READING

Upaya Tenun Bandoel Demi Bertahan di Tengah Wabah ...

Upaya Tenun Bandoel Demi Bertahan di Tengah Wabah Corona

KEDIRI – Meski diterpa wabah, Tenun Bandoel milik Erwin tidak ada matinya. Tenun ikat asli Kediri ini tampil beda. Selain diversifikasi produk, ia berinovasi dengan warna-warna yang berbeda dengan pengrajin lain. Warna-warna tenun ikat karya Erwin ini menginspirasi koleksi neon karya Priyo Oktaviano yang show di Kota Kediri tahun 2019.

Usaha tenun yang berada di Jalan Agus Salim Gg 88 no 9c, Bandar Kidul, Mojoroto, ini merupakan usaha milik ayahnya yang kini diteruskan oleh Erwin. Sejak kecil ia sudah mengenal motif dan warna tenun. Hal itu memberinya ide dalam membuat warna-warna yang tidak monoton dan motif yang kekinian sehingga dapat menarik pembeli dari berbagai kalangan.

“Saya belajar ototidak soal warna. Kalau melihat warna yang menarik, saya akan coba mengurai warnanya dengan mencampur berbagai warna sampai mendapatkan warna yang ia lihat. Kadang kalau belum ketemu, saya nggak bisa tidur,” kata Erwin.

Unsur-unsur warna yang ada dicampur menghasilkan warna baru. Pun dalam pencelupan, bisa 2-3 kali untuk menghasilkan warna-warna kuat sesuai keinginan. Makanya, Erwin mematok harga lebih tinggi dibanding kain tenun ikat pada umumnya. Kain katun (bahan baju) untuk warna yang bagus harganya hingga Rp 250.000,-/lembar. Meski ia juga menyediakan motif seharga rata-rata yaitu Rp 175.000,-/potong. Untuk baju yang sudah dijahit seharga Rp 400.000,-/potong.

“Saya mematok harga lebih tinggi, memang saya menembak pasar yang lain,” kata Erwin ketika ditanya soal harga.

Menurut pengalamannya, tak selamanya menjual dengan harga murah itu selalu laris. Target pasar sangat penting untuk membuat keragaman produk. Dengan begitu, harga yang lebih tinggi pun tidak jadi soal ketika ada nilai lebih yang ditawarkan. Terbukti Erwin memiliki pelanggan khusus yang selalu balik lagi untuk membeli.

“Tapi pada saat wabah seperti ini, pelanggan turun drastis. Bahkan pesanan massal untuk acara tidak jadi diambil meski sudah dipesan,” tambahnya.

Menghadapi kondisi yang demikian, Pemkot Kediri melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) berupaya memutar roda perekonomian pelaku tenun ikat kediri dengan membuat masker. Pesannannya lebih dari 5 ribu lembar. Aksi ini pun diikuti instansi lain bahkan instansi swasta pun ikut memesan. Hal ini banyak menolong para penenun.

Mulai menemukan peluang baru, lagi-lagi Erwin berinovasi. Selain mengerjakan masker biasa yang dijual dengan harga Rp 15 ribu  hingga Rp 17 ribu per lembar, Erwin membuat masker yang dibentuk seperti masker scuba dengan lapisan kain kapas sehingga memberi ruang untuk bernapas. Motifnya menarik, dan jahitannya rapi.

Tantangan ini ia dapat dari Nur Muhyar, Plt. Kepala Disperdagin Kota Kediri. “Kata Pak Muhyar, Pak Abu (Abdullah Abu Bakar, Walikota Kediri) menanyakan, ada enggak yang bisa bikin masker lebih bagus kayak punya desainer terkenal? Saya menyanggupi,” kata Erwin menirukan ucapan Nur Muhyar.

Masker yang ia buat dipatok harga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per lembar. Ternyata tetap ada penggemarnya. Selain pesanan dari Pemkot, saat ini ia jual melalui media sosial instagram @tenunbandoelkediri dan marketplace cepat habis. Artinya, inovasi meski memberikan konsekuensi pada ongkos produksi yang tinggi, penggemarnya tetap ada. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi UMKM lain untuk terus berinovasi. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.