READING

Virus Corona Lambungkan Harga Buah Asal Cina

Virus Corona Lambungkan Harga Buah Asal Cina

JOMBANG – Merebaknya virus  corona yang bermula di Wuhan Cina mulai berdampak di sektor ekonomi. Seperti yang dialami oleh para pedagang buah yang menggelar lapaknya di kawasan Stadion Merdeka Jombang. Buah asal Cina yang mereka pasarkan harganya melonjak setelah pemerintah pusat membuat kebijkan pembatasan kegiatan ekspor impor ke Cina. Buah impor asal Cina ini harganya melonjak hingga 100 persen.

Kenaikan ini terjadi pada buah anggur,  pir shandong,  klengkeng, jeruk ponkam dan apel fuji. Semua buah ini berasal dari negeri Cina yang biasa didatangkan oleh penyuplai. “Baru saja dapat kiriman harganya sudah naik di atas 50 persen,” keluh Siti Soimah, salah satu pedagang buah di pasar Stadion  Merdeka kepada Jatimplus.ID.

Kenaikan yang dimaksud seperti harga anggur yang biasanya Rp 145 ribu sekarang menjadi Rp 280 ribu perboks dengan berat isi sekitar 7 sampai 8 kg. Kemudian apel fuji dari harga Rp 250 ribu perboks sekarang menjadi Rp 340 ribu; klengkeng yang sebelumnya Rp 250 ribu naik menjadi Rp 320 ribu, dan jeruk  ponkam  dari harga sebelumnya Rp 150 ribu menjadi Rp 230 ribu.

Kenaikan harga ini terjadi sejak dua hari. Siti menuturkan, bahwa menurut pemasok buah kenaikan terjadi karena pengiriman buah dari Cina dihentikan akibat merebaknya virus dari Wuhan yang sudah menyebar ke sejumlah negara.”Katanya pengiriman dari Cina dihentikan jadi hanya menghabiskan sisa stok yang ada,” kata Siti.

Akibatnya, selain harganya mengalami kenaikan, kualitas buah juga menurun jika dibandingkan dengan sebelumnya. Para pedagang harus menyortir terlebih dahulu untuk mendapatkan buah layak konsumsi yang bisa dijual.

Keberadaan buah import seperti dari Cina selama ini memang membanjiri sejumlah pasar buah di kota santri. Tidak hanya di kawasan pasar buah stadion, di sejumlah kios lain juga banyak ditemukan buah produk Cina yang dijual.

Warga Beralih Ke Buah Lokal

Dewi Mahsunah, pedagang buah lainnya mengaku ada penurunan jumlah pembelian buah yang didatangkan dari Cina. Pasalnya, dengan naiknya harga tersebut membuat sebagian warga yang biasanya mengkonsumsi buah asal Cina beralih ke buah lokal. Hanya saja, stok untuk beberapa buah lokal memang tidak sebanyak buah impor. “Pembeli  mulai menurun karena kenaikan yang cukup tinggi,” ucap Dewi.

Selama ini keberadaan buah impor, termasuk dari Cina,  diakui memang membantu para pedagang untuk bisa melayani permintaan aneka macam buah.   Di kios milik Dewi Mahsunah ini tersedia buah klengkeng, pir,  anggur,  dan jeruk  yang didatangkan dari Cina.

Dirinya berharap agar pemerintah kembali menggiatkan produk buah lokal dengan skala luas dan berkelanjutan. Menurut pedagang, gerakan menghidupkan kembali  buah lokal selama ini dilakukan secara musiman saja. Misalnya seperti pada saat beredarnya buah dari luar yang berlapis lilin, warga dan pedagang diminta untuk memilih dan menjual buah lokal untuk menjamin keamanannya. Sayangnya, keberadaan buah lokal ini cenderung sulit didapat dan kalaupun ada harganya juga tidak semurah buah impor. 

Repoter: Lufi Syailendra
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.