READING

Unggas yang Pernah Menjadi Penanda Kelas

Unggas yang Pernah Menjadi Penanda Kelas

PADA dekade 90-an ke bawah, sebagian masyarakat, yakni terutama Jawa masih banyak dijumpai memelihara ayam hutan. Seekor unggas berkelamin jantan yang akrab dipanggil ayam alas. Unggas ini biasanya dikrangkeng di sebuah sangkar berbahan kayu jati, dan dipamerkan di depan rumah.

Seorang tamu yang berkunjung ke rumah akan langsung melihatnya. Sepertinya memang itulah salah satu tujuan kenapa ditempatkan di muka. Tradisi ini biasanya dimiliki sebagian besar aristokrat (priayi), yakni kelompok sosial menengah atas. Selain langka harganya juga relatif mahal. Tidak hanya sekedar mengemban fungsi prestise sosial.

Oleh empunya rumah, pekik ayam hutan itu itu seringkali dijadikan penanda waktu kapan dimulainya aktivitas. Seperti burung perkutut yang manggung-nya tidak berubah. Kokok ayam alas itu konon juga selalu bersuara pada jam yang sama. Selain ayam alas, di medio 9-an ke bawah itu masih ada jenis bangsa unggas lain yang kerap menjadi penanda kelas sebagian masyarakat. Berikut di antaranya.

Pertama, Burung Merak. Unggas bernama latin Pavo cristatus itu masih satu famili dengan Phasianidae, yakni ayam hutan atau burung kuau. Dari pangkal ekor, merak jantan memiliki ekor panjang yang terdiri dari 150 helai bulu. Saat ditegakkan dan membentuk sebuah kipas, keelokan seketika tercipta. Indah dan anggun.

Karena alasan keindahan itu banyak burung merak diburu. Merak  ditangkap untuk pemenuhan kepentingan prestise sosial, yakni biasanya dipelihara di dalam sebuah kurungan dan dipamerkan di depan atau belakang rumah. Namun tidak sedikit merak yang diburu untuk diambil dagingnya.

Ensiklopedi Indonesia Seri Fauna Terbitan Van Hoeve (1996) mencatat, di dunia ini ada dua jenis burung merak. Burung merak India atau merak biru (Pavo cristatus) yang berasal dari India dan Srilanka, dan burung merak hijau (Pavo muticus) yang tersebar di Myanmar, Thailand, Indochina, Semenenajung Malaya, dan Pulau Jawa.

Karena populasinya terus menyusut akibat perburuan manusia, kini merak termasuk unggas yang dilindungi. Sebagai tontotan, keberadaannya bisa dijumpai di kebun binatang atau taman satwa.

Kedua, Ayam Mutiara. Awalnya hanya terdapat di Afrika dan pulau sekitarnya serta wilayah Arabia. Namun kemudian menyebar kemana mana, termasuk di pulau Jawa. Unggas yang masih satu famili Numididae ini memiliki ciri kepala berhias dengan bulu yang umumnya bermotif bintik-bintik putih.

Pada jenis ayam mutiara nasar (Acrylilium vulturinum), bintik putihnya luluh menjadi satu, membentuk jalur dan bulu tengkuk bergaris putih. Ayam mutiara hitam (Agelastes niger) memiliki bulu hitam. Sedangkan ayam mutiara kalkun (Agelastes meleagrides) memiliki warna putih pada dada dan jubah. Selebihnya hitam.

Sementara ayam mutiara berjambul (Guttera edouardi) memiliki sulah kepala abu-abu, menyerupai kerah hitam serta mahkota serumpun. Unggas dengan suara tidak nyaman di telinga, yakni pekikannya tajam, serak, serta mirip suara logam itu juga banyak dipelihara untuk kepentingan prestise sosial. Kendati demikian dalam perkembangannya, tidak sedikit yang memelihara untuk motif ekonomi.  

Ketiga, Kalkun. Famili Meleagrididae ini terdiri atas dua spesies, yakni kalkun biasa (Meleagris gallopavo) dan kalkun merak (Agriocharis ocellata). Kalkun biasa berasal dari Amerika Utara dan telah berkembang ke seluruh dunia sebagai hewan piaraan.Yang jantan memiliki pekik bunyi “kluk kluk” lebih riuh dibanding jenis betina yang bersuara lemah namun tajam.      

Sementara kalkun merak banyak dijumpai di Yucatan dan Guetemala. Kalkun ini memiliki warna lebih cerah dan berhabitat di hutan rimba. Selain ayam alas dan merak,  di kandang ternak milik rumah tangga masyarakat Jawa aristokrat, tidak sedikit ditemui unggas kalkun.

Keempat, Ayam Hutan (Tetraonidae). Ayam hutan hitam (Lyrurus tetrix) berasal dari Eropa Utara, termasuk Inggris. Jenis abu abu jantan dengan bulu hitam biru mengilap memilki panjang 53 cm. Pada sayapnya terdapat garis berwarna putih dan bercak kulit merah terang diatas kedua mata. Sementara yang betina bisa mencapai panjang hingga 40 cm.

Di sebagian besar masyarakat Jawa priayi kala itu, ayam alas ini menjadi prestise kelas sosial. Karenanya biasanya dikurung di dalam sangkar yang indah dan ditempatkan di pelataran rumah. Demikian sejumlah unggas yang di dalam kehidupan sosial masyarakat, yakni terutama Jawa pernah menjadi penanda sebuah kelas. (Mas Garendi)    


Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.