READING

Upaya Polda Jatim Mengatasi Polisi Obesitas

Upaya Polda Jatim Mengatasi Polisi Obesitas

Polisi yang mengalami obesitas cenderung tidak gesit dan kinerja kurang. Polda Jatim mengatasi dengan program penurunan IMT (Indek Massa Tubuh) selama 11 hari untuk anggota terpilih.

MOJOKERTO- Hari ini, 26/07/2019 merupakan hari penutupan program penurunan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang diadakan oleh Polda Jatim mulai 15/07/2019 di Sekolah Polisi Negara (SPN) Mojokerto, Jawa Timur. Selama 11 hari, sejumlah 50 personil mengikuti program latihan fisik, pengetahuan gizi, dan tentu saja diet makanan untuk menurunkan berat badan.

“Polda Jatim menginginkan keprimaan polisi dalam melayani masyarakat. Salah satunya harus gesit menjalankan tugas baik di lapangan maupun di kantor. Kondisi keprimaan fisik memengaruhi operasi kepolisian dalam menjangkau masyarakat,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera saat ditemui Jatimplus.ID di kantornya, 23/07/2019. Menurut Barung, polisi yang dipilih ikut program penuruan IMT berasal dari Polda dan Lemdik (Lembaga Pendidikan) di Jawa Timur.

Aerobik merupakan salah satu latihan fisik yang dilakukan selama 11 hari program IMT, 25/07/2019.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Menjelang hari penutupan, Kamis, 25/07/2019, Aiptu Iwan Susanto dari Yanma Polda Jatim masih terengah mengikuti gerakan senam aerobik di sebuah ruangan SPN. Keringatnya membasahi tubuh, wajahnya tampak cerah. Langkahnya mulai gesit, tak malas bergerak dengan bobot badan yang baru yaitu 122,5kg dengan tinggi 173cm.

“Saya ikut program penurunan IMT ini Sprint (Surat Perintah Tugas) dari pimpinan saya. Pada saat masuk berat badan saya 126kg. Selama seminggu ikut program, berat badan saya turun 3kg,” kata Iwan kepada Jatimplus.ID. Setelah program selesai, Iwan berhasil menurunkan berat badan hingga 3,5kg. Iwan mengakui, berat tubuhnya belum ideal. Setelah kembali ke kesatuannya, ia bertekad akan melanjutkan program yang dilakukan di SPN ini.

“Awalnya memang malas sekali memulai. Begitu di sini, temannya menyenangkan. Banyak bercanda. Tidak terasa, hampir dua minggu terlewati,” tambahnya. Iwan dan peserta lainnya dilatih fisik, mulai renang, aerobik, long march, dan segala aktivitas fisik yang dimonitor oleh dokter. Selain itu, porsi dan jenis makanan pun diawasi oleh ahli gizi.

Menurut Iwan, yang paling berat adalah bangun pagi. Kepadatan aktivitas sebagai polisi yang siap dipanggil tugas bahkan kerap kali tugas malam menjadikan waktu tidur tidak tentu. Di SPN, mereka diharuskan bangun pagi saat Subuh dan padat dengan kegiatan.

Berbeda dengan Iwan, Bripka Irawan Wardana dari Polresta Blitar mengikuti program ini dari kemauan sendiri, bukan perintah atasan.

“Saya mendaftarkan diri karena tertarik program pimpinan yang memerhatikan kesehatan. Kondisi saya over weight,” kata Irawan. Berat badannya 100kg, dalam 1 minggu turun hingga 2kg. Menurut Irawan, program ini sangat bermanfaat sebab membuka pengetahuannya tentang gizi, obesitas, dan materi psikologi juga.

“Materi psikologi ini mengubah mindset untuk hidup lebih sehat. Di sini lebih banyak latihan fisik,” tambah Irawan. Pada saat sesi aerobik, Irawan berada di baris paling depan dan tak sedetikpun istirahat. Ia mengikuti semua sesi senam dengan semangat di kala beberapa peserta ada yang diam sejenak.

Irawan menyadari bahwa kondisi kelebihan berat badan menurunkan kinerjanya. Gerakan lamban dan kondisi tubuh tidak prima. Sedangkan Iwan mengaku sering mengalami gangguan kesehatan. Bangun tidur pun kerap pegal-pegal.

Jam kerja saat malam dan makan tak terkontrol salah satu penyebab kelebihan berat badan di kalangan polisi.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Pemicu Obesitas di Kalangan Polisi

Bila dilihat sekilas, peserta program penurunan IMT justru merupakan polisi yang masih muda-muda. Iwan dan Irawan termasuk usia tertua, menjelang 40-an. Ada beberapa hal yang menyebabkan polisi-polisi tersebut mengalami obesitas. Pertama karena kurang gerak, khususnya kurang olahraga. Bagi polisi muda yang hobi main gawai selepas tugas, kemungkinan besar akan malas bergerak sehingga mudah mengalami obesitas.

“Kalau dari sesi di kelas, saya baru tahu kalau faktor keturunan gemuk hanya memegang peranan 5%. Sisanya karena kebiasaan kita,” terang Irawan. Soal pola makan merupakan faktor penting. Polisi yang mendapatkan tugas malam kerap lepas kontrol dalam hal makan. Dilema, sebab bila tak makan dan begadang bisa menyebkan sakit. Maka makanan tidak terkontrol khususnya yang mengandung minyak.

Setelah begadang dan banyak makan, tak diimbangi oleh raga. Hal ini juga karena tugas yang padat. Hanya saja, semua itu, Irawan dan Iwan sepakat bahwa kemalasan menjadi faktor utama. Bila diniatkan, olah raga minimal setengah jam hingga sejam per hari sudah cukup untuk membakar lemak.

Oleh sebab itu, Iwan mengimbau kepada sesama personil untuk menjaga tubuh dan menjauhkan kebiasaan buruk agar performa tetap prima. Bila sudah telanjur mengalami obesitas, tak ada salahnya ikut program penurunan IMT demi kesehatan diri juga.

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.