READING

Tokoh Persekutuan Gereja Papua Silaturahmi ke Ponp...

Tokoh Persekutuan Gereja Papua Silaturahmi ke Ponpes Tebuireng

Jombang – KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur punya daya tarik besar bagi masyarakat Papua. Hal ini terbukti dari kerelaan sejumlah Pendeta asal Papua bersama tokoh masyarakat Papua yang datang jauh-jauh ke pusaran Gus Dur di Komplek Makan Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Kedatangan para tokoh masyarakat tersebut disambut langsung oleh adik kandung Gus Dur, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) beserta istri dan sejumlah pengurus Pondok Pesantren Tebuireng. Gus Sholah yang juga Pengasuh Pesantren Tebuireng, menemani rombongan ziarah ke makam Presiden ke-4 RI itu.

Pertemuan tokoh Papua dengan Gus Sholah diawali dengan diskusi soal kebangsaan dan kemanusiaan di Ndalem kesepuhan milik Pesantren Tebuireng. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan barulah rombongan menuju makam Gus Dur yang berada satu lokasi dengan kakeknya yang juga pendiri Nahdlatul Ulama KH. M. Hasyim Asy’ari.

Menurut pimpinan Persekutuan Gereja-Gereja Papua, Pendeta Yan Piet Wambrauw, saat ditemui usai ziarah mengatakan tujuan kunjungan mereka ke Tebuireng sebagai simbol perdamaian. Mereka ingin meredam suasana rusuh di Papua dan Papua Barat beberapa waktu lalu. Ia berharap masyarakat Papua yang cinta damai bisa meniru Gus Dur dalam menyelesaikan masalah antaranak bangsa. Agar tak timbul gesekan lanjutan yang berpotensi terjadi pertumpahan darah.

“Kami datang bersama memasuki keluarga besar pesantren yang indah ini, di depan makam ini kami akan kembali membawa semangat kemanusiaan bahwa tidak ada lagi pertumpahan darah ditanah papua,” jelas Pendeta Yan Piet Wambrauw, Selasa, (27/8/2019).

Ia menambahkan, pemilihan Gus Dur sebagai simbol perdamaian dengan pertimbangan bahwa Gus Dur merupakan tokoh bangsa yang sangat dihormati oleh masyarakat Papua. Tepat bila Gus Dur dilibatkan dalam isu politik dan sosial yang menyangkut Papua dan luar Papua.

Bagi Yan Piet Wambrauw, Gus Dur dihormati karena ia berhasil mengangkat martabat masyarakat Papua dengan mengubah Provinsi Irian Jaya menjadi Provinsi Papua kembali. Padahal sebelumnya, orang asli Papua sering dilarang menyebutkan diri mereka bangsa Papua. Oleh karenanya, ia menyebutkan Gus Dur punya memori khusus di kepala masyarakat yang mendiami provinsi paling timur dari Indonesia ini.

“Bapak Gus Dur itu pemimpin yang bisa memahami masyarakat kecil. Sangat bijak, beliau juga bukan pemimpin yang hanya berjanji tetapi betul-betul melakukannya,” tambah Yan Piet.

Ia merinci, di antara beberapa jasa Gus Dur yang paling dikenang masyarakat Papua terjadi pada 1 Januari 2001 saat Gus Dur mengizinkan masyarakat Papua kembali memanggil diri mereka dengan nama “Papua”. Peristiwa kedua yaitu pada akhir Mei 2000, Gus Dur juga menyumbang dana Rp 1 Miliar untuk Kongres Rakyat Papua.

“Papua akan maju, Papua cinta damai, bukan seperti masa lalu yang terus menerus di bawah tekanan. Karena orang yang memberi nama Papua itu yang terbaring di sini (Gus Dur), kami sangat mengucap syukur bisa datang dan berdoa di sini,” kata Pendeta Yan Piet.

Menurutnya, kunjungan ini sudah direncakan oleh beberapa tokoh Papua yang cinta damai. Meskipun persiapannya singkat, ternyata banyak tokoh Papua yang minat ikut ke Tebuireng secara sukarela. Sesampainya di makam Gus Dur, rombongan melakukan doa bersama dan tabur bunga.

Pemberian noken merupakan tanda hormat dari masyarakat Papua kepada penerima.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Syarif Abdurrahman

Selanjutnya, secara tiba-tiba rombongan dari Papua ini mengeluarkan dua tas noken yang diberikan kepada Gus Sholah dan istri. Hadiah ini langsung diberikan tepat di depan pusara KH. A. Wahid Hasyim, KH M Hasyim Asy’ari, dan Gus Dur.

Pemberian hadiah kepada keluarga Gus Dur sebagai simbol kecintaan dan penghormatan luar biasa masyarakat Papua kepada keluarga besar Gus Dur.

“Izin, Bapak, ini saya sematkan kepada Bapak. Berarti kami dengan Bapak adalah satu Indonesia,” kata Pendeta Nicodemus Mauri saat mengalungkan noken ke Gus Sholah.

Sementara itu, Gus Sholah berharap kerusuhan di Papua dan Papua Barat tidak terulang. Begitu juga soal ujaran rasisme, tak boleh terjadi lagi di tahun selanjutnya.

“Kita ingin semuanya diperbaiki dan jangan sampai ini berulang dan setiap tahun berulang lagi. Apa yang terjadi di Surabaya perlu diperbaiki bersama dan dicari akar masalahnya,” pinta mantan Wakil Ketua Komnas HAM ini.

Ia juga meminta pemerintah pusat dalam menyelesaikan konflik di Papua melakukan pendekatan khusus. Seperti pendekatan kemanusiaan, sosial, dan pembanguan Sumber Daya Manusia (SDM). Dengan begitu di harapkan Papua tidak bergejolak lagi.

“Pendekatan tidak melulu pada keamanan, tetapi pendekatan kemanusiaan itu jauh lebih penting. Bedialoglah seperti dialog seorang orang tua dengan anak,” pesan Gus Sholah.

Penulis: Syarif Abdurrahman
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.