READING

Urai Filsafat Jawa, Ayu Utami Kenalkan Novel Anato...

Urai Filsafat Jawa, Ayu Utami Kenalkan Novel Anatomi Rasa

SAAT Saman lahir, kamar sastra seketika riuh. Seperti ranjau yang sengaja diinjak, Saman meledak. Menimbulkan getaran yang dirayakan sebagai puja puji disatu sisi dan nuansa cerca di sisi lain. Saman lahir disaat umur reformasi masih setara dengan empat kali panen jagung.

Matinya rezim orde baru belum genap seribu hari. Gumpalan tanah makam para mahasiswa yang terbunuh dalam tragedi Semanggi dan Trisakti belum juga kering. Juga barisan aktivis 98 yang mempertanyakan nasib rekan mereka yang diculik masih kompak kompaknya.  

Pendeknya, ditengah arus euforia kemenangan reformasi, novel Saman menjadi perbincangan hebat. Pembicaraan bibir lelaki maupun bibir bergincu. Banyak yang menyambut gembira. Mulai dari yang berdecak kagum, angkat topi, memuji dan memuja. Terutama dari para penggemar sastra kiri.

Namun ada yang berghibah, kasak kusuk, mempertanyakan bagaimana karya fenomenal itu bunting dan lahir. Secara satire ada juga yang menuding kelahiran Saman sebagai kebangkitan sastrawangi setelah jaman keemasan stensilan Enny Arrow dan Freddy S tutup buku.

Tudingan itu mengacu pada erotisme Saman yang didedahkan secara vulgar. Erotisme yang blak blakan. Tidak dibungkus dengan baju metafora yang justru kemudian menjadi gaya Ayu Utami sebagai penulis fiksi.  

Namun sebetulnya tudingan itu tidak sepenuhnya presisi. Meski diucapkan bebas dan vulgar, erotisme hubungan lawan jenis dalam kisah Saman berbeda dengan kisah ranjang Enny Arrow maupun Freddy S yang mengedepankan konsep “menjual” birahi.

Ditangan Ayu Utami, erotisme (dalam kisah Saman) diletakkan pada bingkai pemberontakan. Perempuan digambarkan sebagai makhluk yang berdaya. Berkuasa atas tubuhnya sendiri. Merdeka dan berdaulat secara penuh. Bukan milik lelaki atau tubuh yang didefinisikan secara tradisional dan norma sosial.

Faktanya, begitu lahir Saman tidak menunggu waktu lama untuk diganjar penghargaan Prince Claus Award (2000). Kelahiran Saman juga mempengaruhi mbridilnya karya sastra sewarna (feminis). Sebut saja Jangan Main main dengan Kelaminmu (Djenar Maesa Ayu), Ode untuk Leopold Von Sacher Masoch (Dinar Rahayu) atau Mata Matahari (Ana Maryam).

Habis Saman, menetaslah  Larung (2001) yang didapuk sebagai sekuel. Berturut turut kemudian terbit kumpulan esai Si Parasit Lajang (2003), Bilangan Fu (2008), Manjali dan Cakrabirawa (2010) dan sebagainya. Penghargaan sastra pun semakin menumpuk. Diantaranya Majelis Sastra Asia Tenggara (2008) dan Khatulistiwa Literary Award (2008).

Setelah Saman yang menggelegar (dan diikuti karya lainnya), “rahim” sastra Ayu Utami terbilang vacum cukup lama. Rabu lalu (20/3/2019), sarjana Sastra Rusia Universitas Indonesia (1994) itu kembali meledang karya barunya. Anak rohani itu diberinya judul Anatomi Rasa.

Di gedung Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang dan didepan para pecinta sastra serta para pengagumnya, Ayu membedah anak bontotnya. Mantan jurnalis itu memaparkan embrio novel Anatomi Rasa yang disemai dari khazanah batin Jawa.

