READING

Tolak RKUHP, Mahasiswa Surabaya Kirim “Santet” Unt...

Tolak RKUHP, Mahasiswa Surabaya Kirim “Santet” Untuk DPR RI Eks Aktivis 98

SURABAYA– Petisi penolakan revisi UU KPK dan RKUHP semakin mengeras. Tidak hanya terus mendesak dilakukannya pembatalan. Ratusan mahasiswa Surabaya yang mengatasnamakan Bonek Kampus itu juga menggelar ritual tabur bunga di depan gedung DPRD Provinsi Jawa Timur.

Bunga dan doa yang dilangitkan dimaksudkan untuk “menyantet” anggota DPR RI Budiman Sujatmiko dan Fahri Hamzah. Kedua orang bekas aktivis 98 itu dianggap berpura-pura tidak mendengar hati nurani rakyat.

Keduanya telah menjadi musuh rakyat karena ikut andil sekaligus membidani lahirnya pasal rancangan perundangan yang menyakiti hati rakyat.

”Tujuannya disantet ini karena mereka (bekas aktivis 98) diam, pura-pura tidak tahu,” ungkap salah satu anggota Bonek Kampus yang tidak mau disebutkan namanya.

Dari titik kumpul Tugu Pahlawan, massa melakukan long march menuju gedung legislatif Jawa Timur. Kompak dengan para demonstran di daerah lain, massa Bonek Kampus juga menyuarakan tujuh tuntutan serupa.

Diantaranya menolak RUU KPK dan mendesak Presiden menerbitkan Perppu. Kemudian, menolak RUU bermasalah seperti RKUHP, RUU Ketenagakerjaan, dan RUU Pertanahan.

Mahasiswa juga mendesak DPR RI agar segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), mendesak pemerintah menyelesaikan kasus kebakaran lahan dan hutan, serta menolak dwifungsi aparat.

Terakhir, demonstran mendesak pemerintah melakukan dialog sekaligus menuntaskan kasus hak asasi manusia di Papua.

Jurnalis Menolak Diintimidasi

Sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya juga ikut bersuara dalam demo bertajuk #SurabayaMenggugat tersebut. Mereka menolak segala bentuk intimidasi yang dilakukan aparat.

Aspirasi melalui sejumlah poster itu ditujukan kepada polisi. Diantaranya ”Cukup mantanku sing (yang) dirampas, ojo (jangan) kameraku. Aku wartawan, dudu (bukan) bajingan”, ”Saksikan ’86’ episode: polisi gebuki jurnalis”, dan beberapa poster lainnya.

Aksi tersebut merespon penganiayaan aparat terhadap jurnalis saat meliput demonstrasi di beberapa wilayah. Seperti tindakan represif terhadap empat jurnalis di Jakarta, Selasa (27/9) kemarin.

Selain menyuarakan perlawanan, para jurnalis juga menolak RKUHP karena dianggap berpotensi membungkam kebebasan pers. 

”Kami konsisten menolak RKUHP karena ada sepuluh pasal yang berpotensi merampas kemerdekaan pers,” tegas Miftah Faridl, Ketua AJI Surabaya.

Reporter : Sahrul Mustofa
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.