READING

Transportasi Kota Kediri, Dari Zaman Kuno hingga K...

Transportasi Kota Kediri, Dari Zaman Kuno hingga Kini

Tahukah, ternyata merumuskan sistem transportasi sebuah kota tak bisa ahistori? Bukan sekadar hitungan matematis, namun juga menyangkut psikologi dan perilaku masyarakat sejak zaman kuno. Sebagaimana pola transportasi di Kota Kediri yang ternyata stokastik sebagaimana rute spiritual zaman nenek moyang.

Sebuah pagi yang sibuk di kawasan Semampir, Kota Kediri, 2014. Kesibukan ruas jalanan kota yang tiba-tiba menjadi muram ketika terjadi tabrakan dua sepeda motor. Antara pengendara motor berseragam SMA berboncengan dan seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah. Ibu itu, tewas seketika.

Pagi yang muram itu membekas di ingatan Moh. Ferry Jatmiko, Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri bertahun-tahun kemudian. Bahkan saat menceritakannya kembali ketika silaturahmi bersama tim Dishub ke kantor Jatimplus.id, akhir September 2019, kemirisan itu masih terasa.

“Kejadian yang sama bisa terulang lagi jika tidak ada upaya untuk memikirkan transportasi untuk anak-anak berangkat ke sekolah,” kata Ferry. Pagi adalah waktu yang terburu-buru di kota itu, hingga kini. Sepeda motor menjadi andalan untuk mengantarkan anak-anak ke sekolah selain mobil. Bahkan, anak-anak yang belum cukup umur pun mengendarai sepeda motor. Atau anak-anak mengendarai sepeda untuk yang jaraknya tak terlalu jauh dengan sekolah.

“Kalau saya amati, ya karena orang tuanya tak mau repot saja antar jemput,” kata Ferry. Ia pun menyayangkan orang tua yang membiarkan anak-anak yang belum cukup umur mengendarai sepeda motor, bahkan itu ke sekolah sekalipun. Sebab, tak hanya membahayakan dirinya tapi juga pengguna jalan yang lain.

Fenomena itulah yang menjadikan Ferry bertekad untuk menghadirkan sistem transportasi aman untuk masyarakat, dimulai dari anak-anak sekolah, ketika ia dipercaya menjadi Kadishub Kota Kediri. Dimulai dengan pengadaan angkot gratis dan bus sekolah gratis untuk anak-anak sekolah.

“Sejauh ini ada 41 angkutan umum dan 3 bus sekolah. Kalau dihitung, memang masih kurang. Idealnya 10 bus,” terang Ferry. Rute angkutan umum dan bus ini berbeda. Rute angkutan umum kebanyakan di jalanan tengah kota, sedangkan sekolah-sekolah yang terletak di pinggir dijangkau oleh bus sekolah.

Bambang Trilaksono, Bidang Manajemen Dishub menambahkan bahwa meski angkot terlihat sepi hanya mengangkut 3-5 penumpang, namun jumlah total yang diangkut cukup banyak.

“Kami menghitung, angkot mengangkut lebih dari 350 penumpang per hari,” kata Bambang. Bila harus menunggu penuh, maka justru akan memperlama penumpang yang menunggu. Dengan sedikit yang diangkut, angkot akan lebih pasti dan cepat kedatangannya.

Angkot ini disubsidi dengan memberikan BBM 6lt/hari. Pemberian subsidi ini, menurut Bambang, mampu membangkitkan kembali angkutan umum Kota Kediri yang sempat mati suri sejak tahun 2013.

“Penyebabnya antara lain karena krisis dan juga transportasi online. Hanya kalau dihitung, angkot tetap lebih hemat. Jauh dekat Rp 4.000,-,” kata Bambang.

 Transportasi gratis untuk anak-anak sekolah ini hanya untuk awal saja atau trigger untuk pengadaan transportasi massal di Kediri. Menurut Ferry, transportasi massal di Kota Kediri harus direncanakan sebab ke depan, peningkatan kepadatan lalu lintas akan meningkat.

Bincang santai Tim Dishub, Bambang Trilaksono dengan Prasto Wardoyo, Pemred Jatimplus.ID (kiri) di kantor redaksi Jatimplus.ID, Kediri,, akhir September 2019. FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Inovasi Dishub Meraih Anugerah Wahana Tata Nugraha (WTN) 2019

Menurut Ferry, kini pertumbuhan kendaraan di Kota Kediri sebanyak 7% per tahun. Kebijakan Bank Indonesia yang akan menurunkan uang muka kredit kendaraan sebanyak 10% sangat mungkin akan meningkatkan jumlah kendaraan yang beredar di jalanan Kota Kediri.

Dalam sebuah rapat bersama dengan Gubernur Jawa Timur, Wali Kota Kediri Abdullah AbuBakar mewacanakan dibangunnya jalan lingkar luar (ring road) untuk mengurangi beban kepadatan jalan di Kota Kediri. Ada dua jalan lingkar luar yang diwacanakan, barat dan timur.

“Saya kira ini keharusan sebab menyangkut anggaran dari pusat,” kata Ferry. Jalan ini dibutuhkan mengingat bahwa ke depan, kepadatan kendaraan akan meningkat dengan adanya bandara di Kediri dan dibukanya Universitas Brawijaya di Kota Kediri.

