READING

UNAIR Kembangkan Alat Deteksi Dini untuk Jauhkan A...

UNAIR Kembangkan Alat Deteksi Dini untuk Jauhkan Anak dari Pelaku Pedofilia

SURABAYA –Pedofilia masih menjadi ancaman nyata di Indonesia seiring munculnya kasus-kasus tersebut di berbagai daerah. Baru-baru ini, Direkrorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur menangkap oknum kepala sekolah menengah pertama (SMP) berinisial AS (40) di Kota Surabaya karena dilaporkan melakukan pencabulan terhadap enam siswanya.

Aksi kejahatan seksual tersebut diduga dilakukan di lingkungan sekolah pada saat para korban yang semuanya laki-laki menjalankan aktivitas seperti berwudhu, berdzikir dan lainnya. Pelaku meremas kemaluan korban disertai pelecehan seksual secara verbal.

Di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur kasus pedofilia melibatkan oknum guru SD berinisial SP. Ada sekitar 30 siswa yang diduga telah dicabuli. Modus pelaku dengan mengiming-imingi nilai bagus jika korban mau menuruti kemauannya.

Jika dikaji dari Ilmu Psikologi dan Ilmu Kesehatan Mental, pedofilia merupakan perilaku kekerasan seksual yang dilakukan terhadap anak pra pubertas atau di bawah usia 15 tahun dengan tujuan mendapat kepuasan seksual. Perilaku tersebut dianggap menyimpang karena di luar kebiasaan normal bahkan di berbagai negara termasuk Indonesia sudah dikategorikan sebagai tindak kejahatan.

Menurut Dosen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga, Margaretha, S.Psi, G.Cert.Ed, M. Sc, pedofilia terjadi pada orang-orang yang punya persoalan dalam perkembangan seksualitas. Para pedofil (sebutan pelaku pedofilia) biasanya lebih tertarik dengan orang yang lemah, yang muda, dan bisa dikontrol dalam hal ini anak-anak. Padahal seharusnya mereka berminat dengan lawan jenis yang seusia.

”Ini adalah penyimpangan karena dia merasa lebih berdaya, lebih berkuasa dan bisa lebih mengontrol kalau pasangannya lebih lemah. Artinya orang-orang seperti ini bukan orang yang mampu membangun relasi intim secara dewasa,” ungkap Margaretha kepada Jatimplus.ID

Selain perkembangan seksualitas, pedofilia bisa terjadi akibat fantasi seksual menyimpang. Biasanya diawali dengan membayangkan relasi seksual dengan anak di bawah umur yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan hingga mendorong adanya perilaku seksual. 

Margaretha Rehulina, S.Psi, G.Cert.Ed, M. Sc Dosen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga. Sumber foto: instagram Margaretha

”Perilaku seksual seperti ini bisa terjadi bukan hanya sekadar fantasi, tapi karena adanya kesempatan atau ruang situasi sosial yang membuat mereka menciptakan atau menjadikannya perilaku,” jelas alumnus Universitas Adelaide, Australia tersebut.  

”Artinya mereka ada ruang bekerja dengan anak, bertemu dengan anak, mereka dipercaya bekerja dengan anak. Ada ruang dimana mereka tidak diawasi ketika mereka bekerja dengan anak, mereka bisa menyalahgunakan kesempatannya dan bisa berperilaku seks yang tidak tepat kepada anak,” imbuhnya.

Sedangkan faktor trauma, menurut dosen kelahiran Jakarta itu, tidak cukup signifikan membuat seseorang berperilaku seksual menyimpang, meskipun diakui kekerasan seksual punya peran trauma yang cukup besar. Butuh suatu kondisi psikologis yang benar-benar rusak agar korban kekerasan seksual di masa lalu bisa menjadi pelaku.

Alat Pendeteksi Pedofil

Jika berkaca pada kasus pedofilia yang melibatkan oknum kepala SMP di Surabaya maupun di Lamongan, kekerasan seksual terjadi karena pelaku memiliki ruang bekerja dan bertemu dengan anak. Statusnya sebagai tenaga pengajar memungkinkan pelaku leluasa berinteraksi dengan anak. Padahal, seharusnya para pedofil dijauhkan dari anak-anak.

Masalahnya, untuk bisa menjauhkan anak dari predator seksual terutama di lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah bukan perkara yang mudah. Sebab, untuk mendeteksi orang-orang yang memiliki risiko berperilaku seksual menyimpang tidak bisa dilakukan sesederhana membedakan warna.

Dan untuk menjawab hal itu, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga saat ini tengah memetakan faktor risiko mengapa orang menjadi pelaku kejahatan seksual. Dari penelitian tersebut akan menghasilkan alat untuk mengukur risiko seseorang melakukan kejahatan seksual. Namun proses pengembangannya butuh waktu lama agar bisa mendapatkan data yang valid dan reliable.

”Kalau memang bisa dikembangkan, nanti bisa digunakan sebagai masukan untuk mengembangkan alat ukur dalam menentukan siapa orang-orang yang layak bekerja dengan anak,” papar Margaretha.

Karena menurut konselor anak dan remaja di Unit Konseling Universitas Airlangga itu, orang yang punya perkembangan seksual dan fantasi seksual menyimpang, serta yang punya relasi sosial mencurigakan, sebaiknya tidak ditempatkan pada perkerjaan dengan anak.

”Karena jangan sampai menaruh predator seksual bekerja dengan anak-anak kita, apalagi di lingkungan sekolah,” tegas dosen yang pernah menempuh pendidikan di Utrecht University, Belanda tersebut.

Namun, sekali lagi dia menyampaikan bahwa alat tersebut masih dalam tahap penelitian dan pengembangan sebelum bisa diterapkan atau digunakan.

Reporter : Sahrul Mustofa
Editor : Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.