READING

Toni Masdiono, Komikus Bisu Yang Tak Tergoda Super...

Toni Masdiono, Komikus Bisu Yang Tak Tergoda Super Hero

“Kata Pak Teguh, buatlah cerita dari hal-hal di sekitarmu. Dan itu identitas serta budayamu,” kata Sam Toni.

MALANG – Dunia per-komikan Indonesia tengah naik daun. Diangkatnya kisah komik Gundala Putra Petir karya Hasmi ke layar lebar oleh Joko Anwar menjadi momentum  komikus tanah air untuk berkarya. Komik hero menjadi pilihan paling seksi untuk digarap.

Alhasil sejumlah perusahaan penerbitan komik berlomba menghidupkan super hero kawak yang mulai ditinggalkan. Kisah kehebatan Godam hingga si Buta dari Gua Hantu dieksplore dengan gaya milenial untuk merebut pasar.

Di tengah euphoria tersebut, ada segelintir komikus yang memilih jalan berbeda. Bagi mereka, komik tak harus mengikuti selera umum. Salah satunya adalah Toni Masdiono, komikus asal Malang.

Maestro komik yang akrab disapa Sam Toni ini justru memproduksi komik nyentrik, bahkan cenderung tak lazim. Toni yang sempat terlibat penggarapan komik Marvel hingga karakter Tekken di tahun 90-an justru membuat komik silat. “Komik terbaru saya dengan judul Karimata 1890 tentang dunia persilatan,” katanya saat mengisi acara “Ngobrol Santuy” di Kafe Pustaka Malang, Kamis malam, 16 Januari 2020.

Sejak awal menekuni komik di tahun 80-an, Toni sudah menghindari karater super hero. Menurutnya super hero bukan budaya asli Indonesia sehingga sulit mengembangkan ceritanya. “Kalau kata Pak Teguh, buatlah cerita dari hal-hal di sekitarmu dan itu merupakan identitas serta budayamu,” terang pembuat buku 14 Jurus Membuat Komik ini.

Sam Toni sangat terinspirasi Teguh Santosa. Ia bahkan tak segan menyebut Teguh sebagai gurunya. Dalam kiprahnya, Teguh Santosa dikenal banyak membuat komik silat.

Toni baru saja meluncurkan komik baru bertitel Karimata 1890. Komik ini bercerita tentang pengembara yang semua tokoh utamanya memiliki keahlian dalam ilmu bela diri. “Karena silat adalah budaya kita, saya pun suka menggambar dengan tema-tema silat,” ujarnya.

Selain membuat komik silat yang melawan arus utama, Toni juga berani mengemas Karimata 1890 dengan genre nyentrik, yaitu komik bisu. Di komik ini tak akan ditemui teks apapun kecuali pada bagian prolog saja. Sehingga lembar demi lembar hanya ditemukan adegan-adegan gambar yang saling berkaitan.

“Saya mencoba memasukkan sekuen dalam adegan. Dengan sorot mata dan ekspresi akan membentuk akting tersediri pada setiap karakter tokoh yang saya hadirkan,” katanya.

Menurut Toni, di dalam komik ada drama turginya, sehingga pembaca menyadari adanya adegan dan bisa merasakan yang terjadi di dalam cerita. Gambar yang runtut akan sudah bisa bercerita dengan sendirinya. Ini yang membuat Toni bebas saat menggambar tanpa gangguan teks.

Rencananya komik Karimata 1890 akan menjadi tetralogi. Toni yakin akan ada pangsa pasar sendiri terhadap komik bisunya. Terlebih lagi abad sekarang lebih mengutamakan visual. “Dunia digital saat ini pun penuh dengan visual. Karena pembaca akan lebih bebas dengan menafsir visual,” terangnya.

Karimata 1890 bukan satu-satunya karya yang ia buat. Sebelumnya Toni pernah berkolaborasi dengan novelis Menar Rhizie yang memadukan novel dengan komik (nomik) berjudul 27.03.

Reporter: Moh. Fikri Zulfikar
Editor: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.