Jalan lingkar luar merupakan rencana masa depan yang melibatkan pemerintah pusat. Sementara ini, Dishub sudah melakukan beberapa terobosan dalam transportasi publik sehingga Pemkot Kediri meraih Anugerah Tata Nugraha 2019. Penghargaan yang diberikan kepada sebuah kota yang berhasil membuat inovasi di bidang transportasi. Kota Kediri sudah mendapatkan penghargaan serupa untuk ke-5 kalinya sejak tahun 2013.

Menurut Ferry, kali ini penilaiannya agak ketat. Tahun lalu, ada ratusan yang mendapatkan. Tahun ini, dari 145 kota dan kabupaten yang terseleksi, hanya 77 kota dan kabupaten yang mendapatkannya.

Kota Kediri mendapatkan penghargaan ini karena beberapa program yang telah dilakukan yaitu bidang safety, transportasi, dan angkutan.  Inovasi yang mendorong Pemkot Kediri mendapatkan WTN antara lain dengan aplikasi trekker, sebuah aplikasi yang memantau arus lalulintas, posisi bus di mana, dan posisi angkot. Juga adanya bus dan angkot gratis untuk anak sekolah. Selain itu, Pemkot juga menyediakan armada khusus untuk angkutan anak-anak berkebutuhan khusus. Masih banyak pertimbangan lain yang menjadikan Kota Kediri meraih WTN ini.

“Dengan adanya WTN ini, memang kemudian ada banyak bantuan dari pusat (PUPR) terkait dengan transportasi,” kata Ferry. Bantuan ini salah satunya diwujudkan untuk merealisasikan Rute Aman Selamat Sekolah meliputi halte, zona aman sekolah, jalur sepeda, dan pelican crossing. Ke depannya, harapannya tentu saja, terwujudnya jalur lingkar luar. Hal ini akan mengurai kemacetan sebab ketika bandara Kediri terwujud, kendaraan dari Surabaya dan kota-kota sekitarnya akan makin banyak yang masuk ke Kediri.

Jalur Kuno Berpola Jalan Stokastik

Perencanaan jalur dan jalan di dalam Kota Kediri tentu berdasarkan kajian yang panjang. Hanya saja, dalam penelitian yang dilakukan Dishub, ditemukan pola jalan stokastik yaitu dengan pola jalan sugesti.

“Kita baru tahu pola jalan masyarakat Kota Kediri yang stokastik, berlawanan arah jarum jam. Pola perjalanan ini berbeda dengan pola transportasi yang saya pelajari,” kata Bambang yang berpendidikan formal di Akademi Lalulintas. Pola-pola transportasi modern selalu searah jarum jam. Pola searah jarum jam ini digunakan untuk menyusun pola perjalanan dalam sebuah kota modern.

Namun di Kota Kediri, penyusunan pola searah jarum jam menjadikan terjadi kemacetan yang seolah tanpa sebab di beberapa ruas jalur meski jalur lain yang mestinya bisa dilewati kosong. Kemudian Dishub mengadakan road side interview dan home interview untuk mengetahui penyebabnya. Rupanya pola perjalanan stokastik inilah yang menjadi penyebabnya.

“Metode sehebat apapun untuk menata Kediri akan gagal jika diterapkan tanpa memerhatikan rute perjalanan yang tanpa sadar dilakukan warga,” terang Bambang. Misalnya jika sebuah jalur yang sudah biasa dilewati ditutup karena ada acara, tak jarang orang-orang lebih suka menunggu hingga jalur dibuka alih-alih memutar untuk mencari alternatif jalur lain. Alasannya, secara psikologis sudah nyaman melewati jalur tersebut. Bambang menduga, mungkin sebagai pola jalan ritual orang-orang zaman dahulu. Perlu diuji dan dicari sumber literaturnya.

Pola stokastik warga Kota Kediri yang dicatat oleh Bambang yaitu Jl. PK Bangsa-Jl. Dhoho-Jl. Pattimura, rute yang berlawanan jarum jam. Rute itu kemudian disimulasikan dengan sistem on tramp dan transplan kemudian ditambah simulasi jembatan yang diletakkan berdampingan dengan Jembatan Lama. Sistem simulasi itu menggambarkan simpul-simpul kemacetan yang bisa terurai.

“Hal ini susah saya jelaskan dengan disiplin ilmu saya,” aku Bambang. Demikianlah salah satu alasan mengapa Jembatan Brawijaya yang diresmikan tahun 2019 dibangun berdampingan dengan Jembatan Lama. Bukan hanya karena mengganti Jembatan Lama yang sudah renta, namun memang berasal dari simulasi yang mampu mengurai kemacetan. Jembatan berjajar tersebut diperkirakan mampu mengatasi volume lalulintas selama 10 tahun ke depan.

Kediri merupakan kota tua dengan catatan yang tak lengkap. Terkadang untuk mencari alasan sebuah fenomena yang ditemui kini, harus mengais-ngais catatan yang belum tentu masih ada dan bisa terbaca. Sedangkan membangun kota tak terkecuali membangun jalan di dalamnya bukan serta merta, namun perlu memerhatikan catatan sejarah yang membentuk sebuah kebiasaan. Dari sana, pembangunan akan menemukan ketepatannya. Untuk itulah sejarah tak pernah menjadi masa silam, namun selalu kekinian (Titik Kartitiani).

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.