, sambutannya bagus. Pun izin edarnya diperoleh dari Beijing University pada tahun 1991. Universitas inilah yang menawarkan kerjasama untuk mengembangkan formula. Namun Ayub menolak. Menurutnya, ia hanya ingin temuannya dikembangkan di Indonesia agar Indonesia yang bisa mendapatkan manfaat.

“Kalau saya terima, rakyat Cina-lah yang mendapatkan manfaat dari temuan saya,” katanya. Ia lebih memilih Indonesia meski ternyata tak mudah. Butuh 17 tahun untuk mengembangkan temuan ini hingga Ayub punya mitra di Hongkong. Kini, Biosugih punya pabrik peracikan di Tiongkok. Dari pabrik peracikan ini, pupuk siap pakai tersebut diekspor ke Asia (Vietnam, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Mongolia), Australia, dan Amerika Serikat.

Kisah sukses bisnis Biosugih ini sudah menghiasi banyak media berserta angka-angkanya tentu saja. Hanya bagi saya dan mungkin para pecinta anggrek di Tanah Air, mengingatnya bukan mengingat kesuksesan itu semua. Mengingat sosok yang selalu berbicara lembut dan terstruktur ini seperti mengingat bagaimana kelembutan tangannya merawat anggrek-anggreknya, menamainya, dan mencatatkannya dalam narasi dunia. Begitulah, meski keindahan sejati tak butuh perhatian, tetapi setidaknya keindahan perlu kita namai. Agar kita mudah memanggilnya kembali. Selamat jalan, Pak.


Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.