Di karyanya ini Ayu sengaja menggunakan kerangka filsafat yang otentik dan hanya dimiliki oleh kebudayaan Jawa. “Saya mencoba menulis Anatomi Rasa ini otentik Filsafat Jawa. Saya mencoba menghindari penggunaan Filsafat Barat dalam karya saya ini,” ujar Ayu Utami.

Dalam konteks filsafat Jawa, Ayu yang lahir di Bogor dan tumbuh besar di Jakarta, memaparkan bagaimana dirinya membelah rasa menjadi tiga bagian. Rasa Indrawi atau biasa dikenal dengan sensasi, Rasa Perasaan atau yang berhubungan dengan emosi, dan juga Rasa Batin yang kerap melingkupi rohani manusia.

Di novel Anatomi Rasa, kesejatian diri filsafat Jawa yang bagi awam seringkali sulit dipahami, disederhanakannya. Bahasanya dipermudah. Frasa dan diksi yang rumit, ditepis jauh jauh. Walhasil siapa saja bisa membaca dan memahami Filsafat Jawa tanpa khawatir terserang pening kepala.      

“Saya kira masih lebih mudah dipahami (Anatomi Rasa), ketimbang karya saya berjudul Bilangan Fu yang juga saya kemas filsafat dalam bentuk Novel,” ungkap penulis yang juga ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini.

Bagi Ayu Utami menulis novel yang sekedar menyampaikan ide seperti halnya menulis berita (media massa), tidak menggairahkannya. Apalagi mengacu hal fiktif. Dia menganalogikan hal itu sebagai kebohongan yang sia sia (Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Ayu Utami :hal 3).  

Karenanya, kesadaran Jawa dalam Anatomi Rasa dijaketinya dengan kisah Mahabarata. Lakon pewayangan Dewa Ruci yang berkisah bagaimana Bima memburu air kehidupan abadi (kesejatian diri), yakni dengan menyelam ke dasar laut dan bertemu Dewa Ruci, dibalurkan dalam kerangka Anatomi Rasa.

Kisah perjalanan putra kedua Pandu Dewanata mencari kesejatian hidup itu menyimpan ajaran kesadaran dan makna hidup. “Dalam Filsafat Jawa kita mengenal kesadaran memiliki wadah dan wiji,” ungkap Ayu.

Dalam wadah, kata Ayu terdapat dua dorongan yang melingkupi sifat-sifat manusia. Dorongan mengada dan dorongan untuk meniada. Begitu pula kesadaran pada wiji yang melingkupi dua dorongan yaitu dorongan kebenaran dan dorongan keindahan.

Kedua sumbu yang digambarkan X dan Y ini pun saling berkelindan sekaligus  bersifat kontra (berlawanan). Bagi Ayu Utami, jika Filsafat Jawa tentang  mekanisme Rasa ini bisa diterapkan dalam keseharian di Nusantara, maka bisa juga menjadi pendekatan strategis, mulai dari pendidikan hingga pemerintahan.

Wadah dan wiji ini membentuk sumbu X dan Y. Adapun di tengah-tengah irisan antara X dan Y itulah yang disebut Rasa Jati,” terang penulis yang aktif bergiat di komunitas Salihara dan Teater Utan Kayu.

Selain memperkenalkan karya barunya, Ayu Utami juga berbagi pengalaman menulis. Pada sesi pelatihan menulis kreatif itu Ayu menularkan strategi menulis dengan gaya khas penulisan novelnya yang biasa dikenal sebagai Spiritualisme Kritis.

Tidak hanya itu. Kepada para mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unibraw, istri pelopor streetphotography Erik Prasetya itu juga membagi trik gampang menulis kreatif. Salah satu trik yang diajarkan itu adalah cara menulis dengan pola pikir silang atau dia sebut dengan Sihir Kreativitas.

“Saya sebenarnya sangat senang mengajar menulis, di Jakarta saya juga memiliki banyak murid dalam menulis,” tutur Ayu Utami dengan ramah. (Moh.Fikri Zulfikar) 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.